Kemenhaj RI Terbitkan Panduan Urutan Ibadah Haji Tahun 2026

Kemenhaj RI Terbitkan Panduan Urutan Ibadah Haji Tahun 2026
Foto: Ilustrasi Kemenhaj RI Terbitkan Panduan Urutan Ibadah Haji Tahun 2026.

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI merilis Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah pada Senin (20/4/2026) untuk memandu jemaah memahami urutan ibadah dari awal hingga akhir sesuai syariat. Panduan ini menekankan pentingnya pelaksanaan rukun dan wajib haji agar ibadah berjalan khusyuk serta dinyatakan sah secara hukum Islam.

Pemahaman mengenai tahapan ibadah menjadi krusial karena kegagalan menjalankan rukun dapat membatalkan haji, sementara pelanggaran wajib haji mengharuskan jemaah membayar denda atau dam. Informasi yang dilansir dari Detikcom menyebutkan bahwa rangkaian dimulai dengan ihram di miqat dan diakhiri dengan tawaf wada sebelum meninggalkan Makkah.

Tahap awal dimulai dengan ihram, yakni niat masuk ke dalam ibadah haji yang ditandai dengan mengenakan pakaian khusus dan mematuhi berbagai larangan. Jemaah laki-laki menggunakan dua helai kain tanpa jahitan, sedangkan perempuan mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

"Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kemuliaan dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu." tutur bacaan talbiyah yang dianjurkan dibaca jemaah setelah berihram.

Puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah yang merupakan rukun utama dan tidak dapat digantikan dengan denda. Di tempat ini, jemaah berdiam diri serta memperbanyak doa dan zikir sejak matahari tergelincir hingga terbit fajar pada hari nahar.

"Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menghadap, hanya dengan-Mu aku berpegang teguh dan kepada-Mu aku berserah diri. Ya Allah, jadikanlah aku di antara orang yang hari ini Engkau banggakan di hadapan Malaikat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." ucap doa jemaah saat memasuki tanah Arafah.

Jemaah yang melihat Jabal Rahmah saat berada di Arafah juga disunnahkan memanjatkan permohonan khusus sebagai bentuk syukur dan permohonan ampunan.

"Ya Allah, ampunilah aku, terimalah taubatku, penuhilah segala permintaanku dan hadapkanlah kebaikan kepadaku dimana-pun aku menghadapkan diri. Maha Suci Allah, segala puji hanya bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Agung" bunyi doa yang dibaca di Jabal Rahmah.

Setelah wukuf, jemaah melanjutkan perjalanan untuk mabit atau bermalam di Muzdalifah guna mengumpulkan batu kerikil untuk melontar jumrah. Mabit ini dianggap sah secara hukum jika jemaah berada di lokasi tersebut melewati tengah malam pada 10 Zulhijah.

"Ya Allah, sesungguhnya ini Muzdalifah telah berkumpul bermacam-macam bahasa yang memohon kepada-Mu keperluan yang beraneka ragam, maka masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang memohon kepada-Mu, lalu Engkau penuhi permintaannya, yang berserah diri pada-Mu, lalu Engkau lindungi dia, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka." panjat jemaah ketika tiba di Muzdalifah.

Selain doa umum, terdapat pula lafadz doa yang kerap dipanjatkan oleh Imam an-Nawawi ketika berada di Muzdalifah untuk memohon kebaikan yang komprehensif.

"Ya Allah, aku mohon kepada-Mu agar diberi seluruh kebaikan di tempat ini. Engkau perbaiki keadaanku dan Engkau tolak dariku segala kejahatan. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menjadikan semua itu setelah Engkau dan tidak ada yang dapat memperbaikinya selain Engkau." tutur doa Imam an-Nawawi di Muzdalifah.

Kegiatan selanjutnya adalah melontar jumrah sughra, wustha, dan kubra dengan tujuh kerikil pada hari nahar dan hari tasyrik. Prosesi ini dilakukan dengan niat mengenai objek jumrah sebagai bentuk simbolis perlawanan terhadap godaan setan.

"Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar." seru jemaah saat melontar kerikil.

Pilihan doa lain yang lebih panjang juga dapat dibaca untuk memohon agar ibadah tersebut menjadi haji yang mabrur dan segala dosa diampuni oleh Allah SWT.

"Allah Maha Besar atas ketaatan kepada Allah Yang Maha Pengasih, dan kutukan bagi setan, ya Allah, dengan membenarkan kitab-kitab-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu. Jadikanlah ibadah haji ini haji yang mabrur, dosa-dosa terampuni, dan amalan yang diterima." lafal doa saat melempar jumrah.

Rangkaian dilanjutkan dengan tahallul awwal atau mencukur rambut setelah melontar jumrah kubra pada 10 Zulhijah. Bagi mazhab Syafi'i, mencukur rambut adalah rukun haji yang menentukan kesempurnaan ibadah tersebut.

"Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada kami dan segala puji bagi Allah atas segala yang telah Allah karuniakan kepada kami. Ya Allah, ini ubun-ubunku, terimalah amal ibadahku dan ampunilah dosa-dosaku. Ya Allah ampunilah dan sayangilah orang-orang yang mencukur dan memendekkan rambutnya, wahai Tuhan yang Maha Luas ampunan-Nya. Ya Allah tetapkanlah untukku setiap helai rambut kebajikan dan hapuskan untuk-ku setiap helai rambut keburukan dan tinggikan derajatku di sisi-Mu." baca jemaah saat melaksanakan tahallul.

Setelah mencukur rambut, jemaah memanjatkan syukur karena telah menyelesaikan salah satu tahapan penting dalam manasik haji.

"Segala puji bagi Allah yang telah menyelesaikan manasik kami, Ya Allah tambahkanlah kepada kami iman, keyakinan, bimbingan dan pertolongan dan ampunilah kami, kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin." ucap doa sesudah tahallul.

Tahap berikutnya adalah tawaf ifadah, yakni mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali, yang merupakan rukun yang tidak boleh ditinggalkan. Jemaah memulainya dari arah Hajar Aswad dengan posisi Ka'bah berada di sebelah kiri.

"Dengan menyebut nama Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah, aku beribadah atas dasar iman kepada-Mu, membenarkan Kitab-Mu (Al-Qur'an), menepati janji kepada-Mu, dan karena mengikuti Sunnah Nabi-Mu, junjungan kami Muhammad SAW." tutur doa saat memulai tawaf.

Setelah tawaf, jemaah melaksanakan sai atau berjalan bolak-balik sebanyak tujuh kali antara Bukit Shafa dan Marwah. Sebelum memulai perjalanan sai dari Bukit Shafa, terdapat doa khusus yang harus dibaca sebagai pembuka.

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. Aku memulai sai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya memulai." baca doa sebelum sai di Bukit Shafa.

Setelah menyelesaikan tawaf ifadah dan sai, jemaah memasuki tahap tahallul tsani yang membebaskan mereka dari seluruh larangan ihram. Jemaah kemudian kembali ke Mina untuk mabit pada hari-hari tasyrik.

"Ya Allah, tempat ini adalah Mina, anugerahilah aku apa yang Engkau telah anugerahkan kepada orang-orang yang dekat dan taat kepada-Mu." panjat jemaah setibanya di Mina.

Selama berada di Mina, suasana religius diperkuat dengan lantunan takbir yang dikumandangkan oleh para jemaah sebagai bentuk pengagungan kepada Tuhan.

"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan semua pujian bagi Allah Yang Maha Besar, Maha Suci Allah pada waktu siang dan malam. Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Satu, tiada sekutu bagi-Nya dengan memurnikan ibadah semata kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir benci. Tiada Tuhan selain Allah dengan keesaan-Nya, Tuhan yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan sendiri musuh-musuhnya-Nya, tiada Tuhan kecuali Allah dan Allah Maha Besar." bunyi takbir jemaah di Mina.

Seluruh rangkaian haji ditutup dengan tawaf wada sebagai penghormatan terakhir kepada Baitullah sebelum jemaah bertolak meninggalkan kota Makkah untuk kembali ke daerah asal.

"Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Maha Suci Allah dan segala puji hanya kepada Allah, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Besar, tiada daya (untuk meraih manfaat) dan tiada kekuatan (untuk menolak bahaya), kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Sholawat dan salam bagi junjungan Rasulullah SAW. Ya Allah, aku datang kemari karena iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, memenuhi janji-Mu dan karena mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW. Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan Engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa mengembalikan, kembalikan aku ke tempatku. Wahai Tuhan Yang Maha Mendengar, kabulkanlah permohonanku. Wahai Tuhan Yang Maha Memperbaiki, perbaikilah aku. Wahai Tuhan Yang Maha Pelindung, tutuplah aibku. Wahai Tuhan Yang Maha Kasih Sayang, sayangilah aku. Wahai Tuhan Yang Kuasa Mengembalikan, Maha kembalikan aku ke Ka'bah ini dan berilah aku rezeki untuk kembali lagi berkali-kali dalam keadaan bertaubat, beribadah, dan berpuasa sambil memuji. Maha benar Allah dengan janji-Nya, menolong hamba-Nya, yang menghancurkan sendiri musuh-musuh-Nya. Ya Allah, peliharalah aku dari sisi kanan dan kiri, depan dan belakang, dari sebelah atas dan bawah sampai Engkau mengembalikan aku kepada keluarga dan tanah airku. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami, lipatlah bumi untuk kami. Ya Allah, Engkau Pengiring perjalanan dan Pengganti dalam keluarga. Ya Allah, sertailah perjalanan kami dan gantilah kedudukan kami dalam keluarga yang ditinggal, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih melebihi segala pengasih, wahai Tuhan Yang Memelihara seluruh alam." ucap doa penutup tawaf wada.

Artikel terkait

Rekomendasi