Sejumlah penumpang kereta api jarak jauh di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, memutuskan untuk membatalkan perjalanan dan mengajukan pengembalian dana tiket pada Selasa (28/4/2026). Langkah ini diambil setelah para calon penumpang tidak mendapatkan kepastian mengenai jadwal keberangkatan kereta akibat insiden kecelakaan di Bekasi Timur.
Situasi di lokasi menunjukkan antrean panjang terjadi di loket layanan pembatalan tiket. Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, banyak penumpang yang telah menunggu selama berjam-jam tanpa informasi jelas mengenai waktu keberangkatan, meski mereka telah membawa perlengkapan perjalanan lengkap seperti koper dan tas jinjing.
Gustos Sitohang (31), salah satu calon penumpang tujuan Bojonegoro, memilih membatalkan perjalanannya karena ketidaktentuan jadwal. Ia seharusnya berangkat pada pukul 14.30 WIB, namun hingga sore hari status keberangkatannya tetap menggantung.
"Daripada kita menunggu yang tidak pasti, kita batal sampai keadaan normal," ujar Gustos saat ditemui di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa.
Meskipun proses pengembalian dana berjalan lancar, Gustos harus mengantre lama bersama penumpang lainnya. Pihak operator menjanjikan pengembalian penuh sebesar Rp 310.000 yang akan dicairkan dalam waktu tertentu.
"Kita sudah tanya ke semua pelayanan di sini, katanya memang tidak ada kepastian tentang jam berapa. Masalah pending atau batalnya juga tidak ada kepastian sama sekali," kata Gustos.
Informasi mengenai pengembalian dana tersebut akan dikirimkan melalui pesan singkat kepada penumpang. Pihak stasiun menginformasikan bahwa status pencairan dana baru bisa dipastikan dalam kurun waktu satu hari.
"Informasinya 1x24 jam baru bisa kita cek, nanti ada pemberitahuan lewat WA atau SMS," kata Gustos.
Penumpang lain bernama Ainun (52) turut melakukan pembatalan demi mengejar acara wisuda anaknya di Semarang. Ainun yang sudah berada di stasiun sejak pagi hari akhirnya memilih untuk beralih menggunakan moda transportasi travel.
"Kita mau travel aja, enggak ada kepastian kalau naik kereta soalnya kita enggak tau batal atau enggak perjalanannya," kata Ainun.
Jadwal keberangkatan Ainun seharusnya berlangsung pada pukul 13.30 WIB. Namun, ketidakjelasan informasi dari pihak operator membuatnya tidak ingin mengambil risiko terlambat menghadiri seremoni di Universitas Diponegoro (Undip).
"Dari jam 10.00 sudah di sini. Berangkatnya harusnya jam 13.30 WIB, tapi sampai sekarang ditunda terus, enggak jelas sampai berapa jam," kata Ainun.
Keputusan beralih ke transportasi darat lainnya dianggap sebagai solusi terakhir bagi keluarganya. Hal ini dilakukan agar rencana menghadiri momen penting sang anak tidak terganggu lebih lama.
"Ini mau oper ke travel saja, gimana lagi," kata Ainun.
Kekecewaan juga disampaikan oleh suami Ainun terkait manajemen informasi di stasiun. Ia menilai pihak operator seharusnya memberikan pernyataan tegas sejak awal mengenai status perjalanan agar penumpang bisa mencari alternatif lebih cepat.
"Menunggu enggak jadi masalah, tapi harus ada kepastian. Ini enggak jelas, diacak-acak jadwalnya. Harusnya kalau dibatalkan, ya dibatalkan saja dari awal, jadi kita bisa cari alternatif," ujar suami Ainun.
Pihak keluarga menyayangkan minimnya peringatan dini yang bisa membantu mereka menyusun rencana cadangan. Menurutnya, kepastian informasi sangat krusial bagi penumpang yang memiliki kepentingan mendesak.
"Kalau dari awal dikasih tahu, kita bisa ancang-ancang pakai mobil atau apa. Jadi enggak kecewa, apalagi ini untuk wisuda anak," ucap suami Ainun.
Gangguan operasional ini merupakan dampak dari kecelakaan fatal antara KRL nomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin (27/4/2026) malam pukul 20.52 WIB. Peristiwa yang terjadi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920 tersebut mengakibatkan 15 penumpang KRL meninggal dunia.
Para korban jiwa telah dievakuasi ke beberapa rumah sakit, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, dan RS Siloam Bekasi Timur. Sementara itu, 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek relasi GambirÔÇôSurabaya Pasar Turi dilaporkan dalam kondisi selamat.