Pedagang Pasar Cipulir Cemas Hadapi Musim Hujan 2026, Ini Fakta Mengejutkan di Baliknya

Pedagang Pasar Cipulir Cemas Hadapi Musim Hujan 2026, Ini Fakta Mengejutkan di Baliknya
Foto: Pedagang Pasar Cipulir Cemas Hadapi Musim Hujan 2026, Ini Fakta Mengejutkan di Baliknya. (Illustration by Pexels)

Kondisi Pasar Cipulir di Jakarta Selatan kini kian memprihatinkan bagi para pedagang yang menggantungkan hidup di sana. Selain harus menghadapi penurunan jumlah pembeli secara drastis, mereka kini dihantui kekhawatiran baru setiap kali mendung mulai terlihat.

Masalah utama yang menjadi momok bagi para pedagang dan petugas parkir adalah bencana banjir yang semakin sering merendam lantai dasar pasar. Fenomena ini tidak hanya merusak fasilitas, tetapi juga membuat pendapatan pedagang terus merosot tajam akibat terganggunya operasional toko.

Penyebab Utama Banjir di Pasar Cipulir

Banyak pihak menduga luapan air berasal dari Kali Pesanggrahan yang lokasinya berada tepat di samping area pasar. Namun, para pedagang mengungkapkan fakta yang berbeda mengenai sumber air yang merendam ruko mereka.

Fakta mengenai sumber banjir yang terjadi di area pasar :

  • Saluran air di pinggir jalan raya memiliki sistem drainase yang sangat buruk.
  • Luapan air berasal dari selokan depan pasar, bukan dari Kali Pesanggrahan.
  • Tumpukan tanah sisa pembongkaran trotoar menyumbat aliran air ke saluran utama.
  • Aliran air dari arah Seskoal menumpuk di depan pasar karena tidak tertampung.

Buruknya infrastruktur jalan dan saluran pembuangan dianggap sebagai faktor utama yang memicu genangan air masuk ke area pasar. Hal ini diperparah dengan kondisi trotoar yang terbengkalai selama bertahun-tahun tanpa ada perbaikan nyata.

Keluhan dan Kerugian Para Pedagang

Cece, seorang pedagang pakaian remaja di lantai dasar, menuturkan bahwa intensitas banjir semakin parah dalam setahun terakhir. Ia merasa kini air lebih cepat masuk ke dalam toko meski hujan yang turun tidak terlalu ekstrem.

Kekhawatiran Cece memuncak saat langit mulai gelap, karena ia dan karyawannya harus sigap menyelamatkan barang dagangan. Memindahkan tumpukan pakaian ke tempat yang lebih tinggi dalam waktu singkat bukanlah perkara yang mudah dilakukan.

Dampak ekonomi dari bencana rutin ini sangat terasa pada laporan keuangan para pedagang di Pasar Cipulir. Berikut adalah estimasi kerugian dan kendala yang dihadapi pedagang saat terjadi banjir :

Aspek Terdampak Detail Dampak dan Kerugian
Penurunan Omzet Pendapatan penjualan merosot hingga 30% dari biasanya.
Kerusakan Barang Stok pakaian yang tidak sempat dievakuasi rusak terendam air.
Operasional Toko Aktivitas jual beli terhenti total saat genangan air masuk.
Beban Kerja Pedagang kewalahan harus memindahkan barang setiap hujan turun.

Tabel di atas menunjukkan betapa besarnya tekanan yang dialami pedagang, mengingat mereka sudah kesulitan mencari pembeli di hari biasa. Banjir menjadi beban ganda yang harus mereka pikul demi mempertahankan kelangsungan usaha.

Masalah Drainase dan Trotoar yang Terabaikan

Susi, yang berjualan celana pendek pria, juga menyuarakan keresahan yang sama terkait kondisi infrastruktur di depan pasar. Menurutnya, masalah ini bermula sejak adanya pembongkaran trotoar yang tidak kunjung diselesaikan oleh pihak terkait.

Ia mengamati bahwa sejak proyek trotoar tersebut terbengkalai, air hujan tidak lagi mengalir ke selokan melainkan meluber ke dalam pasar. Hal ini membuat para pedagang selalu dalam posisi siaga dan merasa was-was setiap kali cuaca mulai memburuk.

Mamat, seorang tukang parkir yang bertugas di area depan, memperkuat kesaksian para pedagang mengenai asal-usul air banjir. Ia menjelaskan bahwa air kiriman dari wilayah Seskoal biasanya tertahan tepat di depan pintu masuk pasar.

Kondisi ini terjadi karena got di pinggir jalan sudah tertutup tanah akibat material trotoar yang dibiarkan berantakan selama dua tahun. Akibatnya, kapasitas saluran air menurun drastis dan tidak mampu lagi menampung debit air hujan deras.

Respons Pemerintah yang Dianggap Lamban

Keluhan pedagang sebenarnya sudah sempat disampaikan kepada pihak berwenang di tingkat kecamatan melalui perwakilan warga. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan nyata yang dilakukan untuk memperbaiki sistem drainase di kawasan tersebut.

Mamat menceritakan bahwa pihak kecamatan memberikan jawaban yang terkesan berbelit-belit dan terus menunda proses perbaikan. Janji untuk merapatkan masalah trotoar tersebut sudah terdengar sejak lama tanpa ada realisasi di lapangan.

"Warga sempat bertanya kapan trotoar dirapikan karena banjir makin parah, tapi jawabannya hanya akan dirapatkan dulu. Masa sudah dua tahun rapatnya tidak selesai-selesai," ujar Mamat dengan nada kecewa.

Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, kondisi trotoar di depan Pasar Cipulir memang terlihat sangat tidak teratur. Pembatas jalan nampak berserakan dan tumpukan tanah terlihat jelas menutupi lubang-lubang drainase utama.

Kondisi lingkungan yang kumuh dan tidak terawat ini semakin memperparah citra Pasar Cipulir sebagai pusat perbelanjaan grosir. Jika tidak segera ditangani, para pedagang khawatir pasar ini akan semakin ditinggalkan oleh para pembeli setianya.

Artikel terkait

Rekomendasi