Deretan sangkar burung berwarna-warni tersusun rapat di sepanjang jalan sempit selebar sekitar empat meter di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Dari ruang terbatas itu, suara kicau burung terdengar nyaris tanpa henti, menciptakan suasana khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Pasar Burung Jatinegara berada di kawasan Pasar Hewan, tepatnya di Jalan Kemuning Mede, RT 10 RW 1, Rawa Bunga, Jatinegara. Lokasinya berada di sisi kiri jalan jika melaju dari arah Jalan Matraman menuju Jalan Bekasi Barat.
Pasar ini merupakan bagian dari Pasar Hewan Jatinegara, salah satu pasar tradisional yang telah lama dikenal sebagai pusat perdagangan satwa peliharaan, pakan, hingga perlengkapan perawatan hewan. Dalam catatan sejarah, pasar ini bahkan disebut telah beroperasi sejak sekitar tahun 1770-an, saat masih berada di depan gerbang Benteng Belanda Meester Cornelis, nama Jatinegara pada masa kolonial.
Sejak dari luar, aktivitas pasar sudah tampak mencolok. Deretan pedagang memenuhi trotoar Jalan Matraman dengan kandang-kandang berisi berbagai hewan, mulai dari kucing, ikan hias, kura-kura, hingga hewan eksotis seperti monyet, bunglon, dan ular. Namun, suasana berubah saat memasuki area pasar burung. Kicauan terdengar bersahut-sahutan, berpadu dengan suara kepakan sayap dari dalam sangkar. Aktivitas tawar-menawar pun menjadi pemandangan sehari-hari.
"Ada yang lebih murah, Bang?" tanya seorang pengunjung.
Pedagang kemudian menyebutkan harga sambil menjelaskan kualitas burung, mulai dari usia, jenis pakan, hingga karakter suara. Pada Kamis (30/4/2026), tampak deretan lapak pedagang membentang sekitar 60 meter, membentuk lorong sempit yang dipenuhi sangkar burung bertingkat. Sebagian sangkar digantung tinggi hingga mendekati atap terpal biru, sementara lainnya disusun rapat di rak kayu dan kawat. Sebagian pedagang menempati kios berukuran kecil, sekitar 2x3 meter hingga 3x4 meter.
Tidak sedikit pula pedagang yang membuka lapak di pinggir lorong dengan menjejerkan sangkar di depan kios. Aroma khas kandang burung pun terasa kuat, perpaduan bau pakan, pasir, dan kotoran hewan yang bercampur dengan udara lembap dari lantai yang basah di beberapa titik. Meski demikian, suasana ini sudah menjadi bagian dari keseharian pasar. Di salah satu kios, terlihat burung hantu berdiri diam dalam kandang. Tubuhnya kokoh, bermata besar, dengan bulu cokelat muda berbintik. Di sekelilingnya, terdapat berbagai jenis burung hias dan burung kicau, serta beberapa kandang ayam hias.
Kondisi pasar yang padat membuat pengunjung harus berjalan berhati-hati. Lorong sempit, sangkar yang menjorok, serta lalu lalang pedagang dan pembeli membuat ruang gerak terbatas. Namun, suasana ini justru menjadi ciri khas pasar burung yang masih bertahan di tengah maraknya jual beli daring. Salah satu karyawan kios, Riski, mengungkapkan bahwa burung yang ia jajakan didatangkan dari berbagai wilayah di Pulau Jawa.
"Macam-macam. Ada parkit Australia, burung hantu, lovebird, perkutut, dan lain-lain," kata Riski, karyawan kios.
Riski menambahkan bahwa pemilik kios tempatnya bekerja sudah lama menggantungkan hidup di sini, bahkan jauh sebelum ia bergabung untuk membantu operasional sehari-hari.
"Kebanyakan dari Solo, hasil ternakan. Bukan tangkapan liar," ujar Riski, karyawan kios.
Ia merinci bahwa setiap jenis burung memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda dalam hal pemeliharaan harian, terutama untuk jenis burung pemangsa yang mulai populer di kalangan pembeli.
"Kurang lebih sama, tapi lebih susah. Harus lebih hati-hati dan tidak bisa disatukan dengan burung lain karena bisa dimakan," kata Riski, karyawan kios.
Berdasarkan keterangan Riski, burung hantu memerlukan asupan nutrisi berupa daging segar setidaknya dua kali dalam sehari, sementara tren di pasar saat ini masih tetap didominasi oleh kelompok burung hias tertentu.
