Negara Teluk Borong Senjata Laser China Demi Tangkal Drone

Negara Teluk Borong Senjata Laser China Demi Tangkal Drone
Foto: Ilustrasi Negara Teluk Borong Senjata Laser China Demi Tangkal Drone.

Sejumlah negara di kawasan Teluk Arab kini tengah mempercepat langkah untuk mengadopsi sistem pertahanan berbasis senjata laser.

Langkah ini diambil menyusul maraknya penggunaan pesawat tanpa awak atau drone dalam berbagai konflik regional belakangan ini.

Dikutip dari Detik iNET, netizen sempat mendeteksi keberadaan sistem laser buatan China yang terpasang pada sebuah kendaraan di bandara Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Sistem persenjataan tersebut diyakini memiliki kemampuan khusus untuk melumpuhkan drone yang melintas di area sensitif.

Kawasan UEA sendiri saat ini telah memiliki sistem laser Iron Beam yang merupakan pinjaman dari Israel.

Selain itu, UEA juga dilaporkan berupaya membeli senjata laser buatan Amerika Serikat (AS) serta menjalin kesepakatan bersama dengan perusahaan Eropa untuk mengembangkan teknologi serupa.

Tren akuisisi teknologi militer ini juga merambah ke negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah.

Pada akhir tahun 2025, sebuah perusahaan transportasi secara tidak sengaja mengungkap Oman sebagai pembeli lain dari sistem senjata laser buatan China melalui unggahan foto pengiriman logistik militer mereka.

Sementara itu, Qatar mulai menjajaki pembelian sistem pertahanan udara Steel Dome milik Turki yang terintegrasi dengan teknologi laser setelah terjadinya serangan Israel ke ibu kota mereka.

Di sisi lain, militer Arab Saudi dikabarkan telah melakukan uji coba terhadap sistem senjata laser asal China.

Beberapa pengamat militer menyebutkan bahwa Arab Saudi telah mendatangkan delapan unit sistem Silent Hunter buatan China dan berencana menambah pasokan senjata laser dari AS.

Mantan reporter yang mengelola Laser Wars, Jared Keller, mencatat bahwa perkembangan senjata laser global mengalami percepatan luar biasa sepanjang April dan Mei.

Menurutnya, ketegangan militer yang melibatkan Iran telah membawa teknologi yang dulunya dianggap fiksi ilmiah ini menjadi lebih dekat dengan realitas konflik dunia nyata.

Militer AS sendiri sebenarnya sudah berhasil menembak jatuh drone menggunakan teknologi laser sejak masa pengujian pada tahun 1973.

Seiring waktu, teknologi penembak jitu ini terus berevolusi hingga menjadi perangkat yang lebih ringkas dengan performa yang jauh lebih optimal.

Secara teknis, laser masuk ke dalam kategori Senjata Energi Terarah atau Direct Energy Weapons (DEW).

Sistem ini terbagi menjadi dua jenis utama, yakni laser berenergi tinggi yang memancarkan sinar untuk merusak atau membutakan target, serta senjata gelombang mikro berdaya tinggi yang memicu malfungsi sistem elektronik target.

Faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa banyak negara kini melirik senjata laser sebagai alternatif sistem pertahanan udara mereka.

"Maraknya peperangan drone memperumit perhitungan ekonomi dalam peperangan konvensional," jelas Keller.

Keller menilai tindakan menembak jatuh drone murah dengan menggunakan rudal konvensional yang berharga mahal merupakan langkah yang tidak efisien dari segi anggaran.

Pihak produsen mengklaim bahwa biaya operasional untuk setiap tembakan laser hanya berkisar antara USD 3 hingga USD 5.

"Negara mana pun yang menghadapi ancaman mendesak dari tetangga regionalnya pasti ingin mempercepat penggunaan sistem ini," kata Keller.

Kelemahan Sistem Laser di Lingkungan Ekstrem

Meskipun menawarkan efisiensi biaya, senjata laser dinilai bukan merupakan solusi tunggal yang sempurna untuk mengatasi segala ancaman udara.

Keller berpendapat bahwa senjata ini baru akan memberikan hasil yang maksimal jika dipadukan ke dalam sistem pertahanan udara berlapis yang berskala lebih besar.

Teknologi laser memiliki keterbatasan teknis operasional yang cukup signifikan dalam pertempuran nyata.

Sinar laser hanya bisa bergerak dalam garis lurus dan memiliki jangkauan jarak yang terbatas, di mana sistem Iron Beam saja tercatat hanya mampu menjangkau jarak 10 kilometer pada satu waktu.

Selain itu, penembak harus menahan pancaran sinar pada target dalam jangka waktu tertentu, yang menjadi tantangan besar jika harus menghadapi drone dengan kecepatan tinggi.

Faktor alam seperti kelembapan udara, hujan, kabut, salju, badai pasir, debu, hingga uap air laut juga dapat mengganggu efektivitas hantaran energi sinar laser.

Suhu ekstrem di wilayah Timur Tengah pun berpotensi merusak komponen sensitif di dalam perangkat militer ini, sehingga membutuhkan pasokan energi yang jauh lebih besar untuk sistem pendinginan mesin.

Kendala-kendala teknis akibat cuaca panas tersebut kabarnya sempat dikeluhkan oleh pihak militer Arab Saudi saat mereka melakukan uji coba unit laser buatan China.

Sistem Iron Beam sendiri diketahui belum dioperasikan secara penuh dalam konflik bersenjata.

Meski varian awalnya sempat menjatuhkan drone milik kelompok Hizbullah, Jerusalem Post melaporkan bahwa militer Israel setidaknya masih membutuhkan 14 baterai tambahan agar sistem tersebut berfungsi efektif.

Oleh karena itu, pengiriman unit laser Iron Beam ke UEA diduga kuat lebih merupakan bagian dari manuver diplomatik antarnegara.

Dosen School of Security Studies di King's College London, Andreas Krieg, menambahkan bahwa langkah negara-negara Teluk membeli senjata dari berbagai produsen global merupakan strategi diversifikasi pertahanan.

"Ketergantungan berlebihan pada AS tak membuahkan hasil. Dalam jangka menengah hingga panjang, negara Teluk harus menemukan cara untuk meningkatkan kemandirian," cetusnya.

Artikel terkait

Rekomendasi