Pasar Santa Sepi Pengunjung Akibat Minim Ruang Terbuka Publik

Pasar Santa Sepi Pengunjung Akibat Minim Ruang Terbuka Publik
Foto: Ilustrasi Pasar Santa Sepi Pengunjung Akibat Minim Ruang Terbuka Publik.

Kawasan Pasar Santa di Jakarta Selatan kini mengalami penurunan aktivitas yang signifikan dibandingkan masa kejayaannya beberapa tahun silam. Minimnya ruang terbuka publik dan desain gedung yang tertutup dinilai menjadi pemicu utama berkurangnya daya tarik tempat ini bagi pengunjung.

Hafiz (25), seorang pengunjung asal Jakarta Selatan, mengaku merasakan atmosfer yang sangat berbeda saat kembali berkunjung untuk bernostalgia. Dilansir dari Megapolitan, ia menyebut bahwa pengalaman ruang di pasar tersebut kini tidak lagi mendukung aktivitas berkumpul dalam durasi lama.

"Dulu saya sering ke sini pas masih kuliah. Sekarang sudah jarang, ini baru datang lagi setelah lama," kata Hafiz.

Menurutnya, elemen populer seperti kedai kopi dan toko piringan hitam masih tersedia, namun suasana komunalnya telah hilang. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan kawasan Blok M yang lebih dinamis karena memiliki ruang publik yang terbuka dan aksesibilitas yang lebih baik bagi pejalan kaki.

"Kalau isi sebenarnya masih ada ya. Kopi ada, vinyl juga masih, beberapa tempat foto juga ada. Tapi rasanya sekarang beda," ujar dia.

Faktor utama yang membuat Pasar Santa mulai ditinggalkan adalah ketiadaan area terbuka yang luas sebagai pusat aktivitas. Konsep pasar dalam gedung membuat pengunjung cenderung hanya datang untuk keperluan singkat tanpa ada keinginan untuk menetap lama.

"Di Santa itu kan lebih seperti pasar dalam gedung. Tidak ada ruang terbuka yang besar, kafenya juga kecil-kecil di dalam kios," kata Hafiz.

Hafiz menambahkan bahwa keramaian di Blok M saat ini lebih terasa sebagai destinasi utama, sementara Pasar Santa seolah hanya menjadi tempat perlintasan. Ketiadaan area komunal yang besar membuat tenant-tenant kreatif di dalamnya terasa terfragmentasi.

"Kalau Santa sekarang, jujur ya, lebih kayak pasar modern saja. Masih ada kopi, tapi kecil-kecil di dalam," ujar dia.

Kondisi ini membuat arus pengunjung menjadi tidak berkelanjutan, di mana orang segera meninggalkan lokasi setelah melakukan transaksi atau sekadar melihat sebentar.

"Jadi orang datang, beli, lihat-lihat, habis itu keluar. Tidak ada tempat buat benar-benar nongkrong lama," kata Hafiz.

Meski konsep beberapa kios masih dianggap menarik, pengalaman ruang yang kurang mendukung menghambat pertumbuhan suasana destinasi anak muda.

"Bukan berarti tenant-nya jelek ya. Masih ada yang bagus. Tapi pengalaman ruangnya itu yang beda," ujar Hafiz.

Ia menyimpulkan bahwa Blok M telah berhasil mengukuhkan identitasnya sebagai pusat wisata anak muda yang konsisten.

"Blok M itu dari awal sudah terasa seperti tempat tujuan. Santa sekarang lebih seperti tempat lewat," kata Hafiz.

Perubahan Tren dan Dampak pada Pedagang

Pengunjung lain bernama Andra (27) juga merasakan hal serupa, di mana kunjungan ke Pasar Santa kini hanya didasari alasan nostalgia semata. Ia mengenang periode 2016 hingga 2019 sebagai masa paling hidup bagi pasar tersebut.

"Enggak sering sih sekarang. Paling kalau lagi lewat atau lagi pengin nostalgia aja. Dulu sekitar 2016ÔÇô2019 saya cukup sering ke sini, hampir tiap minggu," kata Andra.

Menurut Andra, perubahan cepat pada tenant dan banyaknya kios yang tutup membuat pengunjung kehilangan arah serta tujuan spesifik saat datang ke sana.

"Sekarang lebih sepi, itu jelas. Terus tenant juga banyak yang berubah-ubah. Dulu kan sudah hafal mau ke mana, sekarang agak bingung karena beberapa tutup atau pindah," kata dia.

