Meta tengah menggarap proyek kecerdasan artifisial (AI) berbentuk karakter fotorealistik yang mereplikasi sosok CEO Mark Zuckerberg untuk berinteraksi dengan staf internal. Dilansir dari Teknologi, teknologi ini berfungsi memberikan masukan serta saran strategi perusahaan secara otomatis ketika sang pendiri tidak bisa hadir langsung.
Pengembangan model AI ambisius ini dilakukan dengan melatih data perilaku, nada bicara, hingga pernyataan publik Zuckerberg terkait kebijakan korporasi. Inovasi tersebut diproyeksikan dapat memperkuat hubungan komunikasi antara pimpinan dengan sekitar 79.000 karyawan yang bekerja di Meta.
Mark Zuckerberg dilaporkan terlibat aktif dalam proses teknis pembuatan kloning dirinya secara personal. Mengutip laporan Engadget, pendiri Facebook tersebut meluangkan waktu sekitar lima hingga sepuluh jam setiap pekan guna meninjau teknis pengodean mandiri atau vibe coding.
Karakter AI ini memanfaatkan data gambar dan suara berkualitas tinggi demi menghasilkan replikasi persona eksekutif yang sangat akurat. Selain penggunaan di lingkungan internal, Meta berencana menawarkan teknologi serupa kepada kreator digital dan influencer untuk mengelola kehadiran virtual mereka.
"Meta yakin teknologi ini dapat membantu pengguna mengelola kehadiran virtual mereka sendiri," ujar sumber yang mengetahui rencana tersebut seperti dikutip dari Engadget pada Senin, 20 April 2026.
Perusahaan pimpinan Zuckerberg ini juga dikabarkan sedang menyiapkan proyek terpisah berupa agen AI khusus CEO. Alat tambahan tersebut dirancang untuk membantu Zuckerberg memproses informasi internal dan mencari jawaban secara lebih cepat guna menunjang produktivitas harian.
Efisiensi dan Tantangan Infrastruktur
Langkah ini diambil seiring instruksi manajemen agar seluruh staf mengoptimalkan penggunaan alat AI dalam operasional sehari-hari. Kepada para investor, Zuckerberg menyampaikan bahwa investasi pada alat bantu AI memungkinkan perusahaan menyelesaikan lebih banyak beban kerja dengan struktur tim yang lebih ramping.
Fokus efisiensi ini muncul bersamaan dengan kabar rencana restrukturisasi besar yang diprediksi akan menyasar 20% tenaga kerja Meta. Saat ini, sejumlah manajer produk mulai memberikan pelatihan standarisasi kemampuan berbasis AI dan latihan vibe coding kepada para staf.
Namun, proyek avatar fotorealistik ini menghadapi kendala teknis berupa kebutuhan daya komputasi yang masif. Beberapa sumber internal mengungkapkan kekhawatiran bahwa proyek ini berisiko menguras sumber daya infrastruktur digital perusahaan yang ketersediaannya kian terbatas.
Upaya ini bukan pertama kalinya bagi Meta, setelah sebelumnya sempat merilis chatbot selebritas pada Oktober 2023 yang berakhir dengan penghentian fitur karena ulasan negatif. Kini, melalui unit Superintelligence Labs, Meta juga telah meluncurkan model AI "Muse Sparks" yang diklaim memiliki kecepatan tinggi namun hemat daya.
Melalui pengembangan kloning digital ini, Meta berharap bisa menetapkan standar baru dalam interaksi kepemimpinan di era modern. Karyawan yang masih bertahan di perusahaan diprediksi akan segera berinteraksi dengan versi digital Zuckerberg untuk menerima berbagai arahan operasional.