PT Kereta Api Indonesia (KAI) segera mengoperasikan layanan kereta api baru bernama KA Sangkuriang untuk melayani relasi Stasiun Bandung menuju Stasiun Ketapang, Banyuwangi, mulai Jumat (1/5/2026). Penamaan kereta api eksekutif dan ekonomi ini mengambil inspirasi dari legenda rakyat Jawa Barat mengenai asal-usul Gunung Tangkuban Parahu.
Pengoperasian perdana KA Sangkuriang dengan nomor perjalanan 7044A dijadwalkan berangkat dari Stasiun Bandung pada awal Mei mendatang. Sebaliknya, rute dari arah timur melalui KA Sangkuriang 7043A relasi Ketapang-Bandung akan mulai melayani penumpang pada Sabtu (2/5/2026) sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Identitas layanan transportasi ini sangat lekat dengan budaya Sunda, terutama kisah Sangkuriang yang merupakan putra dari Dayang Sumbi dan Si Tumang. Berdasarkan catatan sejarah budaya, legenda ini bermula dari hukuman sepasang dewa dan dewi yang menjelma menjadi hewan di bumi sebelum akhirnya menurunkan garis keturunan manusia.
Dalam narasi tradisional, Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda sakti yang tanpa sengaja membunuh ayahnya sendiri, Si Tumang, saat berburu di hutan. Peristiwa tersebut memicu kemarahan Dayang Sumbi yang kemudian melukai kepala putranya hingga Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara dalam waktu yang lama.
Konflik utama legenda ini terjadi saat Sangkuriang kembali dan jatuh cinta kepada ibunya sendiri tanpa menyadari hubungan darah mereka. Dayang Sumbi yang mengetahui identitas pria tersebut kemudian mengajukan syarat pembuatan perahu dan telaga dalam satu malam dengan membendung Sungai Citarum untuk menggagalkan rencana pernikahan.
Kegagalan memenuhi syarat tersebut membuat Sangkuriang murka dan menendang perahu buatannya hingga jatuh menelungkup. Bekas perahu yang terlempar ke arah utara itulah yang dipercaya masyarakat secara turun-temurun berubah menjadi Gunung Tangkuban Parahu di wilayah Bandung, Jawa Barat.