Masyarakat global memperingati Hari Lupus Sedunia dan Hari Ibu Internasional pada hari ini, Minggu, 10 Mei 2026. Momentum ini menjadi perhatian khusus bagi sektor kesehatan dunia guna meningkatkan kesadaran terhadap penyakit autoimun kronis sekaligus merayakan peran ibu di berbagai negara.
Berdasarkan data yang dihimpun dari World Lupus Federation, saat ini terdapat lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia yang hidup dengan penyakit lupus. Peringatan tahunan ini bertujuan untuk menekan angka komplikasi melalui edukasi mengenai gejala dan pentingnya penanganan medis sejak dini.
Selain isu kesehatan, tanggal 10 Mei 2026 juga bertepatan dengan perayaan Hari Ibu Internasional yang jatuh pada minggu kedua bulan Mei. Perayaan ini berbeda dengan Hari Ibu Nasional di Indonesia yang jatuh setiap tanggal 22 Desember, mengikuti momentum sejarah Kongres Perempuan Indonesia pertama pada tahun 1928.
Penyakit lupus pertama kali didefinisikan sebagai gangguan autoimun pada tahun 1851. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan dan organ sendiri, yang dapat menyebabkan peradangan pada sendi, kulit, ginjal, sel darah, otak, hingga jantung.
Dilansir dari RSUD Buleleng, tantangan terbesar dalam penanganan penyakit ini adalah gejalanya yang seringkali menyerupai penyakit lain. Mei sendiri telah ditetapkan sebagai Bulan Peduli Lupus sejak tahun 2009 untuk memperluas jangkauan informasi bagi publik dan tenaga medis.
"Kesadaran masyarakat sangat krusial karena deteksi dini dapat mencegah kerusakan organ permanen pada penyintas lupus," tulis pihak RS Moewardi dalam laporan kesehatan periodik mereka.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi ruam kulit berbentuk kupu-kupu di wajah, kelelahan ekstrem, nyeri sendi, hingga sensitivitas terhadap sinar matahari. Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan lupus secara total, namun terapi medis yang tepat dapat membantu pasien menjalani aktivitas dengan normal.
Sejarah Hari Ibu Internasional dan Hari Ibu Indonesia
Muncul pertanyaan di masyarakat seperti "kenapa hari ibu di indonesia 22 desember" sementara dunia merayakannya pada bulan Mei? Perbedaan ini terletak pada latar belakang sejarah yang mendasarinya.
Sejarah Hari Ibu sedunia bermula dari upaya Anna Jarvis di Amerika Serikat pada awal abad ke-20 untuk menghormati ibunya yang meninggal pada tahun 1905. Tradisi ini kemudian diadopsi secara internasional dan ditetapkan secara resmi pada minggu kedua bulan Mei.
Sedangkan di Indonesia, tanggal 22 Desember dipilih untuk memperingati semangat emansipasi perempuan dan persatuan organisasi wanita. Berikut adalah ringkasan perbedaan mendasar antara kedua perayaan tersebut:
| Kategori | Hari Ibu Internasional | Hari Ibu Nasional (Indonesia) |
|---|---|---|
| Tanggal | Minggu Kedua Mei | 22 Desember |
| Tokoh Utama | Anna Jarvis | Kongres Perempuan Indonesia |
| Fokus Utama | Penghormatan kepada figur ibu | Semangat juang emansipasi wanita |
Peringatan Lain pada 10 Mei
Selain Lupus dan Hari Ibu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menetapkan 10 Mei sebagai Hari Internasional Argania atau Pohon Argan. Peringatan ini menyoroti pentingnya kelestarian pohon Argan yang merupakan spesies tanaman endemik yang tumbuh subur di wilayah Maroko.
Pohon Argan dikenal luas secara global karena manfaat minyak argan untuk kecantikan dan kesehatan kulit. Pengakuan internasional ini bertujuan untuk mendorong upaya konservasi lingkungan sekaligus memberdayakan komunitas perempuan pedesaan yang mengelola produksi minyak tersebut.
Terdapat pula gerakan sosial lain seperti Hari Tanpa Sepatu (One Day Without Shoes) yang diperingati setiap 10 Mei. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak buruk kemiskinan terhadap kesehatan anak-anak yang tidak memiliki alas kaki yang layak.
- Hari Ibu Internasional (Minggu Kedua Mei)
- Hari Lupus Sedunia (World Lupus Day)
- Hari Internasional Argania (International Day of Argania)
- Hari Tanpa Sepatu (One Day Without Shoes)
- Hari Ibu Laut (Mother Ocean Day)
Di wilayah Amerika Latin, khususnya Meksiko, 10 Mei juga menjadi tanggal tetap untuk merayakan Hari Ibu setiap tahunnya tanpa mengikuti sistem minggu kedua bulan Mei. Hal ini menunjukkan betapa beragamnya cara masyarakat dunia memaknai tanggal yang sama.
Hingga sore ini, berbagai komunitas penyintas lupus di Indonesia dilaporkan menggelar kampanye digital untuk mengedukasi masyarakat mengenai cara deteksi dini penyakit lupus saluri (Sadari Lupus Sendiri). Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup para Odapus (Orang dengan Lupus) di tanah air.