Vivian (23), seorang mahasiswi, menilai bahwa kenyamanan tempat duduk dan konsistensi suasana menjadi alasan utama anak muda lebih memilih kawasan lain.

"Tapi sekarang beberapa lantai ada yang kosong, jadi kesannya kurang hidup," ujar dia.

Ia menegaskan bahwa pilihan tempat nongkrong saat ini sangat bergantung pada kenyamanan untuk menghabiskan waktu lebih lama.

"Soalnya lebih banyak pilihan, lebih enak buat duduk lama, dan suasananya lebih konsisten," kata Vivian.

Penurunan Omzet yang Drastis

Dampak dari sepinya pengunjung sangat dirasakan oleh para pedagang yang masih bertahan, seperti Fathan (27), pemilik kedai kopi yang sudah berjualan sejak 2016. Ia mencatat penurunan omzet harian yang sangat tajam dibandingkan masa keemasan pasar.

"Dulu itu bisa dibilang golden era. Sehari omzet bisa Rp2 juta sampai Rp3 juta, bahkan lebih kalau ada event atau weekend panjang," kata Fathan.

Saat ini, Fathan mengaku hanya mampu meraih pendapatan harian di kisaran ratusan ribu rupiah pada hari kerja.

"Sekarang rata-rata harian itu di Rp500 sampai Rp1 juta. Kadang bisa di bawah itu kalau weekday sepi," ujar dia.

Fathan menilai faktor penyebabnya adalah munculnya banyak pilihan tempat nongkrong baru yang memiliki branding lebih rapi dan konsisten.

"Sekarang sudah banyak pilihan, coffee shop standalone, mall baru, tempat yang lebih rapi, lebih nyaman, lebih konsisten branding-nya," ucap dia.

Penurunan serupa dirasakan oleh Theo (28), penjual barang antik dan thrift, yang menyebut omzetnya kini turun ekstrem hingga hanya beberapa ratus ribu rupiah saja.

"Dulu saya bisa dapat Rp800 sampai Rp1,5 juta sehari, terutama kalau weekend. Anak-anak datang memang buat cari barang unik," kata Theo.

Beralihnya kebiasaan belanja ke platform online juga turut menekan pendapatan pedagang fisik di pasar tersebut.

"Sekarang thrift juga banyak online. Jadi orang tidak perlu datang langsung. Mereka tinggal scroll, pilih, bayar," ujar Theo.

Bahkan pedagang kebutuhan pokok di lantai dasar seperti Warni (52) juga merasakan imbas sepinya lantai atas terhadap penjualan barang rumah tangga.

"Dulu awal saya jualan di sini masih rame banget. Orang keluar masuk terus, jadi ikut keangkat juga jualan di bawah," kata Warni.

Warni memilih untuk tetap bertahan meski pendapatan berkurang karena biaya sewa yang masih terus berjalan.

"Sewa tetap jalan, jadi ya mau tidak mau bertahan. Pindah juga belum tentu lebih laku," kata dia.

Kusnadi (49), seorang penjahit di lantai dua, menyayangkan tren pengunjung yang kini hanya beraktivitas di lantai bawah tanpa menelusuri lantai atas.

"Sehari bisa Rp400 ribu sampai Rp700 ribu. Masih ada yang datang khusus ke sini," kata Kusnadi.

Ia menyoroti perubahan pola kunjungan yang membuat lantai dua dan tiga semakin terasing dari aktivitas ekonomi.

"Sekarang orang jarang naik ke atas. Banyak yang cuma di bawah atau langsung keluar," tutur dia.

Analisis Sosiologis Perubahan Ruang Kota

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari pergeseran kebutuhan sosial dan tren konsumsi masyarakat urban. Kehilangan daya tarik sosial terjadi karena pasar gagal mengikuti dinamika perubahan tersebut.

"Pasar Santa dalam hal ini meskipun memiliki banyak tenant dan produk berkualitas mungkin sudah kehilangan daya tarik sosial karena tidak mampu mengikuti perubahan tren konsumsi dan kebutuhan sosial tersebut," ujar Rakhmat.

Ia juga menekankan pentingnya momentum viral dalam mempertahankan eksistensi sebuah ruang kota di tengah persaingan antar kawasan kreatif.

"Nah memang secara sosiologis ya momentum viral dan jejaring sosial itu memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan mati hidupnya sebuah ruang kota," ujar Rakhmat.

Artikel terkait

Rekomendasi