Pesona Pulau Tabuhan Banyuwangi, Destinasi Terbaru dengan Bonus Off-road Seru di Selat Bali 2026

Pesona Pulau Tabuhan Banyuwangi, Destinasi Terbaru dengan Bonus Off-road Seru di Selat Bali 2026
Foto: Pesona Pulau Tabuhan Banyuwangi, Destinasi Terbaru dengan Bonus Off-road Seru di Selat Bali 2026. (Illustration by Pexels)

Dari kejauhan, Pulau Tabuhan tampak seperti sebidang pasir putih yang mengapung anggun di tengah Selat Bali. Keindahan lautnya memanjakan mata dengan gradasi warna yang memukau, mulai dari biru tua hingga hijau toska yang jernih.

Pemandangan ini semakin sempurna dengan latar belakang kemegahan Gunung Raung yang berdiri tegak. Di sampingnya, Gunung Ijen dan Gunung Ranti seolah menjadi penjaga setia bagi kawasan pesisir utara Banyuwangi.

Perjalanan kami dimulai pada Jumat pagi dari kawasan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo. Kami menyewa sebuah perahu berkapasitas 10 orang dengan biaya Rp 850 ribu untuk menyeberang ke pulau seluas 5,3 hektare tersebut.

Badrul Shamsi, seorang pemandu wisata berpengalaman, menjelaskan bahwa waktu tempuh biasanya hanya 15 menit jika kondisi laut sedang tenang. Namun, hari itu perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit karena arus laut yang cukup kuat.

Begitu mesin perahu mulai menderu, Dermaga Bangsring perlahan terlihat semakin mengecil di kejauhan. Angin laut dan cipratan air yang segar menyambut wajah kami di sepanjang lintasan Selat Bali.

Hanya berselang lima menit sejak keberangkatan, suasana di atas perahu mulai terasa sangat meriah. Dua rekan perjalanan kami, Audrey dan Gigi, memilih posisi duduk yang cukup menantang di ujung depan perahu.

Dari titik tersebut, mereka bisa menikmati sudut pandang terbaik yang mempertemukan birunya laut dengan deretan pegunungan yang menjulang. Momen ini mengingatkan saya pada salah satu adegan ikonik dalam film legendaris Titanic.

Upaya mereka untuk melakukan swafoto sambil menirukan gaya Jack dan Rose ternyata tidaklah mudah karena goyangan ombak. Connie kemudian turun tangan menjadi pengarah gaya agar posisi mereka terlihat sempurna di kamera.

Ia menyarankan mereka untuk tidak melihat ke arah lensa dan fokus memandang keindahan gunung di kejauhan. Sesi pemotretan di tengah deru mesin itu pun menghasilkan foto-foto eksotis yang sangat estetik.

Pulau Tabuhan sendiri dikelilingi oleh garis pantai berpasir putih yang cukup landai. Kejernihan airnya memungkinkan siapa saja melihat dasar laut yang dangkal secara langsung dari atas permukaan air.

Perubahan warna laut dari biru pekat menjadi hijau toska terjadi begitu cepat hanya dalam jarak beberapa meter dari pantai. Tak heran, para wisatawan biasanya langsung berlari menuju air sesaat setelah menginjakkan kaki di pulau.

Kawasan perairan ini memang terkenal sebagai surga bagi para pecinta olahraga air karena kekayaan terumbu karang dan ikan hiasnya. Aktivitas seperti snorkeling dan diving menjadi agenda wajib bagi setiap pengunjung yang datang.

Menurut keterangan Shamsi, waktu paling ideal untuk mengeksplorasi keindahan bawah laut adalah saat matahari baru saja terbit. Biasanya, para pelancong berangkat setelah subuh, tepat pukul lima pagi, untuk mengejar momen matahari terbit.

Pada jam-jam tersebut, arus laut cenderung lebih stabil dan tenang sehingga jarak pandang di bawah air menjadi jauh lebih jernih. Kondisi ini akan berubah menjadi lebih menantang saat hari sudah beranjak siang.

Selain menyelam, pengunjung juga bisa mencoba berbagai fasilitas olahraga air yang tersedia di pulau ini. Salah satu yang paling banyak diminati adalah jetski, meski jumlah unitnya masih terbatas.

Daftar Biaya Aktivitas di Pulau Tabuhan:
  • Sewa Perahu Penyeberangan: Rp 850.000 per perahu untuk kapasitas 10 orang.
  • Sewa Alat Padel: Rp 50.000 untuk durasi penggunaan selama 30 menit.
  • Sewa Jetski: Rp 350.000 untuk durasi bermain selama 15 menit.
  • Jasa Dokumentasi Drone: Rp 250.000 untuk durasi terbang 20 menit (file mentah).

Harga-harga di atas merupakan tarif umum yang berlaku bagi wisatawan yang ingin menikmati berbagai fasilitas di Pulau Tabuhan. Karena unit jetski terbatas, wisatawan sering kali harus bersabar dalam antrean yang cukup panjang.

