Pemerintah Kabupaten Bekasi resmi memasukkan proyek perbaikan jalan rusak di Perumahan Puri Cendana, Desa Sumberjaya, ke dalam pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini diambil setelah aksi perbaikan jalan secara mandiri oleh komunitas pemuda setempat menarik perhatian publik secara luas.
Data dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) menunjukkan total anggaran yang dikucurkan mencapai Rp3.259.800.000 untuk pengerjaan jalan utama seluas 4.500 meter persegi. Pengalokasian dana ini, sebagaimana dilansir dari Megapolitan, merupakan tindak lanjut dari koordinasi pemerintah daerah pasca penyerahan kewenangan aset dari pengembang pada akhir 2025.
Perwakilan muda-mudi Puri Cendana, Fiky Rio Utama (32), memberikan konfirmasi bahwa rencana pengerjaan tersebut telah tertera di situs resmi pengadaan barang dan jasa pemerintah.
"Alhamdulillah sudah masuk pagu ya, sudah ada di website-nya juga. Dan kemarin pun sudah sempat di-respons sama Bupati untuk cepat terealisasi," ujar Fiky, perwakilan muda-mudi Puri Cendana.
Fiky menjelaskan bahwa gerakan pemuda ini lahir dari kejenuhan terhadap kondisi infrastruktur yang terbengkalai selama bertahun-tahun. Inisiatif tersebut bahkan kini mulai diadopsi oleh warga di wilayah lain sekitar Kecamatan Tambun Selatan.
"Semoga energi positif ini terus menular buat anak-anak muda yang ada di seluruh Indonesia," katanya.
Keberhasilan mengumpulkan dana hingga ratusan juta rupiah melalui dua tahap pengecoran sebelumnya dianggap sebagai bentuk nyata solidaritas masyarakat setempat.
"Dari keberhasilannya pengecoran tahap dua ini dengan mengumpulkan nominal yang cukup besar dan semua warganya terlibat, itu sudah cukup jelas menggambarkan mayoritas warga men-support," ujarnya.
Munculnya peran aktif generasi muda dalam masalah lingkungan ini didasari oleh kesadaran akan keberlanjutan kepemimpinan di tingkat lingkungan terkecil.
"Kami anak muda itu punya tanggung jawab. Karena ke depannya yang akan melanjutkan perjuangan para orangtua dan RT-RW di sini," tuturnya.
Kerusakan jalan di kawasan pemukiman tersebut telah berlangsung selama enam hingga tujuh tahun. Kondisi fisik jalan yang sangat buruk dilaporkan sangat menghambat mobilitas warga, terutama kelompok rentan.
"Kalau ngomongin seberapa parah, ya parah banget. Mungkin bisa dibilang menyulitkan dan menyusahkan warga, terutama ibu hamil dan juga anak-anak sekolah," ujar dia.
Sebelum masuk ke ranah pemerintah daerah, upaya pengajuan perbaikan jalan sering kali menemui jalan buntu karena status legalitas lahan perumahan. Komunitas muda-mudi yang kini memiliki sekitar 200 anggota tersebut kemudian mengambil langkah konkret secara mandiri.
"Proses penggalangan dana tahap kedua memang memakan waktu lebih lama, hampir lima bulan. Karena kebutuhan anggaran yang lebih besar dan kondisi teknis jalannya juga lebih kompleks," kata Fiky.
Dana yang dikumpulkan sepenuhnya bersifat sukarela tanpa ada unsur pemaksaan terhadap warga. Fiky menegaskan bahwa nilai utama dari gerakan ini adalah menghidupkan kembali semangat kolektif warga dalam merawat lingkungan mereka.
"Tujuan utamanya bukan sekadar pengecoran, tapi menumbuhkan kembali rasa gotong royong warga," kata Fiky.
Setelah perbaikan jalan terealisasi, komunitas ini berencana melakukan penataan kawasan lebih lanjut. Program mendatang meliputi pembenahan drainase, pengelolaan sampah, serta relokasi pedagang kaki lima ke area yang lebih tertata.
"Ini PR selanjutnya dan aspirasi yang sangat diharapkan oleh warga," ucapnya.