Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Prancis dengan agenda utama memperkuat hubungan bilateral antara kedua negara. Kunjungan ini difokuskan pada penguatan kerja sama strategis di berbagai sektor krusial bagi kemajuan nasional.
Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, M. Qodari, menjelaskan bahwa fokus kemitraan ini mencakup bidang pertahanan, pendidikan, energi, serta pengelolaan sumber daya mineral. Lawatan tersebut juga merupakan bentuk kunjungan balasan atas kehadiran Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada tahun sebelumnya.
Qodari menegaskan bahwa pertemuan ini menjadi momen penting untuk menindaklanjuti berbagai inisiatif kerja sama yang telah dirancang sebelumnya. Melalui langkah ini, Indonesia dan Prancis berupaya mempererat ikatan diplomatik yang sudah terjalin kuat.
Fokus Utama pada Sektor Pertahanan dan Alutsista
Salah satu poin mendesak dalam agenda Presiden Prabowo adalah penguatan di sektor pertahanan, sebagaimana telah disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono. Indonesia menargetkan adanya transfer teknologi untuk mendukung kemandirian militer nasional.
Target utama dalam kerja sama ketahanan ini berkaitan erat dengan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang telah diterima Indonesia dari Prancis. Qodari menyatakan bahwa penguasaan teknologi sangat diperlukan agar alutsista tersebut dapat dikelola secara optimal oleh personel dalam negeri.
“Pak Sugiono telah menyampaikan bahwa target pertama adalah kerja sama di bidang ketahanan. Karena Indonesia sudah menerima alutsista dari Prancis, maka diperlukan transfer teknologi untuk penguasaan alutsista tersebut,” ujar Qodari dalam konferensi pers di Wisma Danantara.
Selain alutsista, sektor pendidikan juga menjadi perhatian serius dalam kunjungan ini, terutama pada pengembangan disiplin ilmu STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Peningkatan kualitas pendidikan ini dipandang sebagai instrumen vital guna mendorong proses transfer teknologi yang dibutuhkan Indonesia.
Kedua negara juga mengeksplorasi peluang kolaborasi di bidang energi serta pemanfaatan mineral strategis. Sinergi ini diharapkan mampu menyokong pertumbuhan industri nasional sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di tanah air.
Kedekatan Personal Pemimpin Negara
Qodari menyoroti bahwa hubungan diplomatik Indonesia dan Prancis memiliki keunggulan tersendiri berkat kedekatan personal antara Presiden Prabowo dan Presiden Macron. Hubungan informal ini diyakini mampu menjadi katalisator bagi kesepakatan formal yang lebih efektif.
“Selain urusan formal, kita bisa melihat adanya hubungan personal yang sangat kuat di antara kedua kepala negara. Modal sosial semacam ini tidak kalah penting dibandingkan modal ekonomi maupun politik,” ungkap Qodari menjelaskan signifikansi hubungan tersebut.
Menurutnya, kecocokan pribadi antara para pemimpin dunia sering kali menjadi kunci dalam mempercepat eksekusi kerja sama strategis yang rumit. Hal ini memberikan nilai tambah bagi posisi tawar Indonesia di kancah internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Qodari meluruskan informasi mengenai jadwal perjalanan Presiden Prabowo. Ia menegaskan bahwa agenda resmi kepresidenan sejak awal hanya ditujukan untuk Prancis, membantah spekulasi mengenai kunjungan ke negara lain seperti Italia.
Pembentukan Dewan Bisnis Tingkat Tinggi
Sejalan dengan kunjungan tersebut, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyambut hangat peluncuran France–Indonesia High Level Business Council. Forum ini dirancang untuk mempercepat realisasi investasi dan volume perdagangan kedua belah pihak.
Peluncuran dewan bisnis ini dilakukan pada 28 Mei 2026 di hadapan langsung kedua kepala negara. Inisiatif ini menandai babak baru dalam kemitraan ekonomi yang lebih konkret antara Jakarta dan Paris.
Pernyataan Menteri Investasi mengenai tujuan forum bisnis :
- Menjadi wadah dialog resmi antara pelaku usaha papan atas dari kedua negara.
- Berperan sebagai mesin penggerak utama untuk mendorong arus investasi asing.
- Meningkatkan volume perdagangan bilateral secara signifikan.
- Menciptakan kerja sama strategis yang memberikan manfaat ekonomi nyata.
Rosan menjelaskan bahwa forum ini bukan sekadar seremonial, melainkan instrumen untuk memastikan setiap peluang bisnis dapat diwujudkan. Melalui wadah ini, hambatan investasi diharapkan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan transparan.
Capaian Kesepakatan Ekonomi dan Investasi
Forum bisnis tersebut melibatkan sekitar 30 pimpinan perusahaan raksasa dari Indonesia dan Prancis. Jika digabungkan, total kapitalisasi pasar dari perusahaan-perusahaan yang terlibat mencapai angka fantastis sebesar US$ 1,3 triliun atau sekitar Rp 23.171 triliun.
Dewan bisnis ini dipimpin secara kolektif oleh Antoine de Saint-Affrique selaku CEO Danone dan Anindya Bakrie yang menjabat sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia. Kehadiran para tokoh bisnis ini mempertegas keseriusan sektor swasta dalam mendukung diplomasi pemerintah.
Berikut adalah ringkasan data ekonomi dan kesepakatan yang dihasilkan :
| Kategori Data | Nilai / Detail Informasi |
|---|---|
| Jumlah Perusahaan Terlibat | 30 Pimpinan Industri Terkemuka |
| Kapitalisasi Pasar Gabungan | US$ 1,3 Triliun (Rp 23.171 Triliun) |
| Nilai Kesepakatan Baru | US$ 3,5 Miliar (Rp 62,38 Triliun) |
| Sektor Fokus Utama | Energi, Perdagangan, dan Pertahanan |
| Target Perdagangan 2035 | Meningkat 3 kali lipat dari saat ini |
Data di atas menunjukkan betapa besarnya potensi ekonomi yang sedang digarap oleh pemerintah Indonesia melalui kunjungan ini. Kesepakatan senilai Rp 62,38 triliun tersebut menjadi bukti kepercayaan investor Prancis terhadap iklim usaha di Indonesia.
Realisasi Investasi dan Target Masa Depan
Rosan menambahkan bahwa dewan bisnis memiliki tanggung jawab besar untuk mengawal implementasi nota kesepahaman (MoU) yang telah ada. Pada kunjungan Macron ke Indonesia tahun 2025, telah disepakati 27 MoU dengan nilai menembus angka USD 11 miliar.
Tantangan utama saat ini adalah memastikan seluruh komitmen tersebut benar-benar terealisasi di lapangan. Oleh karena itu, forum ini akan aktif mengidentifikasi serta mencari solusi atas segala kendala teknis maupun regulasi yang mungkin muncul.
“Kepercayaan dunia usaha Prancis terus meningkat karena Indonesia dipandang sebagai mitra strategis dengan prospek pertumbuhan jangka panjang. Iklim investasi kita saat ini dinilai semakin kompetitif di mata global,” kata Rosan optimis.
Target ambisius juga telah ditetapkan, yakni meningkatkan total nilai perdagangan hingga tiga kali lipat pada tahun 2035 mendatang. Kadin Indonesia dan MEDEF International akan terus bekerja sama memperkuat koridor ekonomi bilateral guna membuka lapangan kerja baru.
Kolaborasi yang solid antara pemerintah dan pelaku usaha diyakini menjadi kunci pertumbuhan yang berkelanjutan. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing kedua negara dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.