Memahami Keuntungan dan Risiko Investasi Saham Bagi Pemula

Memahami Keuntungan dan Risiko Investasi Saham Bagi Pemula
Foto: Ilustrasi Memahami Keuntungan dan Risiko Investasi Saham Bagi Pemula.

Menempatkan dana pada instrumen investasi tertentu selalu membawa potensi keuntungan sekaligus risiko kerugian yang tidak terelakkan. Hal ini juga berlaku sepenuhnya bagi para investor yang memilih instrumen saham sebagai aset mereka.

Dikutip dari Investortrust, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada dua bentuk keuntungan utama yang dapat dinikmati pemegang saham. Dua manfaat tersebut meliputi pembagian laba atau dividen serta selisih kenaikan harga atau capital gain.

Sebaliknya, para pemodal juga harus siap menghadapi potensi risiko yang membayangi. Risiko tersebut mencakup kerugian akibat penurunan harga jual (capital loss) hingga kemungkinan terburuk berupa risiko likuidasi apabila perusahaan tersebut ditutup.

Dividen merupakan bentuk distribusi laba perusahaan yang dialokasikan kepada setiap pemegang saham. Pemberian ini berasal dari keuntungan bersih yang berhasil dibukukan oleh emiten dalam periode tertentu.

Perusahaan dapat menyalurkan dividen dalam dua bentuk, yakni tunai maupun saham. Dividen tunai berarti investor menerima sejumlah uang tunai untuk setiap lembar saham yang dimiliki, sementara dividen saham menambah jumlah lot saham investor secara otomatis.

Selain dividen, investor bisa mendapatkan profit melalui capital gain yang terbentuk dari dinamika perdagangan di pasar sekunder. Keuntungan ini muncul ketika harga jual saham lebih tinggi dibandingkan harga saat pembelian awal dilakukan.

Sebagai contoh, jika seorang pemodal membeli saham pada harga Rp3.000 dan berhasil menjualnya di angka Rp3.500, maka ia mengantongi capital gain sebesar Rp500 per saham. Mekanisme inilah yang sering dimanfaatkan untuk mengejar keuntungan jangka pendek.

Sisi Risiko dalam Investasi Saham

Potensi kerugian atau capital loss terjadi saat investor terpaksa menjual asetnya di bawah harga perolehan. Kondisi ini biasanya dipicu oleh tren penurunan harga saham di pasar yang berlangsung secara terus-menerus.

Misalnya, seseorang membeli saham seharga Rp2.000 per lembar, namun nilainya merosot hingga Rp1.400. Apabila investor memutuskan untuk menjualnya pada titik terendah tersebut, maka ia akan menanggung kerugian sebesar Rp600 untuk tiap lembarnya.

Risiko likuidasi menjadi ancaman paling serius karena tidak semua emiten mampu menjaga kesehatan finansial secara konsisten. Ketika sebuah perusahaan dinyatakan bangkrut, hak klaim bagi pemegang saham berada di urutan terakhir setelah kewajiban lainnya dipenuhi.

Jika proses penjualan aset perusahaan masih menyisakan dana setelah seluruh utang dilunasi, sisa tersebut akan dibagikan secara proporsional kepada pemodal. Namun, pemegang saham terancam tidak mendapatkan apa pun jika seluruh kekayaan perusahaan habis untuk membayar kewajiban.

Artikel terkait

Rekomendasi