Mimi Campervan: Melawan Stigma Lewat Kemandirian di Atas Roda

Mimi Campervan: Melawan Stigma Lewat Kemandirian di Atas Roda
Foto: Ilustrasi Mimi Campervan: Melawan Stigma Lewat Kemandirian di Atas Roda.

Semangat emansipasi perempuan tak hanya hadir dalam ruang-ruang formal, tetapi juga tumbuh dari keberanian mengambil jalan hidup yang berbeda. Di tengah deru mesin dan debu jalanan, sosok Rahmi Shofia, atau yang akrab dikenal sebagai Mimi Campervan, muncul sebagai potret nyata perempuan yang memilih keluar dari zona nyaman. Ia memilih untuk menjelajah luasnya Indonesia seorang diri, hanya ditemani kendaraan yang telah dimodifikasi menjadi rumah berjalan.

Keputusan Mimi untuk berkeliling Indonesia menggunakan campervan tanpa pendamping tak lepas dari berbagai pandangan miring masyarakat. Hal ini terutama dirasakannya saat memulai perjalanan ketika ia masih menyandang status lajang.

"Waktu itu saya belum nikah ditanyain jalan-jalan perempuan sendirian gitu loh. Stigmanya tuh banyak negatifnya kan di awal-awal gitu," kata Mimi, mengenang awal perjalanannya.

Namun, ia memilih untuk tidak membiarkan stigma tersebut menghentikan langkahnya. Baginya, tindakan nyata adalah jawaban paling telak untuk membuktikan bahwa perempuan mampu melakukan perjalanan secara mandiri dan tetap bertanggung jawab atas keselamatannya sendiri.

"Tapi saya nunjukin bahwa enggak kok, perempuan kalau bukan dianggap apa liar atau apa gitu. Kita bisa melakukan hal yang bermanfaat gitu, kita juga bisa bertanggung jawab diri sendiri gitu," terang Mimi, menekankan martabat seorang pengelana perempuan.

Meski terlihat berani melangkah sendirian ke berbagai pelosok, Mimi menegaskan bahwa perjalanannya bukan tanpa perhitungan. Baginya, sikap rendah hati dan cara membawa diri di lingkungan baru adalah kunci utama agar tetap aman selama berada di jalanan.

"Perjalanan sendiri harus bekali juga, jangan takabur, jangan sok tahu gitu. Tetap bekali diri juga," imbaunya dengan nada serius.

Pengetahuan tentang daerah tujuan dan kesiapan mental menjadi pondasi utama. Mimi juga sangat menekankan pentingnya menghormati adat istiadat setempat. Ia pernah belajar banyak tentang batasan budaya saat berada di wilayah timur Indonesia.

"Kayak saya waktu ke timur, ada rumah adat waktu di timur Leste kayak perbatasan gitu. Perempuan enggak boleh masuk ke rumah itu, yaa saya hargai gitu," ucap Mimi, memberikan contoh tentang toleransi budaya.

Keamanan fisik pun tidak luput dari perhatiannya. Selain menyiapkan kondisi teknis kendaraan dan kebutuhan logistik sehari-hari, ia selalu membawa alat perlindungan diri sebagai langkah antisipasi terakhir jika terjadi situasi berbahaya.

Mimi tidak memungkiri bahwa di dalam mobilnya selalu tersedia perlengkapan pertahanan diri mulai dari semprotan merica hingga senjata tajam.

Filosofi Perjalanan dan Kemandirian Finansial

Meninggalkan pekerjaan tetap demi hidup di jalanan adalah perjudian besar yang diambil Mimi. Ia mengakui bahwa ada sedikit bumbu kegilaan yang memicu keberaniannya, namun semuanya tetap harus dikalkulasi dengan logika yang sehat.

"Ini tuh memang harus ada perhitungan ya. Dan sedikit kadar gila yang pasti bisa membuat memicu ya," ujarnya sembari tertawa renyah.

Salah satu aspek yang paling ditekankannya bagi siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya adalah kesiapan materi. Ia sangat melarang perjalanan nekat tanpa dukungan finansial yang cukup karena hal itu hanya akan merepotkan orang lain di sepanjang jalan.

"Menurut saya finansial itu seperti punya tabungan itu wajib. Jangan sampai nanti di jalan malah beban buat orang lain," ia mengingatkan dengan tegas.

Perjalanan panjang ini bagi Mimi adalah sebuah ziarah batin untuk menemukan jati diri yang selama ini tersembunyi di balik rutinitas kota besar.

"Ternyata kalau kita di melakukan perjalanan kita akan menemukan diri kita sendiri sih. Karena itu kan di luar zona nyaman kita," ujarnya reflektif.

Melalui setiap tantangan yang menghadang, Mimi merasa potensi dirinya terus terasah. Ia pun mengajak perempuan lain untuk tidak ragu menciptakan momentum mereka sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain.

"Pesen saya nggak perlu nunggu orang lain atau nunggu siapapun, lu bisa kok jalan sendiri terus dengan apa yang lu miliki gitu. Saya seneng banget tuh ngeliat cewek-cewek sekarang banyak banget tuh ngelakuin traveling sendiri," jelas Mimi dengan penuh semangat.

Bagi Mimi, kemandirian adalah otot yang harus dilatih melalui keberanian untuk melangkah maju, apapun kondisinya.

"Jadi kayaknya kita tuh memang harus mengandalkan diri kita sih gitu. Bagaimanapun dan di situasi apapun," lanjut Mimi, menegaskan prinsip hidupnya.

Misi Terakhir Sebelum Menetap di Benua Biru

Setelah sempat menyelesaikan satu fase perjalanan besar di tahun 2024, Mimi rupanya belum ingin benar-benar berhenti. Ia masih memiliki satu misi terakhir untuk menyisir sisa-sisa keindahan Indonesia sebelum ia pindah ke Belanda untuk menetap bersama suaminya.

"Episode kedua itu dalam misi menyelesaikan Indonesia.Karena nanti saya bakal ikut suami saya pindah ke negaranya," ungkap Mimi mengenai rencana masa depannya.

Persiapan untuk fase kedua ini sudah dilakukan, termasuk memodifikasi kembali campervannya agar bisa mendukung misi sosial yang akan ia bawa di sepanjang rute perjalanannya nanti.

Mimi dijadwalkan akan kembali mengaspal pada awal Mei mendatang dengan rute yang menantang di wilayah tengah dan timur Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi