Piala Dunia 2026: Okupansi Hotel di Kota Penyelenggara Masih Rendah, Ada Apa?

Piala Dunia 2026: Okupansi Hotel di Kota Penyelenggara Masih Rendah, Ada Apa?
Foto: Piala Dunia 2026: Okupansi Hotel di Kota Penyelenggara Masih Rendah, Ada Apa?. (Illustration by Pexels)

Menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 yang tinggal menghitung minggu, tingkat keterisian hotel di berbagai kota penyelenggara ternyata masih sepi peminat. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa pelaku industri perhotelan terlalu percaya diri dalam memprediksi lonjakan tamu selama turnamen berlangsung.

Pesta bola kali ini sebenarnya menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah karena melibatkan 48 tim nasional dan 104 pertandingan. Laga-laga tersebut tersebar di tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Data Pemesanan Hotel yang Menurun

Berdasarkan data dari CoStar, angka pemesanan hotel di sejumlah kota besar justru menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Hal ini menjadi sinyal kurang baik bagi industri pariwisata di negara-negara tuan rumah.

Sebagai contoh, Vancouver mencatat tingkat hunian hotel hanya di angka 39 persen pada tanggal pertandingan berlangsung. Angka ini merosot tajam jika dibandingkan dengan tingkat okupansi tahun lalu yang mencapai 53 persen.

Kondisi serupa terjadi di Boston, di mana tingkat pemesanan hotel saat ini hanya berkisar di angka 32 persen. Padahal, pada periode waktu yang sama di tahun sebelumnya, tingkat keterisian kamar di kota tersebut mampu menyentuh 44 persen.

Berikut adalah ringkasan perbandingan tingkat okupansi hotel di beberapa kota tuan rumah utama:

Kota Penyelenggara Okupansi Saat Ini Okupansi Tahun Lalu
Vancouver 39% 53%
Boston 32% 44%
New York/New Jersey 31% 43%

Data di atas menunjukkan adanya tren penurunan minat menginap yang cukup signifikan di tengah euforia menyambut kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia. Bahkan laga besar seperti Brasil melawan Maroko di New Jersey pun belum mampu mendongkrak pesanan kamar secara drastis.

Faktor Penyebab Rendahnya Okupansi

Survei dari American Hotel & Lodging Association mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen pelaku industri merasa pemesanan kamar masih jauh di bawah target awal. Fenomena ini dipicu oleh berbagai kendala teknis dan kondisi global yang tidak menentu.

Beberapa alasan utama yang diidentifikasi meliputi masalah pengurusan visa yang rumit serta situasi geopolitik dunia yang memanas. Selain itu, adanya pembatalan blok kamar dalam jumlah besar oleh pihak FIFA turut memperburuk situasi bagi pemilik hotel.

Jan Freitag selaku Direktur Nasional Analitik Perhotelan CoStar memberikan pandangannya mengenai situasi ini. Ia memperkirakan bahwa lonjakan tamu hotel kemungkinan besar baru akan terlihat ketika turnamen memasuki fase gugur pada bulan Juli nanti.

Ia menilai daya tarik pertandingan di babak penyisihan grup mungkin tidak sebesar yang diharapkan oleh para penyedia jasa akomodasi. Akibatnya, banyak kamar hotel yang masih tersedia karena suporter belum memutuskan untuk berangkat lebih awal.

Dampak Inflasi dan Harga Tiket yang Melambung

Selain masalah akomodasi, biaya perjalanan yang membengkak juga menjadi penghalang serius bagi para suporter. Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik global telah menyebabkan harga tiket pesawat melambung tinggi secara signifikan.

Situasi ini diperparah dengan inflasi global yang membuat suporter harus berpikir dua kali untuk mengalokasikan anggaran mereka. Banyak penggemar sepak bola yang akhirnya memilih untuk tidak menonton langsung demi menghemat biaya pengeluaran.

Harga tiket pertandingan itu sendiri tidak luput dari kritik karena dinilai terlalu mahal bagi masyarakat umum. Bahkan Presiden AS, Donald Trump, sempat mengeluhkan harga tiket laga pembuka antara AS dan Paraguay di Los Angeles yang mencapai USD 1.000 atau sekitar Rp 17 juta.

Meskipun mendapat banyak kritik, Presiden FIFA Gianni Infantino tetap membela kebijakan harga tiket yang diterapkan. Ia bahkan berkelakar siap memberikan layanan ekstra bagi mereka yang bersedia membayar tiket final dengan harga fantastis hingga jutaan dolar.

Para pengamat ekonomi mengingatkan bahwa sistem harga dinamis (dynamic pricing) berisiko membatasi akses bagi suporter kelas menengah ke bawah. Meski demikian, FIFA mengeklaim bahwa saat ini sudah lebih dari 5 juta tiket yang berhasil terjual ke seluruh dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi