Prediksi mengenai masa depan alam semesta kini bergeser secara drastis setelah munculnya temuan ilmiah terbaru. Para peneliti kini memperkirakan bahwa alam semesta mungkin hanya akan bertahan selama 33 miliar tahun lagi sebelum akhirnya mengalami kehancuran total.
Angka ini jauh lebih pendek dibandingkan asumsi lama yang meyakini kosmos akan terus ada hingga triliunan tahun ke depan. Fenomena berakhirnya alam semesta ini dikenal dengan istilah Big Crunch atau Pengerutan Besar, di mana proses ekspansi yang terjadi saat ini akan berbalik arah.
Dilansir dari Detik iNET, skenario mengejutkan ini kembali terbuka meski teori Big Crunch sebelumnya sempat dikesampingkan karena adanya perluasan kosmik yang kian cepat. Seluruh materi dan ruang waktu diprediksi akan runtuh kembali menjadi keadaan yang sangat padat, menyerupai kondisi saat peristiwa Big Bang terjadi.
Penemuan ini merupakan hasil dari upaya pemetaan kosmos yang difokuskan pada energi gelap (dark energy). Energi gelap merupakan kekuatan misterius yang selama ini diketahui mendorong alam semesta untuk terus meluas dengan laju yang semakin kencang.
Data terbaru dari Dark Energy Survey (DES) serta Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI) telah memetakan ratusan juta galaksi guna menyelidiki pola perluasan tersebut. Instrumen canggih ini menunjukkan tingkat keyakinan tinggi bahwa perluasan alam semesta bukanlah angka yang statis.
Pengaruh energi tersebut tampak mengalami perubahan seiring berjalannya waktu, yang membuka peluang bagi alam semesta untuk kembali menyatu di masa depan yang sangat jauh. Melalui model simulasi, para peneliti berhasil menghitung titik waktu kehancuran kosmik tersebut secara spesifik pada angka 33,3 miliar tahun dari sekarang.
Kondisi ini sangat kontras dengan keyakinan selama dua dekade terakhir yang menganggap alam semesta adalah jalan raya abadi yang akan terus membentang. Alih-alih meluas selamanya, alam semesta justru diprediksi akan melakukan putar balik menuju titik awal perjalanannya.
"Selama 20 tahun terakhir, orang-orang percaya bahwa konstanta kosmologis bernilai positif dan alam semesta akan mengembang selamanya. Data terbaru tampaknya menunjukkan konstanta kosmologis bernilai negatif dan bahwa alam semesta akan berakhir dalam Big Crunch," kata Henry Tye, Profesor Emeritus Fisika di College of Arts and Sciences, Cornell University.
Meski bukti yang disajikan cukup meyakinkan, para ilmuwan menekankan bahwa ini merupakan ranah penemuan baru yang masih menyisakan berbagai pertanyaan. Diperlukan lebih banyak data tambahan untuk menguji kebenaran model tersebut secara ketat mengingat rumitnya entitas kosmos yang terus berevolusi.