Budaya kuliner jalanan yang menjadi ikon global bagi ibu kota Thailand kini menghadapi ancaman serius. Kebijakan pengetatan aturan trotoar di Bangkok membuat banyak pedagang kaki lima merasa khawatir tidak dapat lagi melanjutkan rutinitas berdagang mereka.
Aroma bawang putih dan daging panggang yang biasa menyelimuti jalanan kota sejak pagi hingga larut malam mulai berkurang. Dilansir dari Detik Travel, pemerintah Bangkok tengah berupaya menertibkan trotoar guna meningkatkan keteraturan kota.
Langkah ini mencakup pemindahan pedagang dari kawasan komersial yang padat ke lokasi pasar resmi yang telah ditentukan. Kebijakan tersebut berdampak langsung pada para pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup di pinggir jalan.
Looknam Sinwirakit, seorang pedagang kue ketan goreng di kawasan Chinatown, mengungkapkan kegelisahannya terhadap status usahanya. Perempuan berusia 45 tahun itu mengaku pernah terkena sanksi administratif karena dianggap menghalangi jalan.
"Saya khawatir karena kami berjualan secara ilegal," kata Looknam Sinwirakit dikutip dari AFP pada Rabu (6/5/2026).
Meski menghadapi risiko denda sebesar 1.000 baht atau sekitar Rp 530 ribu, Looknam memilih bertahan demi melayani pelanggan yang ramai. Ia merasa penggusuran secara langsung merupakan tindakan yang kurang adil bagi pedagang yang mencari nafkah.
"Pedagang perlu mencari nafkah. Tidak adil jika kami langsung digusur. Tapi kalau diminta pergi, kami tidak punya pilihan selain menurut," tutur Looknam.
Kekhawatiran serupa dirasakan oleh Wong Jaidee, penjual durian yang telah beroperasi selama lebih dari dua dekade. Pria berusia 56 tahun tersebut mengaku tidak memiliki rencana cadangan jika tempat usahanya dipindahkan oleh otoritas setempat.
"Saya tidak punya rencana cadangan," ujar Wong Jaidee.
Ia juga menyoroti beban ekonomi yang harus dihadapi oleh para warga kecil di ibu kota Thailand tersebut. Menurutnya, biaya hidup di Bangkok yang tinggi membuat mereka sulit bertahan jika kehilangan lokasi strategis untuk berjualan.
"Biaya hidup di Bangkok tinggi, dan kami mungkin tidak mampu bertahan," ucap Wong.
Penurunan Jumlah Pedagang dan Relokasi ke Pusat Jajanan
Data dari Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA) menunjukkan penurunan signifikan populasi pedagang kaki lima. Sejak tahun 2022, jumlah pedagang menyusut lebih dari 60 persen, yang berarti berkurang sekitar 10.000 orang.
Pejabat BMA, Kunanop Lertpraiwan, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena aturan yang semakin ketat. Beberapa pedagang memilih menutup usaha karena merasa lokasi baru tidak lagi memberikan keuntungan finansial.
"Meski sebagian pedagang telah pindah ke pasar informal dan pusat jajanan, mengikuti model seperti di Singapura, pedagang ditempatkan di lokasi khusus, banyak lainnya justru menutup usaha karena aturan yang lebih ketat atau karena tidak lagi menguntungkan," kata Kunanop Lertpraiwan.
BMA memprioritaskan penertiban pada jalan-jalan utama dengan arus pejalan kaki yang sangat padat. Namun, untuk kawasan yang populer di kalangan pendaki serta jalan kecil, pemerintah masih memberikan ruang komunikasi.
"Kami memberi mereka waktu dan berkomunikasi dengan jelas," kata Kunanop.
Otoritas kota mengklaim tidak melakukan pemindahan secara mendadak dan memberikan tenggat waktu bulanan bagi pedagang mencari tempat baru. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pindah ke pusat jajanan, seperti yang terletak di dekat Taman Lumphini.
"Bukan berarti kami akan langsung memindahkan mereka besok," ujar Kunanop.
Dampak Relokasi Terhadap Kenyamanan Berusaha
Di pusat jajanan yang disediakan BMA, pedagang dikenakan biaya sewa sebesar 60 baht per hari. Panissara Piyasomroj, penjual mi sejak 2004, merasa perpindahan tersebut memberikan dampak positif pada kondisi kerjanya.
Ia merasakan kemudahan dalam mengakses air bersih dan listrik, serta perlindungan atap dari cuaca panas. Kondisi ini dinilai membuat usahanya terlihat lebih higienis di mata konsumen.
Namun, transisi ini tidak selalu disambut baik oleh semua pihak, terutama pedagang lanjut usia. Thitisakulthip Sang-uamsap, penjual gorengan berusia 67 tahun di dekat Chinatown, merasa keberatan jika harus berpindah dari lingkungan tempat tinggalnya.
"Saya tinggal di sekitar sini... jika diminta pergi, saya tidak akan nyaman," tutur Thitisakulthip.
Ia berharap pemerintah menunjukkan empati lebih besar kepada pedagang lansia yang memiliki penghasilan terbatas. Di sisi lain, turis mancanegara seperti Oliver Peter asal Jerman menilai bahwa jajanan pinggir jalan adalah bagian tak terpisahkan dari budaya lokal.
"Akan sangat disayangkan jika mereka hilang. Ini bagian dari budaya," kata Oliver Peter.