CEO Meta Platforms Mark Zuckerberg mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 8.000 karyawan atau 10 persen dari total staf pada Sabtu (2/5/2026). Kebijakan ini diambil menyusul peningkatan investasi perusahaan pada teknologi kecerdasan buatan dan dampak ketidakpastian ekonomi global.
Langkah efisiensi ini merupakan respons atas beban biaya yang kini terkonsentrasi pada sektor infrastruktur komputasi serta kebutuhan sumber daya manusia. Dilansir dari Teknologi, perusahaan induk Facebook ini tercatat memiliki total 78.000 pegawai sebelum rencana pengurangan dilakukan.
Zuckerberg menegaskan bahwa keterbatasan modal mengharuskan perusahaan memilih prioritas pengembangan di tengah persaingan teknologi. Penyesuaian ukuran organisasi dianggap perlu agar alokasi dana untuk melayani komunitas tetap terjaga secara optimal.
"Jika kami berinvestasi lebih banyak di satu area untuk melayani komunitas, maka itu berarti kami memiliki lebih sedikit modal untuk dialokasikan ke area lainnya. Jadi, kami memang perlu mengurangi ukuran perusahaan sampai batas tertentu," kata Zuckerberg.
Efisiensi operasional juga dipicu oleh penggunaan teknologi yang membuat struktur tim menjadi lebih ramping. Zuckerberg mencontohkan bahwa banyak unit kerja yang sebelumnya padat karya kini dapat dikelola oleh jumlah personel yang jauh lebih sedikit.
"Jadi, kami perlu memperbaiki itu," imbuhnya.
Kondisi internal Meta saat ini tengah menghadapi tantangan moral karyawan yang menurun signifikan. Data platform anonim Blind menunjukkan sentimen negatif di lingkungan kerja perusahaan tersebut telah melonjak hingga empat kali lipat dibandingkan periode 2024.
Chief Financial Officer Meta Susan Li menjelaskan bahwa perusahaan sedang mengevaluasi struktur organisasi yang paling efisien. Penggunaan perangkat kecerdasan buatan kini menjadi instrumen utama dalam upaya mendongkrak produktivitas internal.
"Perusahaan sangat fokus memanfaatkan alat AI untuk meningkatkan produktivitas dan kami masih mencari ukuran organisasi yang paling optimal," ujarnya.
Meskipun biaya kompensasi diprediksi menurun pasca-PHK, perusahaan tetap harus mengantisipasi beban restrukturisasi jangka pendek. Chief People Officer Meta Janelle Gale mengakui adanya ketidakpastian terkait potensi pengurangan staf di masa mendatang.
"Apakah akan ada PHK lagi? Pertanyaan itu selalu muncul. Saya ingin mengatakan tidak akan ada lagi PHK, tetapi saya tidak bisa menjanjikan sesuatu yang tidak dapat kami penuhi," katanya.
Dari sisi eksternal, gejolak geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut membebani kinerja bisnis. Kenaikan harga energi disebut Zuckerberg telah mengalihkan minat belanja konsumen dari sektor diskresioner ke kebutuhan bahan bakar.
"Jika harga minyak naik, konsumen akan menghabiskan lebih banyak uang untuk minyak dan bahan bakar dan lebih sedikit untuk hal-hal yang bersifat diskresioner yang biasanya menjadi target iklan," jelasnya.
Kekhawatiran investor terhadap pembengkakan anggaran belanja modal hingga US$145 miliar menyebabkan saham Meta sempat terkoreksi 10 persen. Dana jumbo tersebut diproyeksikan untuk membangun infrastruktur AI dan pengembangan berbagai aplikasi baru di masa depan.