Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono, mengungkapkan bahwa Tuban mengalami penurunan muka tanah (land subsidence) paling signifikan di sepanjang Pantai Utara Jawa. Fenomena ini disampaikan dalam pertemuan Kick-Off Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu di Jakarta pada Senin (4/5/2026).
Berdasarkan data kementerian yang dilansir dari Kompas, penurunan tanah di Tuban tercatat menyentuh angka 130 cm hingga 150 cm hanya dalam kurun waktu dua sampai lima tahun. Laju penurunan tersebut melampaui wilayah lain seperti Demak yang tercatat turun 30 cm hingga 200 cm dalam periode lebih lama, yakni satu hingga 20 tahun.
"Telah terjadi penurunan permukaan tanah 1 hingga 20 sentimeter per tahun. Paling buruk terjadi di Jakarta dan juga Semarang. Tetapi di daerah-daerah lainnya juga terus terjadi land subsidence atau penurunan permukaan tanah," kata Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Wilayah lain di Pantura dan Banten juga menunjukkan tren serupa, di antaranya Tangerang yang turun 20 cm-50 cm dalam dua hingga empat tahun, serta Jakarta sebesar 5 cm-15 cm dalam rentang satu hingga 20 tahun. Di Jawa Barat, Indramayu mencatat penurunan 10 cm-100 cm dalam satu hingga 15 tahun, sementara Bekasi mengalami penurunan 30 cm-50 cm dalam empat tahun.
| Wilayah | Penurunan (cm) | Rentang Waktu (Tahun) |
|---|---|---|
| Tuban | 130 - 150 | 2 - 5 |
| Pekalongan | 80 - 100 | 1 - 20 |
| Semarang | 83 | 1 - 20 |
| Indramayu | 10 - 100 | 1 - 15 |
| Pemalang | 30 - 100 | 1 - 20 |
| Rembang | 50 - 100 | 2 - 5 |
| Cirebon | 50 - 60 | 2 - 4 |
| Tangerang | 20 - 50 | 2 - 4 |
| Bekasi | 30 - 50 | 1 - 4 |
| Gresik | 15 - 60 | 2 - 5 |
| Jakarta | 5 - 15 | 1 - 20 |
| Demak | 30 - 200 | 1 - 20 |
Kondisi geologis ini diperparah dengan fenomena kenaikan level permukaan air laut global yang mencapai 0,8 cm hingga 1,2 cm setiap tahunnya. Akumulasi kedua faktor tersebut menciptakan tekanan luar biasa bagi stabilitas kawasan pesisir Jawa yang padat penduduk.
"Ini bisa dikatakan sebagai twin pressure, tekanan ganda, terjadi kenaikan permukaan air laut. Rising sea level ini juga mengkhawatirkan akibat pemanasan global," ujar Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Pemerintah memprediksi tanpa adanya langkah intervensi serius, ancaman banjir rob akan terus merusak pemukiman dan infrastruktur vital. Hal ini menjadi perhatian karena kawasan Pantura menyumbang sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan populasi mencapai 55 juta jiwa.
"Oleh karena itu, ini adalah urgensi yang kita harapkan mendorong dan menggerakkan kita semua," tandas Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.