Sepasang lubang hitam supermasif yang terletak 500 juta tahun cahaya dari Bumi diprediksi akan bertabrakan dalam kurun waktu 100 tahun mendatang. Penemuan yang dipublikasikan pada Sabtu (18/4/2026) ini menunjukkan adanya potensi guncangan gelombang gravitasi dahsyat yang dapat menjangkau seluruh penjuru alam semesta.
Analisis terhadap objek luar angkasa tersebut telah dipublikasikan secara resmi pada 27 Maret 2026 melalui jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. Fenomena langka ini terdeteksi di galaksi Markarian 501, yang sebelumnya diklasifikasikan oleh para peneliti sebagai objek blazar atau inti galaksi aktif yang sangat terang.
Astronom dari Institut Max-Planck untuk Astronomi Radio, Silke Britzen, menjelaskan bahwa proses penggabungan ini akan menyisakan satu lubang hitam tunggal setelah interaksi selesai. Penelitian ini melibatkan pengamatan mendalam terhadap perilaku objek ekstrem tersebut selama beberapa dekade terakhir, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
"Kami memperkirakan satu lubang hitam (yang bergabung) akan tetap ada. Saya sangat ingin mengamati bagaimana 'tarian' ini akan berlanjut," kata Silke Britzen, astronom di Institut Max-Planck untuk Astronomi Radio.
Tim peneliti berhasil mengungkap struktur internal blazar ini setelah menganalisis lebih dari 83 kumpulan data dari Very Long Baseline Array. Jaringan internasional yang terdiri dari 10 teleskop radio tersebut membantu ilmuwan memetakan pergerakan materi di pusat galaksi yang sangat masif.
Data tersebut menunjukkan keberadaan pancaran jet kedua yang bergerak melingkar berlawanan arah jarum jam di sekitar pusat objek. Temuan ini mengonfirmasi bahwa terdapat dua lubang hitam supermasif dengan massa masing-masing mencapai 100 juta hingga satu miliar kali massa matahari.
"Menyadari bahwa ada pancaran jet kedua sungguh luar biasa. Bagi saya, rasanya seperti: begitulah cara kerjanya? Saya sangat kagum dan terharu - dan ingin memberi tahu semua orang tentang apa yang baru saja kami temukan," kata Britzen.
Tabrakan kedua raksasa ruang angkasa ini diyakini akan melepaskan energi gravitasi yang jauh lebih besar dibandingkan peristiwa penggabungan lubang hitam yang pernah tercatat sebelumnya. Para ilmuwan optimistis detektor gelombang gravitasi di Bumi akan mampu menangkap sinyal tersebut untuk mempelajari sifat asli dari pasangan lubang hitam tersebut.