Karena enggan menunggu lama untuk bermain jetski, beberapa rekan kami memilih untuk menyewa papan padel. Mereka tampak sangat menikmati waktu bermain di perairan dangkal sambil sesekali tertawa saat papan bergoyang tertiup angin.

Kami sebenarnya sempat mencoba menerbangkan drone pribadi untuk merekam keseruan aktivitas teman-teman dari ketinggian. Namun, kencangnya embusan angin di Selat Bali siang itu memaksa kami untuk segera membatalkan rencana tersebut.

Kami lebih memilih untuk bermain aman guna menghindari risiko drone jatuh ke laut akibat tersapu angin kencang. Drone tersebut akhirnya hanya kami gunakan sejenak untuk memotret lanskap Pulau Tabuhan secara keseluruhan.

Dari sudut pandang udara, pulau ini terlihat semakin memukau dengan hamparan pasir putih yang membentuk lengkungan indah. Kontras antara pasir putih dengan gradasi laut hijau toska menciptakan pemandangan yang luar biasa.

Bagi yang ingin mengabadikan momen, warga setempat sebenarnya menyediakan jasa foto dan video menggunakan drone. Namun, karena file yang diberikan hanya berupa video mentah tanpa penyuntingan, kami memilih untuk menyimpan uang kami.

Kami sepakat untuk mengalokasikan anggaran tersebut guna menyantap hidangan laut di Kampung Lobster setelah kembali ke daratan nanti. Setelah puas beraktivitas di air, kami beristirahat di sebuah warung sederhana di bawah rimbunnya pepohonan.

Meski menu yang ditawarkan sangat sederhana seperti aneka gorengan dengan bumbu petis, rasanya tetap terasa sangat istimewa. Untuk melepas dahaga di bawah terik matahari, segelas air kelapa muda menjadi pelengkap yang sempurna.

Selain memiliki pesona alam yang kuat, Pulau Tabuhan ternyata juga menyimpan jejak sejarah masa lampau. Pada era pendudukan Jepang, lokasi strategis pulau ini pernah difungsikan sebagai titik pengamatan militer.

Bukti sejarah tersebut masih bisa dilihat melalui keberadaan sebuah mercusuar tua yang berdiri kokoh hingga saat ini. Sayangnya, bangunan mercusuar tersebut tertutup untuk umum demi alasan keamanan bagi para pengunjung.

Asal-usul nama "Tabuhan" sendiri diambil dari bahasa Using, yaitu "tetabuhan" yang bermakna bebunyian musik. Hal ini merujuk pada suara angin kencang yang sering berembus dan menciptakan harmoni suara unik seperti musik alam.

Karakteristik angin inilah yang membawa Pulau Tabuhan dikenal hingga mancanegara. Sejak tahun 2015, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah mempromosikan pulau ini melalui konsep sport ecotourism dalam rangkaian Banyuwangi Festival.

Kecepatan angin di sini tergolong sangat stabil pada kisaran 20 hingga 25 knot, menjadikannya surga bagi atlet selancar. Kompetisi internasional seperti Tabuhan Island Pro Kiteboarding rutin menarik minat peserta dari berbagai belahan dunia.

Menjelang waktu salat Jumat, kami memutuskan untuk segera mengakhiri kunjungan dan kembali menuju Bangsring. Di perjalanan pulang inilah kami mendapatkan sebuah kejutan tak terduga yang memicu adrenalin.

Perahu yang kami tumpangi harus berjuang keras membelah arus Selat Bali yang mulai mengganas. Lambung kapal berkali-kali terangkat tinggi saat menghantam ombak besar sebelum akhirnya menghunjam kembali ke permukaan laut.

Audrey berteriak kegirangan sambil menyamakan pengalaman tersebut dengan sensasi berkendara off-road di jalur darat. Shamsi pun menimpali dengan mengatakan bahwa guncangan ini adalah "bonus" wajib setiap kali pulang dari Tabuhan.

Meskipun sisi kapal sudah dilindungi terpal, cipratan air asin tetap saja berhasil masuk dan membasahi pakaian kami. Alih-alih merasa terganggu, kami justru tertawa menikmati sensasi menegangkan tersebut di tengah laut.

Dalam hati yang sedikit cemas, saya sempat merapalkan doa-doa pendek agar perjalanan kami tetap aman hingga ke tepian. Ponsel sengaja saya simpan rapat-rapat di dalam kantong anti air demi melindunginya dari basah.

Sepanjang perjalanan pulang yang penuh tantangan itu, kami justru disuguhi pemandangan pegunungan yang terlihat jauh lebih megah. Gunung Raung, Ijen, dan Ranti seolah mengawal perahu kami kembali ke pelukan daratan Banyuwangi dengan selamat.

Artikel terkait

Rekomendasi