Pembangunan Flyover Panorama I Sitinjau Lauik di Sumatera Barat mencatatkan progres fisik sebesar 16,4 persen hingga pekan ke-56 per 17 April 2026. Capaian ini ditandai dengan mulai terbentuknya struktur atas Jembatan 1 setelah tim konstruksi menyelesaikan pemasangan balok utama atau girder.
Dilansir dari Kompas, PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL) selaku Badan Usaha Pelaksana telah menyelesaikan struktur bawah yang meliputi pilar dan abutment. Pada Kamis (9/4), pemasangan girder di Jembatan 1 dilakukan sebagai bagian krusial dalam pembentukan kerangka jembatan penghubung tersebut.
Tahapan pekerjaan saat ini difokuskan pada persiapan pengecoran lantai jembatan yang diawali dengan pemasangan tulangan besi serta bekisting. Selain itu, pengecoran pada bagian penghubung antar girder terus dikebut dengan pengawasan ketat guna menjamin aspek keselamatan kerja dan kualitas bangunan.
Mengenai pengadaan lahan, terdapat kemajuan dalam pembebasan 31 bidang tanah yang menjadi target proyek. Sebanyak 12 bidang telah masuk tahap penawaran konsinyasi, dengan empat di antaranya telah tuntas melalui proses Pemutusan Hubungan Hukum (PHH) setelah adanya penetapan dari otoritas terkait.
Saat ini masih tersisa sekitar lima bidang lahan milik masyarakat dengan total luas 0,07 hektar yang sedang diproses. Dua bidang di antaranya telah didaftarkan ke Pengadilan Negeri Padang untuk prosedur konsinyasi, sementara tiga bidang lainnya sedang ditindaklanjuti oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumatera Barat.
Pihak HPSL memastikan bahwa seluruh rangkaian pembebasan lahan dijalankan oleh pemerintah dengan mengedepankan prinsip transparansi dan penghormatan terhadap nilai adat lokal. Direktur PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik, Michael A.P. Rumenser, menyatakan pihaknya terus menjalin sinergi dengan pemangku kepentingan untuk kelancaran proyek.
"Kami menghormati seluruh pendapat dan masukan dari masyarakat maupun stakeholder lainnya. HPSL berkomitmen menjalankan peran secara profesional serta mendukung penuh proses yang dilaksanakan pemerintah," ujar Michael A.P. Rumenser, Direktur PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik.
Proyek infrastruktur ini dirancang untuk mengatasi risiko kecelakaan tinggi pada tikungan ekstrem di jalur eksisting antara Kota Padang dan Solok. Keberadaan flyover ini diharapkan mampu memperlancar arus distribusi logistik dan memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera Barat melalui efisiensi waktu tempuh perjalanan.