Pedagang Obat Kaki Lima di Kwitang Bertahan di Tengah Risiko Kesehatan

Pedagang Obat Kaki Lima di Kwitang Bertahan di Tengah Risiko Kesehatan
Foto: Ilustrasi Pedagang Obat Kaki Lima di Kwitang Bertahan di Tengah Risiko Kesehatan.

Sejumlah pedagang obat kaki lima di kawasan Jalan Kramat Kwitang, Jakarta Pusat, terpantau masih menjalankan aktivitas perdagangan eceran di trotoar pada Jumat, 24 April 2026. Fenomena ini bertahan sebagai alternatif akses kesehatan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah di tengah ketatnya regulasi kefarmasian.

Aktivitas perdagangan informal ini melibatkan pengadaan barang dari apotek resmi maupun grosir yang kemudian dikemas ulang untuk dijual satuan. Laporan yang dilansir dari Megapolitan menyebutkan bahwa para pedagang tetap bertahan meski jumlah pembeli terus menurun akibat menjamurnya apotek modern.

Rasid, seorang pedagang berusia 63 tahun, mengungkapkan bahwa dirinya mengombinasikan berbagai jalur distribusi untuk menjaga ketersediaan stok di lapaknya.

"Obatnya saya ambil dari berbagai tempat, ada dari apotek, ada dari toko grosir, kadang juga dari pemasok yang datang ke sini," ujar Rasid, pedagang obat kaki lima.

Ia menambahkan bahwa sistem penjualan eceran menjadi alasan utama pelanggan masih mencari obat di trotoar karena faktor keterbatasan biaya.

"Ada juga yang nanya, bisa beli satuan enggak? Ya saya jual sesuai kebutuhan mereka. Enggak semua orang mampu beli satu kotak," kata Rasid.

Margin keuntungan yang diambil para pedagang tergolong kecil agar harga tetap terjangkau oleh masyarakat sekitar.

"Keuntungan enggak besar, yang penting mutar. Yang penting ada pemasukan buat makan sehari-hari," ujar Rasid.

Meskipun demikian, ia mengakui adanya penurunan drastis pada frekuensi kunjungan pembeli dalam beberapa waktu terakhir.

"Sekarang kadang seminggu cuma satu sampai empat orang saja yang datang," kata Rasid.

Bagi Rasid, profesi ini telah ditekuni selama puluhan tahun sehingga sulit untuk beralih ke bidang usaha lain.

"Ini sumber hidup saya. Mau bagaimana lagi, ya dijalani saja," ucap Rasid.

Para pedagang mengklaim membatasi jenis obat yang ditawarkan hanya untuk penyakit umum guna menghindari risiko hukum.

"Iya kita sadar, kita juga enggak berani macam-macam. Karena obat yang dijual yang umum saja. Kalau ada yang nanya detail kita saranin ke dokter," tutur Rasid.

Pakar kesehatan masyarakat dr. Dicky Budiman memberikan pandangan mengenai aspek keamanan dari jalur distribusi obat yang tidak resmi ini.

"Ini bukan hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di kota kecil. Selalu ada di antara keterbatasan akses layanan kesehatan dan kebutuhan masyarakat," kata Dicky Budiman, Epidemiolog.

Ia memperingatkan bahwa diagnosa mandiri tanpa pengawasan medis dapat memicu dampak kesehatan jangka panjang yang berbahaya.

"Obat dikonsumsi tanpa dasar diagnosis yang tepat. Ini bisa menyebabkan penyakit serius tersamarkan, seperti tuberkulosis atau bahkan kanker," ujar Dicky Budiman.

Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai efektivitas obat jika dosis yang dikonsumsi tidak sesuai dengan standar medis yang berlaku.

"Belum lagi soal kualitas dan keamanan obat. Distribusi informal tidak memiliki standar yang jelas, sehingga ada risiko pemalsuan atau kandungan yang tidak sesuai," ujar Dicky Budiman.

