Pelanggan 5G Global Diprediksi Tembus 6,4 Miliar pada 2032

Pelanggan 5G Global Diprediksi Tembus 6,4 Miliar pada 2032
Foto: Ilustrasi Pelanggan 5G Global Diprediksi Tembus 6,4 Miliar pada 2032.

Adopsi teknologi 5G di seluruh dunia diproyeksikan mengalami pertumbuhan yang sangat masif dalam sepuluh tahun ke depan. Laporan terbaru dari Ericsson Mobility Report mengungkapkan bahwa jumlah pengguna 5G secara global akan mencapai 2,9 miliar pada penutupan tahun 2025.

Pertumbuhan ini diperkirakan akan terus meroket hingga menyentuh angka 6,4 miliar pelanggan pada tahun 2032. Mayoritas dari total pelanggan tersebut merupakan pengguna perangkat seluler yang mendominasi pasar digital secara luas.

Peningkatan jumlah pengguna ini juga berdampak langsung pada beban jaringan. Trafik data seluler diprediksi bakal membengkak lebih dari dua kali lipat dalam periode yang sama, di mana Indonesia juga berpotensi mengalami lonjakan trafik serupa akibat adopsi teknologi 5G.

Menanggapi proyeksi besar tersebut, President Director Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menjelaskan bahwa peran 5G sangat krusial bagi kemajuan ekonomi nasional. Teknologi ini dipandang sebagai infrastruktur vital untuk mempercepat transformasi digital di tanah air.

Dikutip dari Teknologi, jaringan 5G menawarkan keunggulan berupa kecepatan tinggi, keandalan koneksi, serta latensi yang sangat rendah bagi para penggunanya. Nora menekankan bahwa teknologi ini menjadi fondasi bagi berbagai aplikasi digital masa depan.

ÔÇ£5G telah menjadi infrastruktur nasional yang krusial. Teknologi ini akan mempercepat transformasi digital Indonesia untuk mendukung aplikasi digital canggih serta teknologi baru di berbagai sektor industri,ÔÇØ ujar Nora, dikutip Rabu (6/5/2026).

Nora menambahkan bahwa jaringan seluler kini telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas harian masyarakat. Sektor ini memegang peran sentral dalam mendorong kemajuan ekonomi, khususnya untuk mendukung layanan-layanan yang bersifat vital.

Kebutuhan Ekosistem dan Spektrum Frekuensi

Indonesia memerlukan jaringan 5G yang aman, tangguh, serta memiliki kinerja tinggi untuk mengembangkan berbagai skenario penggunaan baru. Langkah ini sangat penting guna memastikan pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan di masa depan.

Percepatan pembangunan infrastruktur digital kini menjadi agenda yang mendesak. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan layanan digital dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang memerlukan dukungan koneksi internet cepat.

Realisasi infrastruktur tersebut membutuhkan dukungan ekosistem yang kondusif. Faktor-faktor penentu mencakup kepastian regulasi dari pemerintah, ketersediaan spektrum frekuensi yang mencukupi, serta terciptanya iklim investasi yang sehat bagi para pelaku industri.

Saat ini, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah memproses pelelangan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Inisiatif ini diharapkan menjadi penggerak utama agar penggelaran jaringan 5G dapat dilakukan secara lebih merata ke seluruh wilayah.

Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, menuturkan bahwa adopsi AI dan 5G di dalam negeri memang masih pada tahap awal jika dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara. Meski demikian, peluang besar tetap terbuka lebar melalui kebijakan spektrum yang tepat.

ÔÇ£Keputusan yang diambil hari ini, terutama dalam membangun dan mengelola jaringan, akan menentukan seberapa cepat Indonesia dapat mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,ÔÇØ kata Ronni.

Artikel terkait

Rekomendasi