Umat Islam wajib meyakini enam perkara pokok yang dikenal sebagai rukun iman. Keenam pilar ini merupakan fondasi dasar dalam memahami serta menjalankan seluruh ajaran Islam secara utuh.
Dilansir dari Detikcom, rukun iman berfungsi sebagai pedoman utama untuk membentuk keyakinan seorang Muslim. Setiap poin di dalamnya memiliki urutan tetap dan mengandung makna mendalam bagi kehidupan beragama.
Dalam buku berjudul Bebas Tes Surga Atau Neraka karya Muh. Akbar Nasrulah, terdapat rincian mengenai enam rukun iman yang harus diimani oleh setiap individu Muslim.
Dasar paling utama dalam ajaran Islam adalah meyakini bahwa Allah SWT Maha Esa dan tidak memiliki sekutu. Keyakinan ini menuntut pengakuan bahwa Allah adalah Zat Maha Sempurna.
Sebagai Pencipta seluruh makhluk dari ketiadaan, Allah SWT memiliki sifat-sifat wajib yang perlu dipahami oleh setiap hamba. Beberapa di antaranya meliputi Wujud, Qidam, Baqa, Mukholafatu lil hawaditsi, dan Qiyamuhu binafsihi.
Wujud berarti Allah benar-benar ada, sementara Qidam menandakan Dia tidak memiliki permulaan. Sifat Baqa menunjukkan keberadaan-Nya yang kekal tanpa akhir.
2. Iman kepada Malaikat
Rukun iman kedua adalah memercayai keberadaan malaikat sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang berasal dari cahaya. Malaikat senantiasa patuh dalam menjalankan setiap perintah-Nya.
Beberapa malaikat yang wajib diketahui antara lain Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, Munkar dan Nakir, Raqib dan Atid, Malik, serta Ridwan.
3. Iman kepada Kitab
Keyakinan terhadap kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Al-Qur'an juga menjadi kewajiban bagi setiap Muslim. Kitab-kitab tersebut meliputi Zabur, Taurat, Injil, serta Al-Qur'an sebagai penyempurna.
Landasan mengenai adanya kitab-kitab terdahulu tertuang dalam Al-Qur'an surah Al-Mu'minun ayat 49 yang berbunyi:
┘ê┘Ä┘ä┘Ä┘é┘ÄÏ»┘Æ Ïº┘░Ϭ┘Ä┘è┘Æ┘å┘ÄϺ ┘à┘Å┘ê┘ÆÏ│┘Ä┘ë Ϻ┘ä┘Æ┘â┘ÉϬ┘░Ï¿┘Ä ┘ä┘ÄÏ╣┘Ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å┘à┘Æ ┘è┘Ä┘ç┘ÆÏ¬┘ÄÏ»┘Å┘ê┘Æ┘å┘Ä
Artinya: "Sungguh Kami benar-benar telah menganugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk."
4. Iman kepada Rasul
Rukun iman keempat mengharuskan umat Islam meyakini bahwa Allah SWT telah mengutus manusia-manusia pilihan sebagai rasul. Tugas utama para rasul adalah menyampaikan ajaran-Nya agar manusia tetap berada di jalan yang benar.
Mengenai kewajiban ini, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim saat Nabi Muhammad SAW menjawab pertanyaan Malaikat Jibril mengenai iman:
┘é┘ÄϺ┘ä┘Ä: ┘ü┘ÄÏú┘ÄÏ«┘ÆÏ¿┘ÉÏ▒┘Æ┘å┘É┘è Ï╣┘Ä┘å┘É Ïº┘ä┘ÆÏÑ┘É┘è┘Æ┘à┘ÄϺ┘å┘ÉÏî ┘é┘ÄϺ┘ä┘Ä: Ïú┘Ä┘å┘Æ Ï¬┘ÅÏñ┘Æ┘à┘É┘å┘Ä Ï¿┘ÉϺ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É ┘ê┘Ä┘à┘Ä┘ä┘ÄϺϪ┘É┘â┘ÄϬ┘É┘ç┘É ┘ê┘Ä┘â┘ÅϬ┘ÅÏ¿┘É┘ç┘É ┘ê┘ÄÏ▒┘ÅÏ│┘Å┘ä┘É┘ç┘É ┘ê┘ÄϺ┘ä┘Æ┘è┘Ä┘ê┘Æ┘à┘É Ïº┘äÏóÏ«Ï▒Ïî ┘ê┘ÄϬ┘ÅÏñ┘Æ┘à┘É┘å┘Ä Ï¿┘ÉϺ┘ä┘Æ┘é┘ÄÏ»┘ÆÏ▒┘É Ï«┘Ä┘è┘ÆÏ▒┘É┘ç┘É ┘ê┘Ä┘é┘ÄÏ▒┘É┘ç┘É ┘é┘ÄϺ┘ä┘Ä: ÏÁ┘ÄÏ»┘Ä┘é┘ÆÏ¬┘Ä.
Artinya: "Malaikat Jibril berkata, 'Ceritakanlah kepadaku tentang iman! Nabi menjawab, 'Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, rasul-rasul Allah, Hari Kiamat, serta ketentuan baik dan buruk dari Allah.' Jibril kemudian berkata, 'Kamu benar!"
5. Iman kepada Hari Akhir
Meyakini hari akhir atau kiamat merupakan rukun iman kelima. Hari tersebut ditandai dengan kehancuran seluruh alam semesta dan menjadi momen pertanggungjawaban atas setiap amal perbuatan manusia di dunia.
Perintah untuk mengimani akhirat tercantum dalam surah Al-Baqarah ayat 4:
┘ê┘ÄϺ┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘Æ┘å┘Ä ┘è┘ÅÏñ┘Æ┘à┘É┘å┘Å┘ê┘Æ┘å┘Ä Ï¿┘É┘à┘ÄϺ┘ô Ϻ┘Å┘å┘ÆÏ▓┘É┘ä┘Ä Ïº┘É┘ä┘Ä┘è┘Æ┘â┘Ä ┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ┘ô Ϻ┘Å┘å┘ÆÏ▓┘É┘ä┘Ä ┘à┘É┘å┘Æ ┘é┘ÄÏ¿┘Æ┘ä┘É┘â┘Ä █Ü ┘ê┘ÄÏ¿┘ÉϺ┘ä┘ÆÏº┘░Ï«┘ÉÏ▒┘ÄÏ®┘É ┘ç┘Å┘à┘Æ ┘è┘Å┘ê┘Æ┘é┘É┘å┘Å┘ê┘Æ┘å┘Ä█ù
Artinya: "dan mereka yang beriman pada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat."
6. Iman kepada Qada dan Qadar
Rukun iman yang terakhir adalah meyakini takdir Allah SWT, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Hal ini ditegaskan dalam surah Al-Qamar ayat 49:
Artinya: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran."
Qada dipahami sebagai ketetapan Allah SWT yang sudah ditentukan sejak zaman azali atau sebelum alam semesta diciptakan. Sementara itu, qadar merupakan realisasi nyata dari ketetapan tersebut dalam kehidupan makhluk.