Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memaparkan tingkat risiko infeksi campak sebagai salah satu penyakit menular paling agresif dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Senin (20/4/2026).
Karakteristik virus ini dinilai memiliki laju reproduksi yang sangat masif dibandingkan dengan wabah global lainnya. Data tersebut disampaikan Menkes sebagai bagian dari upaya penanganan kejadian luar biasa (KLB) campak serta penyakit menular lainnya di Indonesia, sebagaimana dilansir dari Nasional.
"Jadi memang campak ini virusnya sudah lama, Bapak-Ibu. Dan merupakan penyakit menular yang penularannya paling tinggi. Kita ngomongnya reproduction rate-nya," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.
Perbandingan signifikansi penularan terlihat pada rasio penyebaran antarindividu yang menunjukkan angka jauh di atas rata-rata infeksi Covid-19. Budi menegaskan bahwa kapasitas satu orang penderita untuk menularkan virus kepada orang lain mencapai belasan kali lipat.
"Jadi kalau Covid dulu di awal-awal, satu orang nularin tiga, nularin empat. Waktu Omicron bisa delapan gitu, ya. Nah, campak ini satu orang bisa nularin sampai 18, ya. Katanya sih rata-rata 15. Jadi ini penyakit yang di seluruh dunia, penyakit menular yang paling menular," tambah Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.
Kendati memiliki daya sebar yang sangat cepat, Menkes menyatakan bahwa penyakit ini secara umum tidak bersifat fatal atau mematikan bagi penderitanya. Risiko kematian biasanya muncul akibat komplikasi medis sekunder, seperti terjadinya peradangan pada otak atau infeksi paru-paru.
Upaya mitigasi telah didukung dengan ketersediaan teknologi medis yang mumpuni. Vaksinasi menjadi instrumen utama yang dianggap efektif untuk mengendalikan persebaran kasus karena pengobatannya telah tersedia dan dikembangkan dalam waktu yang cukup lama.
"Nah, dia sudah ada vaksinnya. Sama seperti Covid. Jadi hampir semua penyakit menular, begitu sudah ada vaksinnya, harusnya bisa ditangani," tegas Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.
Mengenai pola lonjakan kasus yang kerap terjadi di awal tahun, Budi mengklarifikasi bahwa fenomena tersebut tidak berkaitan langsung dengan perubahan musim. Lonjakan tersebut lebih dipicu oleh faktor sosiologis, terutama peningkatan interaksi saat periode kembali bersekolah.
"Jadi di seluruh dunia di awal tahun selalu tinggi. Jadi saya sempat tanya-tanya apakah ada dampak musim atau cuaca. Ternyata tidak. Itu dampaknya karena mobilitas. Jadi di seluruh dunia itu awal tahun biasanya anak-anak sekolah, mulai sekolah. Nah, di situlah penularan terjadi," pungkas Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.