Kementerian PU Bandingkan Keunggulan Perkerasan Jalan Beton dan Aspal

Kementerian PU Bandingkan Keunggulan Perkerasan Jalan Beton dan Aspal
Foto: Ilustrasi Kementerian PU Bandingkan Keunggulan Perkerasan Jalan Beton dan Aspal.

Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum menjelaskan rincian kelebihan dan kekurangan penggunaan material beton serta aspal pada jalan nasional dan jalan tol. Penjelasan teknis mengenai dua jenis perkerasan ini disampaikan melalui akun media sosial resmi instansi tersebut pada Kamis (14/05/2026).

Pengamat Perkerasan Jalan dan Aspal, Purnomo, menyebutkan bahwa pemilihan material infrastruktur tersebut sangat bergantung pada tujuan pembangunan dan kondisi lapangan yang ada di lokasi proyek.

"Semua ada kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung kebutuhannya gimana," kata Purnomo, Pengamat Pekerasan Jalan dan Aspal.

Pernyataan tersebut selaras dengan data dari Ditjen Bina Marga yang dilansir dari Kompas, di mana jalan beton diketahui memerlukan biaya konstruksi awal yang lebih tinggi daripada aspal. Material beton juga memiliki tingkat kesulitan yang lebih besar saat harus diperbaiki atau dibongkar jika terjadi kerusakan sistemik.

Dari sisi waktu penggunaan, infrastruktur beton membutuhkan durasi lebih lama pasca-pembangunan sebelum bisa dilintasi kendaraan secara normal. Pengguna jalan juga berisiko mengalami efek silau di siang hari karena karakter permukaan beton yang memantulkan cahaya matahari.

Keunggulan utama beton terletak pada sisi perawatan yang lebih minim dengan beban biaya pemeliharaan yang relatif rendah. Daya tahan material ini tergolong panjang karena usia pakainya diprediksi mampu menyentuh angka 40 tahun.

Konstruksi beton juga lebih efektif dalam menyesuaikan kondisi tanah dasar yang kurang stabil. Selain itu, warna permukaan yang cerah membantu visibilitas pengendara sehingga tidak memerlukan pencahayaan lampu jalan yang terlalu banyak saat malam hari.

Sebaliknya, perkerasan aspal menawarkan biaya pembangunan yang jauh lebih ekonomis bagi anggaran negara. Proses perbaikan maupun pembongkaran material aspal dinilai jauh lebih praktis dan mudah dilakukan dibandingkan material beton.

Efisiensi waktu menjadi nilai tambah aspal karena jalan dapat langsung dibuka untuk lalu lintas sesaat setelah proses pengaspalan selesai. Karakter permukaannya yang gelap juga lebih nyaman bagi mata pengendara karena tidak memantulkan cahaya matahari secara berlebih.

Namun, jalan aspal memiliki konsekuensi berupa frekuensi perawatan yang lebih sering dengan biaya pemeliharaan yang cenderung lebih tinggi. Masa pakai aspal juga tercatat lebih pendek dibandingkan beton, yakni hanya bertahan sekitar 20 tahun.

Optimalisasi konstruksi aspal sangat bergantung pada kondisi tanah dasar yang harus dalam keadaan baik. Akibat warna permukaan yang gelap, kebutuhan akan lampu penerangan jalan pada malam hari menjadi lebih krusial untuk menjaga keselamatan pengguna jalan.

Artikel terkait

Rekomendasi