Mengenal Maqam Ibrahim sebagai Jejak Sejarah Pembangunan Ka'bah

Mengenal Maqam Ibrahim sebagai Jejak Sejarah Pembangunan Ka'bah
Foto: Ilustrasi Mengenal Maqam Ibrahim sebagai Jejak Sejarah Pembangunan Ka'bah.

Maqam Ibrahim merupakan bangunan kecil berbentuk kaca keemasan yang berdiri kokoh di dekat Ka'bah, Masjidil Haram. Banyak masyarakat Indonesia yang keliru mengartikan istilah ini sebagai lokasi penguburan atau makam.

Dilansir dari Cahaya, Maqam Ibrahim sebenarnya adalah tempat berdirinya Nabi Ibrahim AS saat membangun Baitullah. Dalam bahasa Arab, kata "maqam" secara harfiah memiliki arti tempat berdiri.

Situs ini menyimpan jejak sejarah yang mendalam mengenai proses peninggian bangunan Ka'bah. Simbol spiritual ini menjadi perhatian utama bagi jamaah yang melaksanakan ibadah haji maupun umrah di Tanah Suci.

Batu yang berada di dalam struktur tersebut berfungsi sebagai pijakan Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS. Menurut buku Tapak Sejarah Seputar Mekah-Madinah karya Muslim H. Nasution, batu ini memiliki keistimewaan.

Batu pijakan tersebut dapat bergerak naik dan turun sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Saat Nabi Ibrahim harus menyusun bagian atas dinding Ka'bah, batu itu akan meninggi secara otomatis.

Setelah pekerjaan konstruksi selesai, batu tersebut kembali turun ke posisi semula. Keberadaan bekas telapak kaki yang masih terlihat hingga sekarang dipercaya sebagai salah satu tanda kebesaran Allah SWT.

Detail Bekas Telapak Kaki

Berdasarkan buku 1001 Fakta Dahsyat Mukjizat Kota Makkah karya Asima Nur Salsabila, jejak kaki tersebut memiliki dimensi yang spesifik. Kedalaman bekas telapak kaki mencapai sekitar 10 sentimeter dengan panjang kurang lebih 27 sentimeter.

Jamaah masih dapat menyaksikan peninggalan ini secara langsung meski kini sudah dilindungi lapisan kaca dan logam. Pemerintah Arab Saudi memasang pelindung kristal berbentuk segi enam dengan ornamen emas demi menjaga keasliannya.

Langkah perlindungan ini juga bertujuan untuk mencegah praktik pengkultusan yang berlebihan oleh para jamaah. Posisi bangunan pelindung ini terletak di area yang strategis bagi jamaah yang baru saja menyelesaikan tawaf.

Kedudukan dalam Ibadah dan Al Quran

Keistimewaan situs ini tertuang secara jelas dalam Al Quran, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 125. Ayat tersebut mengandung perintah yang artinya:

"Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat."

Perintah ini menjadikan Maqam Ibrahim bukan hanya sekadar monumen sejarah, melainkan bagian dari syariat ibadah. Rasulullah SAW mencontohkan langsung anjuran shalat sunnah dua rakaat di belakang lokasi ini setelah tawaf.

Hadis riwayat Imam Muslim menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mendatangi Maqam Ibrahim dan membaca ayat tersebut sebelum shalat. Tradisi inilah yang hingga kini terus dijalankan oleh jutaan umat Islam dari seluruh dunia.

Simbol Tauhid dan Perubahan Posisi

Nilai spiritual Maqam Ibrahim berkaitan erat dengan sejarah penyebaran ajaran tauhid di Jazirah Arab. Nabi Ibrahim AS dianggap sebagai bapak para nabi yang membangun simbol ketaatan kepada Allah SWT di Makkah.

Dalam catatan sejarah, posisi Maqam Ibrahim awalnya berada sangat dekat dengan dinding Ka'bah. Perubahan terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab RA yang memindahkan posisinya sedikit menjauh.

Pemindahan tersebut bertujuan untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi arus jamaah tawaf. Hal ini dilakukan seiring dengan semakin banyaknya umat Islam yang berdatangan ke Masjidil Haram untuk beribadah.

Etika Berdoa di Masjidil Haram

Banyak ulama mengategorikan area di sekitar Maqam Ibrahim sebagai salah satu tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa. Oleh karena itu, kawasan ini selalu dipadati jamaah yang ingin mendekat setelah mengelilingi Ka'bah.

Namun, jamaah diingatkan untuk tetap menjaga adab dan tidak berdesakan secara berlebihan. Mengusap atau memegang pelindung maqam tidak dianjurkan jika sampai mengganggu ketertiban dan kenyamanan jamaah lainnya.

Di tengah pesatnya modernisasi di kawasan Masjidil Haram, Maqam Ibrahim tetap dipertahankan sebagai artefak yang hidup. Bangunan ini menjadi pengingat abadi akan pengorbanan dan keteguhan iman para nabi terdahulu.

Artikel terkait

Rekomendasi