Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada April 2026. Meskipun positif, angka surplus kali ini mengalami penyusutan yang cukup signifikan menjadi sebesar US$89,1 juta.
Capaian tersebut jauh di bawah performa bulan Maret 2026 yang sempat menyentuh angka US$3,32 miliar. Bahkan jika dibandingkan dengan periode April tahun sebelumnya, angka ini masih lebih rendah dari surplus kala itu yang sebesar US$160 juta.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa tren positif ini sebenarnya telah bertahan sangat lama. Indonesia tercatat telah menjaga posisi surplus selama 70 bulan secara beruntun sejak Mei 2020.
Kondisi surplus pada April 2026 ini dipicu oleh nilai ekspor yang mencapai US$25,30 miliar. Angka tersebut sedikit melampaui total nilai impor nasional yang berada di level US$25,21 miliar.
Kinerja Ekspor April 2026
Sepanjang April 2026, total nilai ekspor Indonesia berhasil tumbuh sebesar 21,98 persen secara tahunan (yoy). Pada periode yang sama di tahun 2025, nilai ekspor tercatat hanya sebesar US$20,74 miliar.
Sektor industri pengolahan menjadi motor utama dengan nilai mencapai US$20,59 miliar atau melonjak 29,07 persen dibanding tahun lalu. Pertumbuhan ini didorong oleh komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, produk nikel, dan komponen elektronik.
Daftar komoditas utama yang mendorong kenaikan ekspor tahunan:
- Minyak kelapa sawit dan produk turunannya.
- Produk olahan nikel dan kimia dasar organik.
- Barang perhiasan serta logam berharga.
- Semi konduktor dan berbagai komponen elektronik.
Peningkatan pada sektor industri ini menunjukkan daya saing produk manufaktur Indonesia yang semakin menguat di pasar global. Namun, beberapa sektor lain justru tercatat mengalami penurunan performa dibandingkan tahun sebelumnya.
Sektor pertambangan mengalami koreksi tipis sebesar 1,17 persen dengan nilai US$3,11 miliar. Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 5,53 persen menjadi US$450 juta dari sebelumnya US$480 juta.
Analisis Impor dan Sektor Pendukung
Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada April 2026 menyentuh angka US$25,21 miliar. Realisasi ini menunjukkan kenaikan pesat sebesar 22,49 persen jika dibandingkan dengan posisi April tahun 2025.
Lonjakan paling tajam terjadi pada impor minyak dan gas (migas) yang meroket hingga 82,52 persen secara tahunan. Sementara itu, impor nonmigas juga ikut merangkak naik sebesar 14,11 persen menjadi US$20,62 miliar.
Berikut adalah rincian data impor berdasarkan kategori penggunaan barang:
| Kategori Barang | Nilai Impor (US$) | Pertumbuhan (yoy) |
|---|---|---|
| Bahan Baku/Penolong | 18,65 Miliar | 24,56% |
| Barang Modal | 4,13 Miliar | 5,64% |
| Barang Konsumsi | 2,43 Miliar | 42,90% |
Tabel di atas menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap bahan baku industri dan barang konsumsi dari luar negeri masih cukup tinggi. Kenaikan impor barang modal sebesar 5,64 persen juga mencerminkan adanya aktivitas investasi yang tetap berjalan.
Secara keseluruhan, meskipun angka surplus menipis, keberlanjutan tren positif selama 70 bulan menjadi sinyal resiliensi ekonomi nasional. Pemerintah dan pelaku usaha kini menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekspor dan laju impor yang kian meningkat.