Dicky menekankan bahwa keberadaan pasar informal ini merupakan cerminan dari permintaan masyarakat terhadap layanan yang serba cepat dan murah.

"Ini soal demand. Masyarakat butuh akses yang cepat, murah, dan mudah. Selama itu belum terpenuhi oleh sistem formal, praktik seperti ini akan tetap ada," kata Dicky Budiman.

Seorang pembeli bernama Rian menyebutkan bahwa faktor kepraktisan menjadi alasan dirinya masih sesekali memanfaatkan jasa pedagang kaki lima.

"Biasanya kalau sakit ringan saja, seperti masuk angin atau pegal. Enggak sering, mungkin sebulan sekali atau dua bulan sekali," ujar Rian, pekerja swasta.

Kemampuan untuk membeli obat dalam jumlah sedikit tanpa harus menebus satu paket penuh dinilai sangat membantu secara ekonomi.

"Di sini bisa beli sesuai kebutuhan. Enggak harus satu strip," ucap Rian.

Rian menyatakan dirinya tetap akan mencari bantuan medis profesional jika gejala penyakit yang dirasakan bersifat berat.

"Kalau sakitnya berat, saya tetap ke dokter. Ini cuma untuk yang ringan saja," kata Rian.

Ada pula sisi kemanusiaan yang mendasari keputusannya untuk bertransaksi di lapak pinggir jalan tersebut.

"Kadang kasihan juga. Mereka sudah tua, sudah lama jualan, tapi pembelinya sedikit," kata Rian.

Ia merasa transaksi kecil yang dilakukannya dapat membantu kelangsungan hidup para pedagang lanjut usia di kawasan tersebut.

"Kalau memang butuh, saya beli di situ. Sekalian bantu mereka juga," ucap Rian.

Keberadaan para penjual ini sudah menjadi bagian dari sejarah kawasan Kramat Raya bagi pedagang lainnya.

"Mereka sudah lama sekali di sini. Bahkan sebelum saya mulai jualan," kata Jaya, pedagang air kemasan.

Jaya mengamati bahwa pergeseran kebiasaan masyarakat dan kemudahan informasi kini membuat lapak-lapak tersebut kian sepi.

"Sekarang lebih sepi. Apotek sudah banyak, orang juga lebih tahu informasi," ucap Jaya.

Meski sepi, keterikatan ekonomi jangka panjang membuat para pedagang sulit untuk meninggalkan lokasi berjualan mereka.

"Sudah jadi mata pencaharian mereka. Tidak mudah mulai usaha baru," ujar Jaya.

Udin, seorang pedagang rokok di lokasi yang sama, mengingat masa ketika pedagang obat menjadi tumpuan utama warga sekitar.

"Dulu mereka jadi tempat rujukan cepat. Orang butuh obat, langsung ke sini," kata Udin, pedagang rokok.

Walaupun peran tersebut mulai tergerus zaman, ia tetap menghargai kegigihan rekan-rekan pedagangnya.

"Mereka tetap jualan walaupun kondisi berubah. Itu tidak mudah," tutur Udin.

Kepala Satpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, menegaskan bahwa penataan terus dilakukan untuk memastikan ketertiban umum.

"Satpol PP kecamatan sudah melakukan penertiban di lokasi tersebut dan berkoordinasi dengan instansi terkait," ujar Purnama Hasudungan Panggabean, Kasatpol PP Jakarta Pusat.

Langkah penertiban dibarengi dengan edukasi mengenai bahaya obat palsu dan penyalahgunaan obat-obatan tertentu yang meresahkan masyarakat.

"Kami menggandeng tokoh masyarakat untuk memberikan pencerahan tentang bahaya obat jika dikonsumsi tidak sesuai resep, termasuk risiko obat palsu," ujar Purnama Hasudungan Panggabean.

Pemerintah daerah juga mengimbau pedagang agar tidak menggunakan badan jalan untuk menggelar barang dagangan mereka.

"Kami imbau supaya jualan tidak memakan badan jalan," kata Purnama Hasudungan Panggabean.

Artikel terkait

Rekomendasi