Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof Em Yunir, menegaskan bahwa penyakit diabetes merupakan kondisi kronis yang hingga saat ini belum dapat disembuhkan sepenuhnya pada Jumat (17/4/2026). Penjelasan ini disampaikan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pengelolaan jangka panjang penyakit tersebut di Jakarta.
Kondisi medis ini bermula dari peradangan dalam tubuh yang sering kali dipicu oleh timbunan lemak berlebih di area perut. Sebagaimana dilansir dari Detik Health, penumpukan lemak tersebut memicu resistensi insulin sehingga hormon tidak mampu mengatur gula darah secara optimal.
"Pasien yang sudah terdiagnosis umumnya tidak bisa benar-benar bebas dari diabetes," beber Prof Yunir, Ketua Umum Perkeni.
Pasien yang mengalami kelebihan asupan kalori akan mendapati peningkatan kadar gula darah karena tubuh sulit mengolah energi tersebut. Prof Yunir menjelaskan bahwa meskipun tidak bisa sembuh total, status kesehatan pasien dapat membaik jika terdapat disiplin tinggi dalam mengubah gaya hidup.
"Sejauh ini kuncinya adalah memperbaiki inflamasi melalui penurunan berat badan dan pengurangan lemak tubuh. Dengan begitu resistensi insulin bisa menurun," jelas Prof Yunir, Ketua Umum Perkeni.
Pihaknya merujuk pada hasil penelitian di Thailand yang menunjukkan bahwa program diet ketat dan olahraga rutin selama tiga bulan dapat menormalkan gula darah. Namun, hasil tersebut tetap memerlukan pengawasan medis karena risiko lonjakan gula darah tetap ada jika pasien kembali ke pola hidup yang tidak sehat.
"Diabetes bisa terkontrol tanpa obat dalam jangka panjang, tapi syaratnya perubahan gaya hidup harus konsisten," tegas Prof Yunir, Ketua Umum Perkeni.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, melaporkan adanya kenaikan signifikan pada tren kasus diabetes di Indonesia. Data BPJS menunjukkan adanya peningkatan kasus diabetes mellitus mencapai angka 40 persen yang berdampak langsung pada beban pembiayaan kesehatan negara.
Nadia menyoroti rendahnya partisipasi masyarakat dalam deteksi dini penyakit tidak menular tersebut. Hingga saat ini, tingkat kesadaran warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin baru menyentuh angka 10 persen dari total populasi.