Program DEB Keliki Bali: Solusi Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih Terbaru 2026

Program DEB Keliki Bali: Solusi Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih Terbaru 2026
Foto: Program DEB Keliki Bali: Solusi Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)

Pertamina terus memperluas jangkauan program pemberdayaan masyarakat di berbagai pelosok Indonesia melalui inisiatif Desa Energi Berdikari (DEB). Program inovatif ini fokus pada pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk menciptakan kemandirian ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Salah satu wujud nyatanya adalah DEB Keliki yang berlokasi di Kecamatan Tegalallang, Kabupaten Gianyar, Bali. Inisiatif ini hadir sebagai solusi konkret dalam menjawab tantangan pemenuhan energi masyarakat pedesaan melalui teknologi hijau yang ramah lingkungan.

DEB Keliki memfokuskan kegiatannya pada dua sektor utama, yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk kompos serta penguatan ketahanan pangan. Keduanya dijalankan dengan sistem pertanian organik yang didukung penuh oleh infrastruktur energi bersih berbasis tenaga surya.

Penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di desa ini menjadi jantung penggerak utama bagi operasional mesin pengolah sampah. Selain itu, energi surya tersebut dimanfaatkan untuk menggerakkan pompa air guna memastikan kelancaran irigasi lahan persawahan warga.

Pada Kamis, 28 Mei 2026, jajaran Dewan Komisaris Pertamina meninjau langsung perkembangan program ini untuk melihat dampak nyata bagi warga setempat. Mereka berdialog dengan para penerima manfaat yang kini telah merasakan kemudahan dalam mengelola potensi desa secara mandiri.

I Wayan Sumada, selaku Ketua BUMDES Yowana Bakti Keliki sekaligus tokoh penggerak lokal, membagikan kisah sukses transformasi desanya berkat dukungan Pertamina. Menurutnya, pendampingan dan penyediaan fasilitas dari perusahaan sangat membantu dalam menangani persoalan limbah di wilayah tersebut.

Fakta mengenai volume sampah dan peran fasilitas pengolahan di Desa Keliki:

  • Desa Keliki menghasilkan rata-rata sekitar 7 ton sampah setiap harinya dari aktivitas warga.
  • Kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu - Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) menjadi solusi vital dalam mengelola produktivitas limbah yang tinggi tersebut.

Implementasi fasilitas pengolahan sampah ini memberikan dampak yang sangat luas bagi warga, terutama dalam menciptakan lingkungan desa yang jauh lebih bersih dan tertata. Masyarakat kini memiliki wadah yang tepat untuk menyalurkan sampah rumah tangga mereka agar tidak mencemari lahan pertanian.

Dukungan teknologi energi surya pada sektor pengolahan sampah ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 10,5 kWp (Kilowatt Peak). Sistem ini mampu memproduksi energi listrik hingga 14.256 kWh setiap tahunnya secara mandiri.

Pemanfaatan PLTS tersebut membawa keuntungan ganda, yakni penghematan biaya listrik mencapai Rp21 juta per tahun. Selain itu, program ini berhasil menekan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) hingga 13,7 ton CO2eq per tahunnya.

Manfaat ekonomi dan lingkungan dari penerapan PLTS di Desa Keliki:

Indikator Dampak Sektor Pengolahan Sampah Sektor Irigasi Sawah
Kapasitas Terpasang 10,5 kWp 17,5 kWp
Produksi Energi per Tahun 14.256 kWh 84.000 kWh
Penghematan Biaya Listrik Rp21 Juta Rp35 Juta
Reduksi Emisi GRK 13,7 ton CO2eq 23,1 ton CO2eq

Data di atas menunjukkan bahwa integrasi energi terbarukan mampu memberikan efisiensi biaya yang signifikan bagi operasional desa. Selain nilai ekonomis, kontribusi terhadap pengurangan jejak karbon menjadi bukti nyata dukungan desa terhadap target net zero emission.

