Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menekankan urgensi pemasangan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) pada prasarana perlintasan sebidang. Langkah ini dinilai mendesak guna mengantisipasi tingginya angka kecelakaan kereta api yang tercatat mencapai 40 kejadian sepanjang tahun 2026 hingga Kamis (30/4/2026).
Wakil Forum Perkeretaapian MTI, Muhammad Fahmi Arsyad, menjelaskan bahwa perbaikan sisi prasarana merupakan hal yang paling mendasar meskipun memerlukan proses yang tidak instan. Pernyataan tersebut disampaikan Fahmi dalam dialog Sapa Indonesia Pagi di Kompas TV sebagai respon atas rentetan kecelakaan kereta api.
"Jadi yang paling urgen yang bisa dilakukan adalah terkait dari sisi prasarananya, dari sisi pintu perlintasan memang paling tidak ada langkah-langkah yang cepat, misalnya dipasang early warning system," ucap Muhammad Fahmi Arsyad, Wakil Forum Perkeretaapian MTI.
Fahmi menambahkan bahwa implementasi teknologi ini akan memberikan tanda peringatan suara secara otomatis kepada pengguna jalan saat rangkaian kereta api mulai mendekati lokasi perlintasan.
"Jadi ketika kereta mendekat itu paling tidak ada sirine yang berbunyi, itu juga bisa diimplementasikan," kata Muhammad Fahmi Arsyad, Wakil Forum Perkeretaapian MTI.
Selain masalah infrastruktur, MTI menyoroti aspek sumber daya manusia, khususnya kompetensi para penjaga palang pintu perlintasan. Berdasarkan data yang dihimpun MTI, terdapat tujuh kecelakaan yang dipicu oleh petugas yang belum memiliki sertifikasi resmi.
"Kemudian pendidikan terhadap penjaga pintu, itu juga harus di refreshment. Kalau kita buka data itu sepanjang 2026 kejadian kecelakaan di pintu perlintasan, baik yang liar maupun yang terjaga itu ada 40 sampai di terakhir di kejadian Bekasi kemarin." ujar Muhammad Fahmi Arsyad, Wakil Forum Perkeretaapian MTI.
Fahmi menegaskan pentingnya pemahaman petugas terhadap semboyan darurat agar komunikasi dengan masinis dapat berjalan efektif saat situasi kritis terjadi di lapangan.
"Nah ini ada beberapa kejadian, kami mencatat ada tujuh kejadian yang memang diakibatkan karena si penjaga pintu belum tersertifikasi dengan baik," ucap Muhammad Fahmi Arsyad, Wakil Forum Perkeretaapian MTI.
Refresmen pengetahuan bagi para penjaga pintu sangat diperlukan karena masinis hanya akan merespons tanda-tanda yang sesuai dengan prosedur keselamatan resmi perkeretaapian.
"Nah, tapi ketika semboyan itu sembarangan, kan masinis tidak menganggap bahwa itu sebagai semboyan darurat, begitu. Nah, ini yang butuh di-refreshment lagi tuh si teman-teman di penjaga pintu," ucap Muhammad Fahmi Arsyad, Wakil Forum Perkeretaapian MTI.
Dilansir dari Kompas, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kesalahan tidak selalu berada di pihak pengguna jalan raya. Kelalaian petugas yang tidak tersertifikasi terbukti menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan pada tahun ini.
"Memang kalau kita lihat selama ini, mungkin kita menganggap bahwa si pengguna jalan raya yang menerobos ya. Tapi faktanya di lapangan adalah sepanjang 2026 ini ada beberapa kejadian yang karena si penjaga pintunya yang belum tersertifikasi atau sedikit lalai, seperti itu." ucap Muhammad Fahmi Arsyad, Wakil Forum Perkeretaapian MTI.
MTI mendorong Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan intensitas pengawasan langsung melalui mekanisme ramp check atau pengecekan fisik di setiap titik perlintasan.
"Ditjen Perekeretaapian punya yang namanya sistem manajemen keselamatan perkeretaapian, nah itu bisa dilakukan ramp check atau pengecekan langsung ke lapangan." ucap Muhammad Fahmi Arsyad, Wakil Forum Perkeretaapian MTI.
Pengecekan aktual tersebut diharapkan dapat membantu regulator dalam merumuskan rencana kebijakan keselamatan jangka panjang yang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
"Jadi supaya dari teman-teman regulator juga mereka bisa melihat kondisi aktual di lapangan, kemudian bisa disesuaikan tadi dengan rencana ke depannya seperti itu," ucap Muhammad Fahmi Arsyad, Wakil Forum Perkeretaapian MTI.