Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan 41 sekolah menengah atas dan kejuruan untuk bertransformasi menjadi Sekolah Maung mulai tahun ajaran 2026/2027. Program unggulan Gubernur Dedi Mulyadi ini melibatkan 28 SMA Negeri dan 13 SMK Negeri guna mencetak sumber daya manusia unggul, sebagaimana dilansir dari Regional pada Sabtu (9/5/2026).
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menetapkan sekolah-sekolah tersebut berdasarkan usulan dari setiap Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan. Proses penentuan institusi pendidikan ini telah melewati tahap verifikasi oleh tim khusus sebelum ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur.
ÔÇ£Iya itu kan dilakukan berdasarkan usulan dari cabang dinas jadi cabang dinas yang lebih mengetahui kondisi di lingkungannya masing-masing dan setelah itu ditampung,ÔÇØ ujar Purwanto, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Pemerintah juga berencana mengajukan perubahan nomenklatur resmi institusi tersebut kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Langkah ini dilakukan agar identitas Sekolah Maung memiliki landasan hukum yang kuat secara nasional.
ÔÇ£Iya nanti kita akan usulkan ke kementerian. Kalau diizinkan oleh kementerian akan melakukan itu,ÔÇØ jelas Purwanto.
Terkait teknis pelaksanaan, otoritas pendidikan setempat menegaskan bahwa kurikulum akan dirancang secara fleksibel. Hal ini bertujuan agar setiap siswa mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan minat serta bakat masing-masing.
ÔÇ£Tujuan Sekolah Maung ini kan kita ingin melayani mereka yang mempunyai prestasi untuk bisa dilayani sesuai dengan potensi mereka,ÔÇØ ujar Purwanto.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa Sekolah Maung memiliki mekanisme yang berbeda dari sekolah reguler. Penerimaan siswa akan dilakukan melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dengan mempertimbangkan prestasi akademik dan non-akademik.
ÔÇ£Dua hal, prestasi akademik dan prestasi non-akademik. Jadi di Sekolah Maung nanti bukan hanya yang akademiknya baik, tetapi yang berprestasi di bidang olahraga, seni, dan industri kreatif tetap sekolah di situ,ÔÇØ ujar Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.
Program ini tidak dilakukan dengan membangun infrastruktur baru dari nol, melainkan mengoptimalisasi sekolah-sekolah yang sudah memiliki status unggulan. Setiap sekolah akan membagi siswa ke dalam kelas-kelas spesifik seperti seni hingga industri kreatif.
ÔÇ£Nanti kelasnya jadi kelas industri kreatif, kelas olahraga, kelas seni. Tidak dibangun baru, kita mengupdate sekolah-sekolah yang dulu menjadi unggulan,ÔÇØ sambung Dedi.
Peningkatan fasilitas pembelajaran, integrasi teknologi, serta penguatan kompetensi tenaga pendidik menjadi bagian dari skema pengembangan ini. Selain itu, Pemprov Jawa Barat akan membatasi jumlah siswa dalam setiap rombongan belajar maksimal 32 orang untuk menjaga kualitas pengajaran.