PDI Perjuangan secara resmi melayangkan kritik tajam terhadap pernyataan Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, terkait klaim capaian investasi nasional. Kritik ini muncul setelah Seskab menyebut bahwa realisasi investasi yang mencapai Rp2.430 triliun hingga semester I-2026 merupakan dampak positif dari kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto.
Guntur Romli, politisi dari PDI Perjuangan, memberikan bantahan keras dengan menyodorkan rincian data investasi yang masuk ke tanah air. Menurutnya, klaim bahwa lonjakan investasi tersebut adalah buah dari perjalanan dinas luar negeri (PDLN) Presiden Prabowo tidak sepenuhnya akurat.
Analisis Komposisi Investasi Semester I-2026
Berdasarkan data yang dipaparkan Guntur, mayoritas modal yang masuk justru berasal dari pelaku usaha domestik atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Ia menjelaskan bahwa dari total investasi yang ada, sebesar Rp1.279,1 triliun atau sekitar 52,6% merupakan kontribusi pengusaha lokal.
Di sisi lain, kontribusi dari Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat hanya sebesar Rp1.150,9 triliun atau setara dengan 47,4% dari total realisasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada modal asing masih lebih rendah dibandingkan dengan pergerakan ekonomi di dalam negeri.
Berikut adalah rincian perbandingan realisasi investasi pada semester I-2026 berdasarkan data yang disampaikan:
- Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN): Mencapai Rp1.279,1 triliun dengan kontribusi dominan sebesar 52,6%.
- Penanaman Modal Asing (PMA): Mencapai Rp1.150,9 triliun dengan persentase kontribusi sebesar 47,4%.
Data tersebut menunjukkan bahwa penguatan ekonomi nasional pada paruh pertama tahun 2026 lebih banyak ditopang oleh kekuatan modal dari dalam negeri sendiri. Hal ini memicu pertanyaan mengenai efektivitas diplomasi ekonomi yang dilakukan pemerintah melalui kunjungan ke luar negeri.
Sorotan Terhadap Kinerja Investasi Asing
Guntur Romli menegaskan bahwa fakta di lapangan membuktikan investor domestik tetap menjadi tulang punggung utama ekonomi Indonesia saat ini. Ia berpendapat bahwa narasi yang mengaitkan kesuksesan investasi dengan perjalanan luar negeri presiden sangatlah berlebihan.
"Artinya, mayoritas uang yang benar-benar masuk adalah berasal dari investor dalam negeri, bukan hasil kunjungan luar negeri Presiden Prabowo," ujar Guntur melalui keterangan di akun Instagram pribadinya. Kutipan ini menegaskan sikap kritis partai terhadap klaim sepihak pemerintah.
Lebih lanjut, ia juga menilai bahwa Presiden Prabowo belum memberikan hasil yang signifikan dalam menarik minat pemodal mancanegara secara nyata. Guntur melihat ada ketimpangan antara frekuensi perjalanan dinas yang masif dengan realisasi dana asing yang masuk ke Indonesia.
Tabel perbandingan pertumbuhan investasi domestik dan asing sepanjang tahun 2025:
| Jenis Investasi | Realisasi Nilai (Triliun) | Pertumbuhan Tahunan (yoy) |
|---|---|---|
| Investasi Dalam Negeri (PMDN) | Rp1.030,3 | Naik 26,6% |
| Investasi Asing (PMA) | Rp900,9 | Turun 0,1% |
Melalui data di atas, terlihat perbedaan mencolok antara gairah investasi lokal yang tumbuh pesat dengan investasi asing yang justru mengalami kontraksi ringan. Tren penurunan ini menjadi catatan merah bagi tim ekonomi pemerintah yang dipimpin Presiden Prabowo.
Tren Stagnasi Penanaman Modal Asing
Guntur Romli juga menyoroti kondisi Penanaman Modal Asing (PMA) yang cenderung jalan di tempat sepanjang tahun 2025 lalu. Ia membeberkan bahwa pertumbuhan PMA hanya menyentuh angka 0,1%, sebuah angka yang jauh dari kata memuaskan bagi negara berkembang.
Penurunan drastis ini sangat kontras jika dibandingkan dengan performa investasi asing pada tahun 2024 yang mampu tumbuh hingga 21%. Perbedaan angka pertumbuhan yang sangat jauh ini menunjukkan adanya penurunan kepercayaan atau daya tarik bagi investor global dalam setahun terakhir.
Mengacu pada data resmi dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau BKPM, total realisasi investasi langsung di sepanjang tahun 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun. Meskipun secara total terlihat besar, namun komposisi di dalamnya menunjukkan pelemahan di sektor modal internasional.
Investasi domestik pada tahun tersebut tercatat sebesar Rp1.030,3 triliun, yang mencerminkan adanya kenaikan signifikan sebesar 26,6% secara tahunan. Namun, capaian positif ini dinodai oleh nilai investasi asing langsung yang hanya sebesar Rp900,9 triliun atau turun 0,1% dibandingkan periode sebelumnya.
Tanggapan Istana dan Isu Efisiensi
Di tengah gelombang kritik tersebut, pihak Istana Negara sebelumnya sempat memberikan pembelaan terkait agenda perjalanan luar negeri presiden. Pihak Istana mengeklaim bahwa Presiden Prabowo telah melakukan langkah efisiensi dengan memangkas jumlah rombongan kunjungan hingga 50%.
Presiden Prabowo sendiri memberikan alasan bahwa seringnya ia melakukan perjalanan ke mancanegara disebabkan oleh kondisi dunia yang sedang dilanda krisis. Ia menilai kehadiran fisik kepala negara di forum-forum internasional sangat krusial untuk menjaga posisi Indonesia di kancah global.
Terkait urusan anggaran, pihak Istana bahkan sempat menyatakan bahwa biaya tambahan yang muncul selama kunjungan kenegaraan ditanggung secara pribadi oleh Prabowo. Langkah ini diambil untuk meredam sentimen negatif publik mengenai beban APBN untuk kegiatan perjalanan dinas luar negeri.
Meski demikian, kritikan dari PDI Perjuangan ini tetap memfokuskan pada output nyata dari perjalanan tersebut, yakni masuknya modal asing. Guntur Romli menutup argumennya dengan menyatakan bahwa diplomasi luar negeri seharusnya berbanding lurus dengan pertumbuhan angka PMA di tanah air.