Seorang pendaki wanita, Claudia Steffensen, menemukan fragmen ekosistem berusia 280 juta tahun yang berisi jejak kaki hewan prasejarah dan fosil tanaman di Taman Pegunungan Valtellina Orobie, Lombardy, Italia, pada Selasa, 21 April 2026. Penemuan di wilayah dataran tinggi Alpen ini memberikan gambaran lengkap mengenai kehidupan dari era Permian.
Dilansir dari Detik iNET, penemuan bermula saat Steffensen secara tidak sengaja menginjak sebuah batu dengan permukaan yang memiliki pola tidak biasa. Setelah dilakukan analisis oleh para ilmuwan, batu tersebut dikonfirmasi menyimpan jejak kaki reptil purba yang terkubur sejak jutaan tahun lalu.
"Saya kemudian melihat desain melingkar aneh dengan garis-garis bergelombang. Saya melihat lebih dekat dan menyadari bahwa itu adalah jejak kaki," kata Steffensen, pendaki yang menemukan situs tersebut.
Para ahli paleontologi yang melakukan observasi lanjutan di area tersebut menemukan bukti ekosistem utuh yang berasal dari periode geologis Permian, yakni antara 299 juta hingga 252 juta tahun lalu. Periode ini merupakan masa terjadinya perubahan iklim ekstrem yang memicu peristiwa kepunahan massal Great Dying yang melenyapkan hampir 90 persen spesies di Bumi.
Bukti kehidupan kuno tersebut ditemukan tersebar di dasar lembah hingga ketinggian 3.000 meter. Tingkat pengawetan fosil pada batu pasir ini dinilai sangat baik karena kondisi lingkungan yang sering terendam air di masa lampau, sehingga detail terkecil dapat terjaga dengan sempurna.
Ausonio Ronchi, seorang Paleontolog dari Pavia University, menjelaskan bahwa jejak kaki ini terbentuk ketika material pasir dan lumpur di tepi sungai atau danau mengering secara berkala sesuai musim. Proses pengerasan permukaan tanah ini mencegah jejak kaki terhapus saat air kembali menggenang.
"Matahari musim panas, yang mengeringkan permukaan tersebut, mengeraskannya hingga kembalinya air baru tidak menghapus jejak kaki tersebut, tetapi sebaliknya, menutupinya dengan tanah liat baru, membentuk lapisan pelindung," ujar Ronchi, peneliti dari Pavia University.
Jejak-jejak yang ditemukan diduga berasal dari lima spesies hewan yang memiliki ukuran tubuh mulai dari dua hingga tiga meter, yang secara fisik menyerupai komodo modern. Penemuan ini mencakup detail luar biasa seperti bekas cakaran dan pola kulit bagian perut hewan.
Paleontolog vertebrata di Natural History Museum of Milan, Cristiano Dal Sasso, menyatakan bahwa meskipun dinosaurus belum muncul pada era tersebut, hewan-hewan yang meninggalkan jejak di lokasi ini tetap memiliki dimensi tubuh yang signifikan.
"Pada saat itu, dinosaurus belum ada, tetapi hewan yang bertanggung jawab atas jejak kaki terbesar yang ditemukan di sini pasti masih berukuran cukup besar," kata Dal Sasso, pakar dari Natural History Museum of Milan.
Fenomena pencairan lapisan es dan salju di Pegunungan Alpen akibat perubahan iklim modern menjadi faktor utama yang mengungkap keberadaan fosil-fosil tersebut ke permukaan. Tim peneliti kini menjadikan temuan ini sebagai objek studi penting untuk memahami transisi geologis masa lalu.