I Wayan Sumada juga mengungkapkan bahwa intervensi Pertamina secara perlahan telah mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat. Warga desa kini semakin disiplin dalam melakukan pemilahan sampah mulai dari skala rumah tangga.

Masyarakat sudah mulai memisahkan jenis sampah menjadi kategori organik, anorganik, hingga sampah residu sebelum dikirim ke tempat pengolahan. Kesadaran lingkungan yang tinggi ini menjadi kunci keberhasilan kerja sama antara pihak desa dan Pertamina.

Langkah ini memastikan sampah dikelola dengan baik untuk dikembalikan kembali ke alam dalam bentuk yang lebih bermanfaat. Dengan demikian, sirkulasi ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan secara beriringan tanpa saling merugikan.

Sektor pertanian di Desa Keliki juga mengalami kemajuan pesat berkat instalasi PLTS berkapasitas 17,5 kWp untuk sistem pengairan. Listrik yang dihasilkan digunakan untuk mengoperasikan pompa air tanah bertenaga surya guna menjaga ketersediaan air lahan sawah.

Teknologi ini sangat membantu petani saat musim kemarau panjang, terutama bagi tujuh wilayah Subak di sekitarnya. Wilayah tersebut meliputi Subak Tain Kambing, Sebali, Uma Desa Keliki, Jungut, Umelikode, Bangkiangsidem, dan Lauh Batu.

Fasilitas irigasi bertenaga surya ini mencatatkan produksi energi sebesar 84.000 kWh per tahun yang berdampak pada penghematan biaya operasional sebesar Rp35 juta. Secara lingkungan, penggunaan energi bersih ini mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 23,1 ton CO2eq setiap tahunnya.

Penerapan sistem pertanian organik yang dibarengi dengan kepastian irigasi telah meningkatkan produktivitas panen padi secara drastis. Hasil panen yang sebelumnya hanya berkisar 5 hingga 5,5 ton per hektare kini melonjak hingga mencapai 8,7 ton per hektare.

Keberhasilan ini menarik perhatian Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani, yang merasa bangga atas pencapaian DEB Keliki. Ia menilai program ini memberikan dampak positif yang sangat nyata baik bagi lingkungan maupun kesejahteraan ekonomi warga.

Sondaryani menegaskan bahwa DEB Keliki merupakan bukti komitmen kuat Pertamina dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Ia berharap model kesuksesan seperti ini bisa terus direplikasi di wilayah lain.

Pencapaian ekosistem DEB Keliki dalam angka dan keterlibatan masyarakat:

  • Sebanyak 1.200 Kepala Keluarga (KK) telah merasakan manfaat langsung dari program Eco Village dan Agrikultur ini.
  • Program ini menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 9 orang dan melibatkan kolaborasi dengan 15 UMKM yang dikelola pemuda desa.
  • Produk yang dihasilkan meliputi pupuk organik kualitas tinggi, cairan serbaguna ecoenzyme, serta kompos organik dari hasil olahan limbah.

Keberhasilan pengelolaan desa berbasis energi bersih ini tidak hanya membawa kemandirian, tetapi juga mendatangkan potensi pariwisata baru. DEB Keliki kini menjadi destinasi edukasi yang sering dikunjungi oleh berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dan turis asing.

Tercatat setidaknya ada sekitar 6.000 tamu yang telah berkunjung untuk melihat langsung integrasi antara keindahan persawahan dengan teknologi energi terbarukan. Para pengunjung dapat belajar cara mengolah sampah sekaligus menikmati kuliner di kedai-kedai milik warga lokal.

Interaksi wisatawan ini secara tidak langsung turut menggerakkan geliat ekonomi lokal di Desa Keliki melalui sektor jasa dan perdagangan. Dengan demikian, DEB Keliki telah berhasil bertransformasi menjadi sebuah ekosistem percontohan yang tangguh, mandiri, dan berwawasan lingkungan.

Artikel terkait

Rekomendasi