Proyek Jalur Double-Double Track Bekasi-Cikarang Kembali Mengemuka

Proyek Jalur Double-Double Track Bekasi-Cikarang Kembali Mengemuka
Foto: Ilustrasi Proyek Jalur Double-Double Track Bekasi-Cikarang Kembali Mengemuka.

KOMPAS.com - Selama belasan tahun terkatung-katung dan tak jelas kapan selesainya, proyek pembangunan jalur double-double track (DDT) pada lintas Bekasi-Cikarang kembali mengemuka.

Desakan agar pemerintah menyelesaikan DDT Bekasi-Cikarang mencuat usai tragedi tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur yang memakan korban jiwa.

Saat ini, jalur DDT yang telah beroperasi baru mencakup segmen Jatinegara-Bekasi. Pada lintasan tersebut, jalur kereta api jarak jauh (KAJJ) dan KRL sudah dipisahkan sehingga mampu menekan risiko gangguan perjalanan dan kecelakaan kereta api.

Proyek DDT dirancang menghubungkan Stasiun Manggarai hingga Cikarang. Namun, pembangunan masih berlangsung di segmen Manggarai-Jatinegara, termasuk pengembangan Manggarai Ultimate yang kini kembali dilanjutkan. Sementara itu, segmen Bekasi-Cikarang belum mulai dikerjakan.

Proyek DDT Manggarai-Cikarang

Sebagai informasi, proyek DDT Manggarai-Cikarang sangat vital lantaran tingginya lalu lintas kereta di sepanjang jalur itu. Hal ini terjadi lantaran KAJJ bersinggungan dengan KRL.

Jika DDT Manggarai-Cikarang dioperasikan, petugas tidak perlu repot mengatur perpindahan jalur dan memicu keterlambatan perjalanan. Kecelakaan kereta juga bisa dihindari karena ada pemisahan jalur KRL dan KAJJ.

Dampak besar lainnya dari pengoperasi DDT Manggarai-Cikarang, jumlah perjalanan kereta KRL juga bisa ditingkatkan secara signifikan untuk menyelesaikan persoalan kepadatan penumpang di sepanjang jalur ini.

Mengutip arsip Kompas.com 14 Agustus 2021, Kementerian Perhubungan kala itu bahkan sempat menargetkan penyelesaian DDT Manggarai-Cikarang selesai pada 2021.

ÔÇ£Sebagai PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) pasti saya jawab optimis bisa Desember 2021,ÔÇØ ujar Andhika Mardjuni, yang menjabat PPK Pengembangan DDT Paket B Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Banten Kementerian Perhubungan.

Andhika mengakui bahwa pembangunan DDT segmen Manggarai ke Cikarang memang sempat terhambat. Sebab kala itu ada permasalahan uang konsinyasi di kawasan Stasiun Kranji yang belum disepakati warga.

Ia mengemukakan, proyek DDT Paket B dibangun dengan tiga tahap. Pertama, pembangunan sisi selatan, tahap kedua ketika DDT sudah beroperasi. Maka akan bergerak pembangunan ke arah utara. Lalu akan dibangun di sisi parkiran.

"Saya sudah sempat sosialisasi kepada Pemda, bahwa ada tiga tahap pembangunan. Pertama pembangunan sisi selatan, setelah beroperasi bergerak ke arah utara. Dan parkiran akan kita bangun terakhir itu tahun depan," kata dia.

Andhika saat itu bahkan mengaku tak ada kendala dalam pembiayaan proyek DDT segemen Bekasi-Cikarang ini. Sebab anggarannya menggunakan tahun jamak yakni sebesar Rp 620 miliar dari 2019 hingga 2021.

ÔÇ£(Pembiayaan) tidak ada kendala. Baik paket B maupun paket A sumber dananya dari SBSN (Surat Berharga Syariah Negara),ÔÇØ ucap dia.

Andhika mengatakan, pihaknya terus mengejar proses pembangunan DDT segmen Manggarai-Cikarang ini rampung tahun 2021.

Hapus Perlintasan Sebidang

Sementara itu, tata ruang di sepanjang jalur kereta menjadi sorotan, menyusul tragedi kecelakaan KKAJ dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur.

"Penataan ruang di sepanjang jalur kereta api harus diperkuat," kata Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno kepada Kompas.com.

Ungkap Djoko, aktivitas masyarakat yang tidak terkendali, akses tidak resmi, serta lemahnya penegakan tata ruang dapat menjadi sumber gangguan serius bagi operasional kereta.

"Diperlukan koordinasi lintas sektor untuk memastikan lingkungan jalur tetap aman dan sesuai peruntukannya," kata dia.

Pelintasan sebidang di koridor padat harus dihapus. Djoko menjelaskan, dengan frekuensi kereta yang tinggi, waktu penutupan pelintasan akan semakin panjang dan berpotensi menimbulkan antrean kendaraan.

"Dalam kondisi disiplin pengguna jalan yang masih rendah, risiko pelanggaran dan kecelakaan akan terus meningkat," kata Djoko.

Oleh karena itu, menurut Djoko, pembangunan pelintasan tidak sebidang seperti underpass dan overpass perlu menjadi prioritas berbasis risiko.

Selain itu, pemisahan jalur operasional harus menjadi prioritas. KRL dan KAJJ memiliki karakteristik yang berbeda secara fundamental.

Ungkap Djoko, penyelesaian proyek DDT Jakarta-Cikarang tidak hanya penting untuk meningkatkan kapasitas, tetapi juga keselamatan.

Dalam jangka menengah, konsep ini perlu diperluas seiring dengan pengembangan layanan KRL ke wilayah yang lebih jauh.

"Selama pemisahan belum sepenuhnya terwujud, pengaturan kecepatan dan jarak antar kereta harus memberikan margin keselamatan yang memadai. Konsekuensi kapasitas rel akan berkurang dan jadwal perjalanan kereta api perlu direvisi," kata Djoko.

Artikel terkait

Rekomendasi