Misi Manusia ke Saturnus Butuh Waktu 17 Tahun dan 12 Ton Makanan

Misi Manusia ke Saturnus Butuh Waktu 17 Tahun dan 12 Ton Makanan
Foto: Ilustrasi Misi Manusia ke Saturnus Butuh Waktu 17 Tahun dan 12 Ton Makanan.

Eksplorasi ruang angkasa oleh manusia kini telah memasuki usia 65 tahun dengan rekor jarak terjauh dicapai melalui misi Artemis II pada April lalu. Kru misi tersebut berhasil menempuh jarak 406.771 kilometer dari Bumi, yang menjadi titik terjauh jangkauan manusia di kosmos saat ini.

Dilansir dari Detik iNET, potensi pengiriman manusia ke planet yang lebih jauh seperti Mars dinilai masih memungkinkan dengan durasi perjalanan sekitar tujuh bulan. Namun, tantangan yang jauh lebih masif muncul ketika membicarakan rencana misi menuju sistem Saturnus.

Sebuah studi mengevaluasi kelayakan pengiriman kru manusia untuk mengambil sampel dari Enceladus dan Titan, dua bulan milik Saturnus, lalu kembali ke Bumi. Hasil analisis menunjukkan bahwa misi pulang-pergi ke sistem planet bercincin tersebut diperkirakan bakal memakan waktu sekitar 17 tahun.

Meskipun durasinya sangat lama, teknologi pendukung untuk mewujudkan rencana besar ini diklaim sudah banyak tersedia. Salah satu strategi kunci untuk memangkas beban pesawat adalah dengan memproduksi bahan bakar langsung di lokasi tujuan, yakni di bulan Titan.

Para ahli berencana memanfaatkan atmosfer Titan yang kaya akan metana serta kandungan es air di bawah permukaannya untuk diolah menjadi propelan roket. Strategi ini dianggap krusial karena kendaraan kepulangan membutuhkan pengisian ulang bahan bakar agar bisa lepas landas dari sana.

"Apa yang kami tunjukkan adalah pada dasarnya sangat memungkinkan untuk membuat propelan dari bahan-bahan yang kita miliki di Titan," ujar Geoffrey Landis, fisikawan sekaligus ilmuwan roket di NASA.

Landis menyarankan pengiriman misi robotik tanpa awak terlebih dahulu untuk membangun infrastruktur produksi bahan bakar atau 'pom bensin antarplanet'. Langkah ini bertujuan agar kru manusia yang datang kemudian bisa langsung mengisi tangki dan segera memulai perjalanan pulang tanpa harus menunggu proses produksi bertahun-tahun.

Tantangan Logistik dan Radiasi

Meskipun teknologi bahan bakar tersedia, durasi 17 tahun tetap menjadi kendala psikologis dan biologis yang berat bagi manusia. Aspek logistik, terutama kebutuhan konsumsi, menjadi persoalan yang sangat rumit karena astronaut memerlukan asupan kalori yang lebih tinggi daripada manusia di Bumi.

"Perjalanan pulang perginya memakan waktu yang sangat lama, 17 tahun berangkat dan pulang, jadi ini bukanlah misi yang cepat. Itu mungkin agak terlalu lama bagi manusia," kata Landis.

Tanpa kemampuan memproduksi pangan dalam skala besar di dalam pesawat, setiap astronaut wajib membawa seluruh kebutuhan makanan mereka dari Bumi. Dengan estimasi konsumsi 2 kilogram makanan per hari, total berat logistik pangan mencapai lebih dari 12 ton untuk setiap orang selama durasi misi.

Selain masalah makanan, risiko paparan radiasi ruang angkasa dalam jangka panjang memerlukan sistem perlindungan ekstra pada badan pesawat. Bobot pelindung radiasi ini diprediksi akan menambah beban pesawat secara signifikan sehingga penggunaan mesin kimia konvensional dianggap kurang efisien.

"Itu akan menjadi perjalanan yang amat sangat panjang jika Anda menggunakan sistem propulsi kimia yang ada saat ini. Saya sangat menginginkan sistem propulsi berdaya dorong lebih kuat. Ini akan jadi sistem di mana Anda benar-benar akan memanfaatkan reaktor nuklir," ujar Landis.

Artikel terkait

Rekomendasi