Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan penanganan tanggap darurat terhadap kerusakan Bendung Jamuan di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, mulai Minggu (19/4/2026). Langkah ini diambil setelah tanggul jebol akibat banjir yang menggeser aliran sungai dan mengganggu pasokan air bagi 1.600 hektar sawah.
Dilansir dari Kompas, perubahan aliran sungai pascabanjir menjadi penyebab utama rusaknya infrastruktur tersebut sehingga aliran air menjauh dari posisi semula. Pemerintah kini memprioritaskan pemulihan fungsi bendung guna menjaga stabilitas produksi beras di wilayah terdampak.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa pembangunan serta pemeliharaan sarana irigasi adalah bagian dari strategi nasional. Fokus utama kementerian saat ini adalah memastikan distribusi air ke lahan pertanian kembali normal secepat mungkin.
"Penanganan ini merupakan wujud komitmen Kementerian PU dalam memastikan infrastruktur sumber daya air berfungsi optimal untuk mendukung ketahanan pangan," ujar Dody, Senin (20/4/2026).
Proses darurat diawali dengan pengerahan alat berat untuk membangun tanggul sementara sepanjang 375 meter guna mengalihkan kembali aliran sungai. Selain itu, petugas di lapangan juga membuat kolam tampungan dan mengoperasikan pompa air untuk menyuplai area persawahan yang membutuhkan pengairan mendesak.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I memimpin koordinasi teknis dengan pemerintah daerah setempat dalam pelaksanaan operasional di lapangan. Percepatan ini diperlukan karena kerusakan bendung telah menghambat aktivitas petani yang tengah memasuki masa pengolahan lahan dan masa tanam.
Wakil Bupati Aceh Utara Tarmizi menyatakan dukungan penuh atas respons cepat yang diberikan oleh kementerian terkait di wilayahnya. Kehadiran personel dan alat berat di lokasi diharapkan mampu menekan risiko kegagalan panen bagi masyarakat petani di Sawang.
Secara teknis, pemerintah sedang mematangkan desain permanen untuk menjamin keandalan struktur Bendung Jamuan di masa depan. Rencana pembangunan mencakup konstruksi bendung baru dengan panjang sekitar 600 meter dan lebar 100 meter, termasuk saluran pembawa menuju intake lama.
Pendanaan proyek jangka panjang ini akan bersumber dari anggaran pemerintah melalui program rehabilitasi jaringan irigasi daerah serta pemulihan pascabencana. Kementerian PU menargetkan infrastruktur baru tersebut memiliki ketahanan hidrologi yang lebih baik terhadap potensi bencana serupa di masa mendatang.