Maluku sering dijuluki sebagai Bumi Seribu Pulau karena keindahan alamnya yang didominasi oleh perairan luas. Wilayah di timur Indonesia ini memiliki ribuan pulau kecil yang tersebar di berbagai titik.
Kondisi geografis tersebut membuat mobilitas antar dusun terkadang harus melintasi pulau yang berbeda. Sebagai daerah kepulauan, hasil laut seperti ikan segar sangat melimpah dan mudah didapatkan oleh masyarakat setempat.
Bagi warga yang memiliki keterbatasan ekonomi, ikan menjadi menu utama yang paling diandalkan setiap harinya. Mereka cukup berjalan kaki ke tepi pantai untuk memancing demi memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Sebaliknya, menyantap daging sapi atau ayam adalah sebuah kemewahan yang jarang dirasakan warga kepulauan. Menu tersebut biasanya hanya tersaji pada momen-momen istimewa saja.
Untuk bisa menikmati daging, warga harus mengeluarkan biaya tambahan guna transportasi menuju pasar di pusat kota. Jika memilih memotong hewan ternak sendiri, mereka justru merasa merugi secara ekonomi.
Kisah salah satu warga lokal mengenai sulitnya mengonsumsi daging :
- Ibu Ani, seorang warga Dusun Rohua, menceritakan bahwa makan daging membutuhkan anggaran yang cukup besar.
- Ia menjelaskan bahwa perjalanan ke pasar memerlukan ongkos, sehingga daging bukanlah hidangan harian bagi keluarganya.
Kondisi yang dialami Ibu Ani mencerminkan realitas yang dirasakan oleh mayoritas masyarakat di pelosok Maluku. Hal inilah yang mendorong perhatian khusus pada momentum perayaan Idul Adha tahun ini.
Program Kurban untuk Masyarakat Pelosok Maluku
Melalui donasi yang dihimpun dari masyarakat luas, lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan hewan kurban ke wilayah terpencil. Langkah ini bertujuan membawa kebahagiaan bagi warga yang jarang mengonsumsi daging.
Penyaluran bantuan ini mencakup tujuh daerah berbeda di seluruh wilayah Maluku. Total hewan yang dikirimkan mencapai 108 ekor sapi dan 10 ekor kambing untuk dibagikan kepada yang membutuhkan.
La Januri, selaku pimpinan cabang Dompet Dhuafa Maluku, menyampaikan rasa syukur atas peningkatan jumlah donasi tersebut. Menurutnya, angka penerima manfaat pada tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya.
Rincian distribusi hewan kurban di beberapa lokasi utama :
| Lokasi Penyaluran | Jumlah Hewan Kurban | Wilayah Kabupaten |
|---|---|---|
| Pulau Buru (Wabloi & Wamana Baru) | 5 Ekor Sapi | Kabupaten Buru |
| Pulau Tiga | 3 Ekor Sapi | Maluku Tengah |
| Desa Sepa | 3 Ekor Sapi | Maluku Tengah |
Tabel di atas menunjukkan sebagian kecil dari total distribusi hewan kurban yang menyasar titik-titik tersulit di Maluku. Setiap lokasi dipilih berdasarkan tingkat kebutuhan masyarakat akan asupan nutrisi protein hewani.
Perjuangan Menembus Medan Berat Demi Berbagi
Proses penyaluran hewan kurban di wilayah ini bukanlah perkara mudah karena medan yang sangat menantang. Tim Liputan6.com berkesempatan melihat langsung bagaimana perjuangan para relawan di lapangan.
Tim harus berpindah-pindah lokasi mulai dari Pulau Buru, Pulau Tiga, hingga ke pelosok Desa Sepa. Setiap perjalanan menuntut kesiapan fisik dan mental karena akses yang terbatas.
Untuk mencapai Pulau Buru, tim penyalur harus menempuh perjalanan darat dan laut selama lebih dari delapan jam. Perjalanan ini melibatkan penyeberangan sungai menggunakan rakit sederhana di tengah keterbatasan sarana.
Para relawan juga harus bermalam di pemukiman warga yang masih sangat minim akan penerangan listrik. Selain itu, jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut hampir tidak tersedia sama sekali.
Perjalanan menuju desa pedalaman Wabloi juga memiliki tantangan tersendiri bagi tim di lapangan. Kendaraan harus dipacu dengan kecepatan tinggi melalui jalur pegunungan yang curam dan berkelok.
Beberapa hambatan utama selama proses distribusi di Maluku :
- Waktu tempuh darat yang mencapai berjam-jam dengan kondisi jalanan menanjak dan menurun tajam.
- Harus menggunakan perahu motor kecil untuk menyeberangi perairan Maluku Tengah yang berombak.
- Sapi kurban harus diangkut menggunakan perahu motor dari pusat kota menuju pulau-pulau kecil.
Kunjungan ke Desa Sepa di Masohi juga menjadi bagian dari perjalanan yang melelahkan bagi seluruh tim. Mereka harus menggunakan kapal cepat selama dua jam untuk melintasi perairan Maluku Tengah.
Guncangan ombak yang kuat seringkali membuat para penumpang merasa mual dan pusing selama di perjalanan. Namun, segala rasa lelah tersebut sirna ketika melihat antusiasme masyarakat yang menyambut kedatangan bantuan.
Warga di Pulau Tiga bahkan menyambut sapi-sapi kurban tersebut dengan sorak sorai penuh kegembiraan. Hal ini menunjukkan betapa berartinya bantuan daging tersebut bagi kehidupan mereka sehari-hari.
La Januri, atau yang akrab disapa Jai, mengungkapkan bahwa penghasilan harian warga memang tidak sebanding dengan harga daging. Hal itulah yang membuat daging sapi menjadi barang mewah yang tak tergantikan bagi mereka.
Meski bantuan tahun ini cukup banyak, Jai mengakui bahwa jangkauan penyaluran saat ini belum sepenuhnya ideal. Masih banyak daerah terpencil lainnya di Maluku yang belum tersentuh bantuan serupa.
Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan jumlah hewan kurban setiap tahunnya. Harapannya, akan semakin banyak masyarakat di pelosok kepulauan yang bisa merasakan indahnya berbagi di hari raya.