Mengenal Sosok Bupati Tionghoa Pertama di Jawa Penemu Harta Karun yang Mengejutkan

Mengenal Sosok Bupati Tionghoa Pertama di Jawa Penemu Harta Karun yang Mengejutkan
Foto: Mengenal Sosok Bupati Tionghoa Pertama di Jawa Penemu Harta Karun yang Mengejutkan. (Illustration by Pexels)

Sejarah mencatat bahwa seorang tokoh keturunan Tionghoa memiliki peran yang sangat krusial dalam mengungkap kembali keberadaan mahakarya yang sempat terlupakan, yaitu Candi Borobudur.

Sosok tersebut adalah Tan Jin Sing, pria yang dikenal sebagai bupati Tionghoa pertama di tanah Jawa sekaligus informan kunci bagi pemerintah Inggris mengenai keberadaan candi raksasa tersebut.

Kisah luar biasa ini bermula pada awal abad ke-19, tepatnya saat Inggris mulai menancapkan kekuasaannya di Pulau Jawa sekitar tahun 1811.

Pada masa itu, Tan Jin Sing merupakan tokoh yang memiliki pengaruh besar dan menjalin hubungan sangat dekat dengan pemerintah kolonial Inggris maupun pihak Keraton Yogyakarta.

Berkat hubungan diplomatik dan dukungan politiknya yang kuat, Tan Jin Sing akhirnya dipercaya untuk menduduki posisi penting di struktur pemerintahan saat itu.

Sebagai bentuk penghargaan atas loyalitasnya kepada Keraton Yogyakarta dan Inggris, ia pun resmi diangkat menjadi bupati oleh Raden Mas Surojo yang memerintah sebagai Sultan Hamengku Buwono III.

Tan Jin Sing kemudian dianugerahi gelar bangsawan Raden Tumenggung Secodiningrat, menjadikannya orang Tionghoa pertama yang menjabat sebagai bupati di Jawa.

Setelah resmi menjabat, mantan Kapiten Cina ini memutuskan untuk memeluk agama Islam dan menjalankan syariat khitan sebagai bagian dari identitas barunya.

Ia juga mengambil langkah simbolis dengan memotong taucang atau kuncir rambut panjangnya, yang selama ini menjadi ciri khas budaya masyarakat Tionghoa pada zaman tersebut.

Selama menjalankan tugasnya sebagai pejabat pemerintah, Tan Jin Sing aktif membantu berbagai urusan administratif yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.

Sekitar tahun 1813, sebuah informasi berharga ia sampaikan kepada Raffles mengenai adanya laporan dari seorang mandor di Desa Bumisegoro tentang bangunan besar di pedalaman.

Kabar mengenai struktur bangunan kuno tersebut seketika memicu rasa penasaran Raffles yang memang sangat mencintai sejarah dan arsitektur kuno di Jawa.

Kala itu, kondisi bangunan yang kini kita kenal sebagai Borobudur tersebut hampir tidak diketahui masyarakat luas karena tertutup tanah dan semak belukar yang rimbun.

Raffles kemudian memberikan instruksi kepada Tan Jin Sing untuk melakukan peninjauan langsung ke lokasi bersama penduduk lokal yang memahami medan tersebut.

Sesampainya di lokasi, Tan sangat terkejut melihat sebuah monumen megah yang berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan tidak terawat.

Hampir seluruh bagian bangunan purbakala itu tertimbun tanah serta ditumbuhi tanaman liar karena sudah ditinggalkan selama berabad-abad oleh masyarakat.

Warga setempat yang ikut mendampingi Tan Jin Sing menyebut bangunan misterius yang mereka temukan itu dengan nama Borobudur.

Berdasarkan catatan T.S. Werdoyo dalam buku biografi Tan Jin Sing, bangunan tersebut diperkirakan sudah berusia lebih dari seratus tahun saat pertama kali ditemukan kembali.

Setelah menerima laporan mendalam dari Tan Jin Sing, Raffles segera mengambil tindakan untuk melakukan proses penggalian dan restorasi tahap awal.

Proyek besar ini melibatkan arkeolog asal Belanda bernama Christian Cornelius, yang sudah berpengalaman dalam menangani situs-situs bersejarah di wilayah Jawa.

Proses pembukaan lahan tersebut dilakukan secara besar-besaran dengan melibatkan tenaga kerja yang cukup banyak dari masyarakat sekitar.

Berikut adalah detail keterlibatan tim yang melakukan pembersihan awal situs Borobudur berdasarkan catatan sejarah:

  • Tim ini dipimpin secara teknis oleh arkeolog Christian Cornelius atas perintah langsung dari Raffles.
  • Tan Jin Sing berperan sebagai koordinator lapangan yang menghubungkan pihak kolonial dengan masyarakat lokal.
  • Sebanyak kurang lebih 200 warga desa dikerahkan untuk membabat semak belukar dan menggali tanah yang menimbun candi.
  • Pekerjaan fisik tersebut dilakukan secara intensif selama kurang lebih dua minggu hingga struktur asli candi mulai terlihat.

Berkat upaya keras tim tersebut, kemegahan asli struktur Borobudur akhirnya mulai menampakkan diri kembali ke permukaan dunia.

Sejak momen bersejarah itu, situs yang sebelumnya nyaris menjadi puing-puing terlupakan mulai mendapatkan perhatian internasional sebagai salah satu warisan dunia paling berharga.

Borobudur Sebagai Pusat Spiritual Dunia

Penemuan kembali oleh Tan Jin Sing ini tidak hanya menyelamatkan fisik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

Kini, Candi Borobudur telah menjadi lokasi utama bagi umat Buddha dari seluruh penjuru dunia untuk merayakan Hari Raya Waisak setiap tahunnya.

Pemilihan lokasi ini sangat tepat karena Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia yang menyimpan filosofi mendalam mengenai perjalanan hidup manusia.

Struktur bangunannya yang bertingkat mencerminkan tingkatan alam semesta dalam ajaran Buddha, mulai dari dunia penuh nafsu hingga pencapaian kesempurnaan jiwa.

Rangkaian kegiatan suci yang rutin dilaksanakan di kawasan Candi Borobudur mencakup beberapa prosesi berikut:

  • Ritual pengambilan api abadi dari sumber alami sebagai simbol penerangan jiwa.
  • Pengambilan air suci yang kemudian disemayamkan dan didoakan sebagai simbol pembersihan diri.
  • Prosesi jalan kaki massal atau Pradaksina yang mengelilingi candi searah jarum jam.
  • Pelepasan ribuan lampion ke langit malam sebagai simbol permohonan perdamaian dan pencerahan bagi seluruh umat manusia.

Kegiatan-kegiatan tersebut menegaskan posisi Borobudur bukan sekadar objek wisata, melainkan jantung spiritual yang tetap berdenyut hingga masa kini.

Dari kisah Tan Jin Sing, kita dapat belajar bahwa pelestarian sejarah seringkali bermula dari sebuah informasi sederhana dan kerja keras bersama antar berbagai kalangan.

Warisan masa lalu ini sekarang menjadi kebanggaan bangsa yang terus dijaga kelestariannya agar bisa dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi