MK Soroti Hangusnya Sisa Kuota Internet Akibat Batasan Waktu

MK Soroti Hangusnya Sisa Kuota Internet Akibat Batasan Waktu
Foto: Ilustrasi MK Soroti Hangusnya Sisa Kuota Internet Akibat Batasan Waktu.

Hakim Konstitusi Guntur Hamzah mempertanyakan kebijakan operator seluler yang menghanguskan sisa kuota data internet pelanggan akibat batasan waktu pada sidang perkara nomor 33/PUU-XXIV/2026 dan 273/PUU-XXIII/2025 di Jakarta, Senin (4/5/2026), sebagaimana dilansir dari Nasional.

Persoalan ini mencuat setelah adanya perbedaan persepsi antara pelanggan dan penyedia jasa telekomunikasi mengenai status kuota yang telah dibeli. Masyarakat menganggap kuota sebagai barang milik pribadi, sementara operator mendefinisikannya sebagai layanan jasa yang terikat durasi tertentu.

"Sudut pandang masyarakat, publik, customer, pelanggan ini mengatakan, 'saya beli Rp 25.000 untuk 10 Gigabyte, tapi kok baru 9 GB sudah selesai' (tak bisa digunakan lagi)," kata Guntur Hamzah dalam sidang perkara Nomor 33/PUU-XXIV/2026 dan 273/PUU-XXIII/2025, Senin (4/5/2026).

Guntur menjelaskan bahwa pandangan publik memiliki dasar hukum melalui yurisprudensi Mahkamah Agung terkait barang tidak terlihat seperti token listrik. Ia mendorong adanya opsi paket yang lebih fleksibel bagi konsumen agar tidak merasa dirugikan.

"Bapak mengatakan ini layanan, ini jasa, sementara masyarakat melihatnya ini adalah barang," tuturnya.

Penegasan mengenai status hukum ini didukung oleh pendapat sejumlah akademisi yang berkomunikasi langsung dengan hakim terkait sifat dasar paket data. Meskipun pengenaan pajak saat ini menggunakan skema jasa, persepsi masyarakat tetap menganggapnya sebagai komoditas yang utuh.

"Tetapi apakah ini bukan barang? jangan salahkan masyarakat, saya banyak guru besar ngirim SMS ke saya dia bilang 'itu (kuota internet) bukan jasa, itu tuh barang," ucapnya.

Sebagai solusi, Guntur menyarankan agar operator memberikan kebebasan lebih luas kepada pelanggan dalam memilih skema pemakaian data. Hal ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan sudut pandang antara kedua belah pihak.

"Kasih pilihan saja, ada pilihannya berdasarkan waktu ada pilihannya berdasarkan misalnya berapa giga, gitu kan," tandasnya.

Menanggapi hal tersebut, VP Head of Prepaid Product and Pricing Strategy Indosat, Nicholas Yulius Munandar menyatakan bahwa penghapusan batasan waktu pada layanan berbasis volume berisiko mengganggu pengelolaan jaringan. Menurutnya, hal tersebut dapat memicu kenaikan tarif layanan secara umum.

ÔÇ£Pada dasarnya operator harus menyediakan kapasitas untuk jangka waktu yang tidak dapat diprediksi yang pada akhirnya akan mempengaruhi perencanaan kapasitas serta pengelolaan jaringan secara keseluruhan yang berpotensi mendorong perubahan atau kenaikan pada struktur tarif secara umum,ÔÇØ paparnya.

Nicholas berargumen bahwa penyeragaman model layanan justru akan berdampak buruk bagi pelanggan. Ia menilai pengguna paket murah dengan batas waktu tertentu menjadi pihak yang paling terdampak jika aturan tersebut diubah.

ÔÇ£Kerugian yang paling signifikan apabila permohonan ini dikabulkan justru akan dirasakan oleh para pelanggan itu sendiri terutama mereka yang selama ini mengandalkan layanan dengan batas waktu tertentu yang lebih terjangkau,ÔÇØ kata Nicholas.

Indosat menegaskan bahwa kebutuhan masyarakat sangat beragam sehingga tidak mungkin menggunakan pendekatan tunggal dalam merancang layanan internet. Data internal perusahaan menunjukkan mayoritas pelanggan masih menyukai paket dengan masa berlaku tetap.

ÔÇ£Hal ini merupakan realitas yang menunjukkan bahwa layanan data internet tidak dapat dirancang dengan hanya satu pendekatan yang seragam,ÔÇØ katanya.

Berdasarkan lampiran dokumen data per 31 Maret 2026, tercatat sebanyak 95 persen pelanggan Indosat masih memilih paket non-rollover. Sementara itu, hanya 5 persen pelanggan yang menggunakan model paket rollover atau akumulasi sisa data.

ÔÇ£Berdasarkan data per 31 Maret 2026 sebagaimana terlampir di dokumen data menunjukkan bahwa 95 persen pelanggan paket internet Indosat masih memilih paket non rollover, sementara hanya 5 persen yang memilih paket dengan model rollover,ÔÇØ ungkapnya.

Pihak operator mengkhawatirkan upaya penyeragaman layanan demi segmen tertentu justru akan merugikan kelompok pelanggan lainnya di pasar. Fokus saat ini tetap pada penyediaan ragam pilihan paket sesuai kemampuan finansial pengguna.

ÔÇ£Aspirasi untuk menyeragamkan suatu model layanan berbasis volume tanpa parameter waktu untuk memenuhi kebutuhan hanya satu segmen pelanggan dikhawatirkan akan menimbulkan dampak kerugian kepada berbagai segmen pelanggan lainnya,ÔÇØ jelasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi