Menkes Budi Gunadi Pastikan Hantavirus Menular Melalui Hewan Pengerat

Menkes Budi Gunadi Pastikan Hantavirus Menular Melalui Hewan Pengerat
Foto: Ilustrasi Menkes Budi Gunadi Pastikan Hantavirus Menular Melalui Hewan Pengerat.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa penyebaran virus hanta atau Hantavirus dipicu oleh hewan pengerat seperti tikus dan bukan merupakan penularan antar-manusia pada Jumat (15/5/2026). Risiko fatalitas varian virus ini di Indonesia tercatat jauh lebih rendah dibandingkan varian yang ditemukan di Amerika Selatan.

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa tingkat kematian atau case fatality rate Hantavirus varian Asia berada pada rentang 5 hingga 15 persen. Sebaliknya, varian Andes di Amerika Selatan memiliki risiko kematian yang mencapai angka 50 hingga 60 persen karena menyerang organ paru-paru secara agresif.

"99 persen penularan Hantavirus terjadi melalui tikus, bukan antarmanusia," tegas Budi dalam keterangan pers, dikutip Jumat (15/5/2026).

Kesiapan infrastruktur kesehatan Indonesia disebut telah mengalami peningkatan signifikan dalam mendeteksi ancaman kesehatan global. Hal ini berkaitan dengan sistem pengawasan yang diperketat pasca krisis kesehatan berskala besar beberapa tahun lalu, sebagaimana dilansir dari Nasional.

"Indonesia sejak pandemi Covid-19 sudah jauh lebih baik dalam hal surveilans dan kerja sama internasionalnya," ucap Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.

Upaya pencegahan ditekankan pada pemutusan rantai interaksi dengan cairan tubuh hewan pengerat di lingkungan tempat tinggal maupun area kerja. Masyarakat diminta waspada terhadap paparan urine, feses, hingga gigitan tikus atau celurut yang menjadi medium utama virus.

"Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap menjaga kebersihan lingkungan, terutama dalam mencegah perkembangbiakan tikus di rumah, rumah makan, maupun tempat kerja," ucap Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.

Secara medis, Orthohantavirus terbagi menjadi dua manifestasi klinis utama, yaitu Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang berdampak pada ginjal serta Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) pada paru-paru. Masa inkubasi penyakit ini umumnya berlangsung selama satu hingga dua pekan.

Hingga saat ini, otoritas kesehatan mengonfirmasi belum tersedia pengobatan spesifik untuk mematikan virus tersebut. Penanganan medis yang diberikan kepada pasien sejauh ini masih bersifat simtomatis dan suportif guna meredakan gejala yang muncul pada penderita.

Artikel terkait

Rekomendasi