Lembaga Nusantara AI Institute meluncurkan inisiatif nirlaba pendidikan teknologi melalui dialog perdana di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) New York, Amerika Serikat, pada Senin (4/5/2026). Langkah ini bertujuan memperluas akses pendidikan kecerdasan buatan (AI) yang relevan bagi angkatan kerja muda di Indonesia.
Dilansir dari Lestari, pendiri Nusantara AI Institute Oliver Tedja menilai bahwa ketersediaan materi pendidikan AI yang praktis masih sangat terbatas meskipun Indonesia memiliki potensi demografi yang besar. Dialog tersebut melibatkan pakar global, diaspora, dan sejumlah tokoh nasional untuk merumuskan peran AI dalam pembangunan nasional.
Oliver Tedja menjelaskan bahwa penguasaan teknologi ini telah bertransformasi menjadi elemen krusial dalam menentukan posisi sebuah negara di tingkat internasional. Hal ini mencakup aspek kekuatan ekonomi hingga pengaruh geopolitik global.
"Negara yang memimpin di bidang ini akan membentuk masa depan, sementara yang tertinggal berisiko menjadi bergantung," ujar Oliver Tedja, Pendiri Nusantara AI Institute.
Inisiatif ini dirancang agar sumber daya manusia Indonesia memiliki kesiapan menghadapi perubahan industri yang sangat cepat. Oliver menekankan perlunya pemerataan akses pendidikan mengingat tantangan geografis dan kesenjangan literasi yang masih ada.
Sandiaga Uno, yang hadir dalam forum tersebut, memberikan penekanan bahwa pemahaman terhadap AI bukan lagi sebuah opsi bagi generasi mendatang. Ia menyetarakan kemampuan teknis ini dengan kemampuan literasi dasar yang wajib dimiliki setiap individu.
"Ini bukan lagi sekadar keterampilan tambahan. Literasi AI akan membuka peluang karier baru di berbagai sektor," ujar Sandiaga Uno, Tokoh Nasional.
Hingga saat ini, Nusantara AI Institute telah memfasilitasi lebih dari 20 kursus gratis bagi masyarakat. Program tersebut mencakup pengenalan literasi dasar, implementasi AI untuk kebutuhan dunia bisnis, hingga pendalaman aspek teknis yang lebih kompleks.
Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert O. Blake Jr., turut memberikan perspektif mengenai urgensi otomatisasi dan produktivitas di dunia kerja. Ia berpendapat bahwa ketergantungan pada jumlah penduduk saja tidak cukup untuk menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Peningkatan keterampilan teknis dianggap sebagai kebutuhan mendesak untuk mengubah struktur ekonomi Indonesia agar lebih kompetitif. Acara di New York tersebut juga dihadiri oleh Duta Besar David N. Merrill sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan teknologi nasional.