Kabupaten Klaten di Jawa Tengah menyimpan keunikan melalui keberadaan sebuah dukuh bernama Mao. Nama pemukiman ini menjadi sorotan karena hanya terdiri dari tiga huruf, menjadikannya salah satu nama tempat terpendek di wilayah tersebut.
Dilansir dari Detik Travel, Dukuh Mao secara administratif terbagi menjadi dua wilayah meskipun menggunakan satu nama yang sama. Sebagian wilayah masuk ke dalam Desa Jambeyan di Kecamatan Karanganom, sementara sebagian lainnya merupakan bagian dari Desa Manjungan di Kecamatan Ngawen.
Lokasi geografis dukuh ini tergolong strategis karena berada di tepi Jalan Raya Klaten-Jatinom. Pemukiman tersebut berbatasan dengan objek wisata Umbul Susuan dan Jolotundo di sisi barat, sementara sisi lainnya dikelilingi oleh hamparan persawahan yang subur.
Meskipun memiliki nama yang identik, pembagian administratif Dukuh Mao cukup unik. Hal ini dikonfirmasi oleh Siti Rahayu (80), salah satu warga setempat yang telah menetap di sana sejak lahir.
"Yang selatan jalan sampai barat sana ikut Mao yang masuk Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen tapi yang Utara jalan masuk Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom. Tapi sama-sama namanya Mao," ujar Siti.
Siti mengaku tidak mengetahui secara pasti asal-usul nama tempat tinggalnya tersebut. Ia menyebutkan bahwa nama Mao sudah digunakan sejak dirinya lahir, tanpa ada catatan sejarah lisan yang pasti mengenai maknanya.
"Sejak saya lahir ya sudah Mao namanya. Apa dulu karena ada kucing bersuara mao-mao atau macan saya tidak tahu," tutur Siti.
Kepala Dusun (Kadus) 1 Desa Manjungan, Sugiartono, membenarkan bahwa Mao adalah nama dukuh terpendek di Klaten. Sebagai perbandingan, desa tetangga bernama Pepe masih memiliki empat huruf.
"Ya terpendek, sebelah ada Desa Pepe tapi masih empat huruf, sini cuma tiga huruf. Artinya apa, sejarahnya bagaimana saya tidak tahu," kata Sugiartono.
Menurut Sugiartono, wilayah Mao di kedua desa tersebut masing-masing hanya terdiri dari dua RT. Meskipun tidak ada cerita turun-temurun yang jelas, sebuah prasasti pernah ditemukan di dekat lokasi tersebut.
"Ada penemuan prasasti tapi namanya prasasti Abyananda, bukan Mao," ujar Sugiartono.
Analisis Sejarah dan Makna Bahasa Kawi
Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, memberikan analisis mendalam mengenai asal-usul nama tersebut. Menurutnya, nama Mao kemungkinan besar berakar dari bahasa Jawa Kawi yang merujuk pada hewan buas.
"Mao, Maung artinya harimau atau macan Jawa. Memang pernah ada temuan prasasti Mao tapi tidak menyebut kata Mao, prasasti itu menyebut kata bihara Abyananda dan sawah empat tampah (patok)," ungkap Hari.
Hari menjelaskan bahwa Prasasti Abyananda, yang juga sering disebut Prasasti Mao, ditemukan di tepi dukuh tersebut pada tahun 1962. Isinya berkaitan dengan penetapan lahan untuk mendanai vihara.
"Ditemukan di tepi Dukuh Mao Desa Jambeyan tahun 1962 yang isinya penetapan sebidang sawah empat tampah patok untuk membiayai vihara Abyananda. Penetapan dilakukan oleh istri Rakai Bawan," kata Hari.
Terdapat dua versi mengenai waktu pembuatan prasasti kuno tersebut. Berdasarkan kajian Sukarto Atmojo dan LCH Damais, prasasti itu berasal dari 17 Agustus 826 Masehi pada masa pemerintahan Raja Rakai Warak.
Namun, kajian ulang oleh EFEO Prancis dan BRIN pada 2019 menunjukkan penanggalan 3 September 857 Masehi. Waktu tersebut merujuk pada era kepemimpinan Raja Rakai Pikatan di zaman Mataram Kuno.
"Dalam bahasa Jawa kuno di kalangan epigraf Mao sering diartikan harimau atau macan Jawa atau Harimau. Mao sering disebut dalam prasasti-prasasti," kata Hari.