Puluhan perahu nelayan menggelar aksi demonstrasi di perairan Cilincing, Jakarta Utara, pada 14 April 2026 sebagai bentuk protes terhadap proyek pembangunan tol laut dan reklamasi. Massa menuntut perhatian pemerintah karena aktivitas melaut mereka terganggu oleh penyempitan jalur akses kapal.
Aksi ini dipicu oleh kekhawatiran masyarakat pesisir terhadap dampak fisik pembangunan infrastruktur yang sedang berlangsung. Sebagaimana dilansir dari Kompas, para nelayan mengeluhkan sulitnya navigasi kapal akibat area kerja proyek yang bersinggungan langsung dengan rute tradisional mereka.
Ketua Komunitas Nelayan Cilincing, Edy, mengungkapkan bahwa partisipasi dalam aksi tersebut melibatkan massa dalam jumlah besar. Edi juga memberikan penekanan terkait minimnya proses komunikasi antara pelaksana proyek dengan warga terdampak sebelum pembangunan dimulai.
"Ketua Komunitas Nelayan Cilincing, Edy, menyebut jumlah peserta mencapai ratusan orang." kata Edy.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa jalur keluar masuk perahu kini terjepit di antara tiang-tiang pancang proyek dan area reklamasi dermaga. Para nelayan menyatakan lebar jalur yang tersedia saat ini hanya tersisa sekitar 20 meter, yang dianggap sangat berisiko saat cuaca buruk.
Nelayan setempat, Wasran, menjelaskan bahwa ruang gerak yang semakin terbatas tersebut menjadi ancaman nyata bagi keselamatan kerja mereka di laut. Jarak antar material bangunan proyek dinilai terlalu sempit untuk dilewati perahu-perahu nelayan dengan aman.
"Sementara Wasran mengatakan akses keluar masuk sempit dapat membahayakan nelayan." ujar Wasran.
Pihak pengembang melalui PT Pelindo memberikan tanggapan atas keluhan yang disampaikan oleh komunitas nelayan tersebut. Perusahaan mengeklaim telah mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menjalankan pemancangan infrastruktur di area Kalibaru.
Pimpinan Proyek Kalibaru dan NPEA (PT Pelindo), Arwin, menegaskan bahwa operasional proyek tetap memprioritaskan faktor keselamatan bagi semua pihak yang beraktivitas di sekitar lokasi. Pihak manajemen menyatakan kesiapan untuk duduk bersama mencari titik temu dengan masyarakat terdampak.
"Di sisi lain, Pimpinan Proyek Kalibaru dan NPEA (PT Pelindo), Arwin menyebut pembangunan tol laut memperhatikan keselamatan dan aktivitas nelayan." tutur Arwin.
Saat ini, PT Pelindo menyatakan sikap terbuka untuk membuka ruang komunikasi lebih lanjut guna membahas solusi atas kendala yang dihadapi nelayan Cilincing. Pertemuan koordinasi diharapkan dapat segera dilakukan untuk mencegah konflik berkepanjangan di area proyek.