Fenomena Parental Burnout Hantui Orangtua Bekerja di Jakarta

Fenomena Parental Burnout Hantui Orangtua Bekerja di Jakarta
Foto: Ilustrasi Fenomena Parental Burnout Hantui Orangtua Bekerja di Jakarta.

Sejumlah orangtua pekerja di Jakarta dilaporkan mengalami kondisi parental burnout atau kelelahan ekstrem dalam pengasuhan akibat ritme hidup yang cepat dan beban ekonomi yang meningkat pada Jumat (17/4/2026). Fenomena ini memicu kelelahan fisik serta mental yang berdampak pada renggangnya hubungan emosional antara orangtua dan anak, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Sesa, seorang ibu dua anak di Jakarta Timur yang bekerja sebagai admin keuangan, mengungkapkan bahwa rutinitas harian yang dimulai sejak pukul 04.30 WIB membuatnya merasa terjebak dalam peran manajer rumah tangga yang tidak kunjung usai.

"Rutinitas saya jujur kayak enggak ada habisnya. Saya bangun jam 04.30 pagi. Kadang sebelum alarm karena udah kepikiran aja," kata Sesa.

Sesa menjelaskan bahwa meskipun dibantu suami, beban pekerjaan tak kasatmata seperti jadwal imunisasi dan stok kebutuhan anak tetap berada di pundaknya. Kondisi ini diperparah dengan kemacetan Jakarta yang menuntut disiplin waktu ketat agar tidak terlambat tiba di kantor.

"Saya merasa saya ini bukan cuma ibu, tapi kayak manajer rumah tangga," tutur Sesa.

Kelelahan emosional yang dialami Sesa sering kali mencapai titik puncak hingga ia merasa tidak sanggup lagi untuk menangis. Ia mengaku rutinitas yang berulang setiap hari membuatnya merasa datar dan sering memicu ledakan emosi hanya karena masalah kecil.

"Orang lihatnya saya cuma ngurus anak. Padahal saya mikirin semuanya, bahkan sebelum kejadian," kata Sesa.

Ia juga menambahkan bagaimana lelahnya menghadapi tumpukan tugas domestik setelah pulang bekerja.

"Pulang kerja itu bukan istirahat. Saya sampai rumah langsung urus anak lagi. Anak minta ditemenin main, anak minta makan," ucap Sesa.

Beban tersebut pada akhirnya membuat Sesa merasa berada di titik jenuh yang sangat dalam.

"Saya pernah sampai titik enggak bisa nangis lagi. Rasanya datar aja. Bangun, jalanin rutinitas, ulang lagi," kata Sesa.

Masalah ekonomi menjadi faktor penghambat bagi orangtua untuk melepaskan pekerjaan mereka demi pengasuhan penuh waktu di rumah.

"Kadang saya mikir, kita kerja dua-duanya, tapi kok rasanya tetap ngejar-ngejar," ujar Sesa.

Sesa merasa berada dalam situasi dilematis karena berhenti bekerja akan mengancam stabilitas finansial keluarga.

"Jadi kayak terjebak," tutur Sesa.

Untuk mengatasi kebuntuan pengasuhan, Sesa akhirnya memutuskan menitipkan anak keduanya di daycare meskipun awalnya merasa berat hati dan penuh kekhawatiran.

"Saya tipe ibu yang merasa, ÔÇÿmasa sih anak gue dititipin ke orang lain?ÔÇÖ Tapi lama-lama saya sadar saya enggak punya pilihan," kata Sesa.

Ia melakukan riset mendalam terkait fasilitas keamanan dan kesehatan sebelum memilih tempat penitipan anak yang tepat.

"Saya bahkan tanya apakah mereka ada pelatihan P3K atau enggak," kata Sesa.

Meski harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 2 juta per bulan, Sesa menganggap langkah ini sebagai solusi untuk menjaga kesehatan mentalnya.

"Daycare itu kayak penyelamat, walaupun mahal," ujar Sesa.

Tekanan serupa dirasakan oleh Dianova, seorang orangtua tunggal di Jakarta Selatan yang bekerja sebagai kasir ritel. Ia harus berjuang sendirian memenuhi kebutuhan ekonomi sekaligus mengasuh anak tanpa adanya pasangan yang berbagi beban.

"Kalau saya jujur ya, hidup saya itu kayak kerja terus," kata Dianova.

Dianova menitipkan anaknya kepada tetangga selama ia bekerja dari pagi hingga malam hari demi kelangsungan hidup.

"Kadang saya merasa bersalah banget, karena anak saya kayak dibesarkan sama orang lain," ucap Dianova.

Ketangguhan fisik menjadi satu-satunya modal Dianova agar tetap bisa membiayai sekolah dan kebutuhan harian anaknya.

"Kalau saya capek, saya tetap harus jalan. Kalau saya sakit, saya enggak bisa rebahan," kata Dianova.

Kebutuhan biaya pendidikan yang mendadak sering kali memaksanya untuk mencari pinjaman demi menutupi kekurangan dana.

"Saya pernah pinjam uang untuk bayar uang daftar ulang sekolah," ujar Dianova.

Dianova mengakui bahwa kelelahan yang ia rasakan berdampak pada cara ia berkomunikasi dengan sang anak.

"Karena anak saya cuma punya saya. Harusnya saya jadi tempat nyaman. Tapi saya malah jadi orang yang bikin dia takut," tutur Dianova.

Martha Mulyadani selaku pengelola Trust DayCare di Jakarta Barat mengonfirmasi bahwa sebagian besar pengguna jasanya adalah pasangan suami-istri yang bekerja.

"Mayoritas karena suami-istri sama-sama bekerja..." kata Martha.

Penyediaan fasilitas pemantauan melalui CCTV menjadi daya tarik utama bagi orangtua yang ingin tetap memastikan keamanan anak mereka.

"Daycare juga bukan satu-satunya tempat pendidikan anak. Harus ada kerja sama," ujar Martha.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu, memberikan analisis bahwa pergeseran dari keluarga besar ke keluarga inti semakin memperberat beban orangtua di kota besar.

"Interaksi dengan anak menjadi kaku, mekanis, sering memberi perintah, melarang, dan anak cenderung menjauh dari orangtua," ujar Tuti.

Artikel terkait

Rekomendasi