Ikan sapu-sapu yang bersifat invasif ternyata memiliki musuh alami untuk mengendalikan populasinya secara biologis. Dilansir dari Detik iNET, ikan yang berasal dari wilayah Amazon dan Amerika Selatan ini menyebar secara global melalui perdagangan ikan hias sejak era 1980-an.
Masalah lingkungan mulai muncul saat pemilik akuarium membuang ikan ini ke sungai karena ukurannya yang tumbuh terlalu besar. Di luar habitat aslinya, ikan sapu-sapu minim pemangsa sehingga populasinya melonjak tajam dan merusak ekosistem lokal.
Pakar ikan Noah Bressman dari Salisbury University menjelaskan bahwa spesies ini mampu bertahan hidup di perairan kotor. Ikan sapu-sapu mengonsumsi alga yang seharusnya menjadi sumber makanan bagi hewan air lainnya di sungai berair hangat.
Pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr Charles PH Simanjuntak, mengungkapkan sejumlah hewan pemangsa spesies ini. Di habitat aslinya, populasi mereka terjaga oleh kehadiran predator spesifik.
Di Sungai Amazon, pemangsa alami ikan sapu-sapu meliputi ikan Common Snook (Centropomus undecimalis) dan ikan Tarpon (Megalops atlanticus). Selain itu, terdapat predator dari jenis reptil dan burung seperti buaya Spectacled Caiman serta burung Neotropic Cormorant.
"Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan," ujar Charles pada Jumat (24/4/2026).
Pemanfaatan Ikan Lokal sebagai Kontrol Biologis
Meskipun predator asli Amazon tidak ditemukan di Indonesia, beberapa ikan lokal diketahui mulai memangsa sapu-sapu. Charles menyebutkan bahwa ikan baung dan ikan betutu kini menjadi pemburu lokal bagi spesies invasif tersebut.
"Dari sisi kontrol biologis, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dapat membantu mengendalikan populasi, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu berukuran 0,6-1,0 cm," kata Charles.
Kehadiran predator lokal ini diharapkan mampu menekan pertumbuhan jumlah ikan sapu-sapu di perairan Tanah Air. Masyarakat juga dihimbau untuk tidak membuang ikan sapu-sapu peliharaan ke aliran sungai secara sembarangan.
Langkah pencegahan yang disarankan jika ingin membuang ikan ini adalah dengan mematikan atau menguburnya. Metode tersebut telah diterapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta guna menjaga kelestarian ekosistem sungai dari ancaman spesies asing.