Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memaparkan kronologi kecelakaan maut antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026).
Insiden tragis yang dilaporkan menewaskan belasan orang tersebut terjadi pada Senin (27/4/2026) malam, di mana Menhub juga menampilkan video ilustrasi kejadian, sebagaimana dilansir dari Nasional.
Pemaparan data menunjukkan bahwa kecelakaan ini melibatkan 124 korban, dengan rincian 16 orang meninggal dunia, lima orang masih dirawat, dan 103 korban lainnya telah kembali ke rumah.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan bahwa peristiwa bermula ketika sebuah taksi mogok di tengah perlintasan sebidang JPL 85 kawasan Bekasi Timur.
"Berdasarkan kronologi awal, insiden kecelakaan bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi-Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85," ujar Dudy, dalam rapat kerja tersebut, Senin.
Menurut penjelasan Dudy, KA Commuter Line 5568A tiba di Stasiun Bekasi pukul 20.34 WIB, disusul KA Sawunggalih 116B pukul 20.35 WIB yang terlambat lima menit.
"KA Sawunggalih diberangkatkan pukul 20.37 dari Stasiun Bekasi dan melintas Stasiun Bekasi Timur pukul 20.39," kata Dudy.
Setelah itu, sebuah taksi hijau dilaporkan mogok di tengah rel hingga kemudian tertemper oleh KA 5181B relasi Cikarang-Jakarta pada pukul 20.48 WIB.
"Timbul kerumunan di mana warga melihat lokasi kecelakaan tersebut atau temperan tersebut," ujar dia.
Pada saat bersamaan, KRL 5568A berangkat dari Stasiun Bekasi pukul 20.45 WIB dan tiba di Stasiun Bekasi Timur pukul 20.49 WIB dalam kondisi terlambat sembilan menit.
"Kereta tersebut sempat berangkat, namun terhenti atau berhenti karena adanya kerumunan di depan untuk melihat kejadian temperan tersebut," kata dia.
Tidak lama setelah KRL berhenti akibat kerumunan warga, KA Argo Bromo Anggrek melintas dengan kecepatan 108 kilometer per jam pada pukul 20.51 WIB lalu memicu tabrakan.
"Tumburan terjadi pada jam 20.52," ujar Dudy.
Kementerian Perhubungan kini sedang menanti hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi mengenai penyebab pasti tabrakan maut tersebut.
"Kementerian Perhubungan menghormati proses investigasi yang saat ini masih berlangsung oleh KNKT, dan mendukung pelaksanaannya secara independen, profesional, serta transparan," ujar Dudy.
Langkah penanganan para korban dan pemulihan jalur rel saat ini menjadi prioritas utama pemerintah agar pelayanan transportasi publik bisa kembali berjalan normal.
"Berbagai langkah evaluasi, perbaikan, dan peningkatan aspek keselamatan transportasi menjadi fokus Kementerian Perhubungan dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat," pungkas Dudy.