"Biasanya dari warna. Semakin langka warnanya, semakin mahal," ujar Riski, karyawan kios.
Harga yang ditawarkan di pasar ini cukup kompetitif dan sangat bergantung pada keunikan masing-masing individu burung yang dipajang di etalase sangkar.
"Sekarang lebih ramai saat weekend saja. Hari biasa cenderung sepi," kata Riski, karyawan kios.
Bertahan di Tengah Redupnya Keramaian
Penurunan jumlah pengunjung juga dirasakan oleh para pedagang lain yang sudah bertahun-tahun menghuni lorong-lorong sempit di Jatinegara ini. Ari, salah satu pedagang, mengenang masa-masa keemasan di mana pasar ini selalu penuh sesak oleh manusia dari ujung ke ujung.
"Sudah tidak seramai dulu. Dulu sampai penuh ke belakang, sekarang berkurang," ujar Ari, pedagang burung.
Ari sendiri menyediakan berbagai pilihan bagi para penghobi, mulai dari burung berukuran kecil hingga jenis burung yang memiliki kicauan merdu yang harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
"Yang biasa sekitar Rp 150.000, yang bagus bisa sampai Rp 400.000," kata Ari, pedagang burung.
Di balik transaksi yang terjadi, ada risiko besar yang harus ditanggung oleh para pedagang. Menjual burung bukanlah perkara mudah seperti menjual benda mati, karena kesehatan satwa menjadi variabel utama kesuksesan usaha mereka.
"Burung bisa stres dan mati. Ini usaha ÔÇÿnyawaÔÇÖ, bukan barang mati," kata Mamat, pedagang burung.
Mamat menjelaskan bahwa menjaga kondisi psikis burung agar tidak mudah stres adalah tantangan yang harus ia hadapi setiap hari agar tidak merugi.
"Biasanya penyakit sama stres. Kalau burung stres, bisa nggak mau makan, bahkan mati," ujar Mamat, pedagang burung.
Perawatan rutin menjadi kunci utama, termasuk kebersihan sanitasi kandang yang harus selalu dijaga agar burung-burung tetap sehat dan lincah saat dilihat calon pembeli.
"Harus rajin dibersihkan kandangnya, kasih makan yang sesuai, sama jangan terlalu sering diganggu," kata Mamat, pedagang burung.
Meski banyak jenis baru bermunculan, Mamat mencatat bahwa minat pasar masih sering kembali pada jenis-jenis klasik yang memang memiliki komunitas perlombaan yang kuat.
"Sekarang sih murai sama lovebird, karena sering dipakai lomba," ujar Mamat, pedagang burung.
Lebih dari Sekadar Tempat Jual Beli
Bagi para pelanggan setia, Pasar Burung Jatinegara telah bertransformasi menjadi ruang interaksi sosial yang hangat. Nuno, seorang warga lokal, sering menghabiskan waktu luangnya di sini hanya untuk menikmati suasana tanpa ada tekanan untuk selalu membawa pulang burung baru.
"Saya kalau ke sini sebenarnya nggak selalu beli, kadang cuma lihat-lihat aja. Tapi enaknya di sini pilihannya banyak," kata Nuno, pengunjung.
Interaksi antara pedagang dan pembeli di sini seringkali lebih dalam daripada sekadar tawar-menawar harga, di mana edukasi mengenai hobi burung menjadi bagian dari percakapan.
"Pedagangnya juga ramah, kita bisa tanya-tanya soal perawatan, pakan yang cocok, atau cara adaptasi burung baru," ujar Nuno, pengunjung.
Suasana hiruk-pikuk yang bagi orang awam mungkin dianggap bising, justru bagi Nuno merupakan bentuk relaksasi tersendiri dari penatnya rutinitas kota.
"Kalau saya, datang ke sini itu kayak refreshing juga. Banyak suara burung, ramai tapi tetap seru," kata Nuno, pengunjung.
Preferensi untuk datang langsung ke lokasi juga dimiliki oleh Rifa. Baginya, melihat kondisi fisik satwa secara langsung adalah hal yang mutlak dan tidak bisa digantikan oleh transaksi digital.
"Kami sengaja ke sini karena lebih lengkap. Kalau beli online kadang enggak sesuai, tapi kalau ke sini kita bisa lihat langsung kondisi burungnya sehat atau enggak," ujar Rifa, pengunjung.
Kelengkapan ekosistem hobi di Jatinegara menjadi alasan utama mengapa pasar ini tetap relevan bagi masyarakat dari berbagai daerah penyangga Jakarta.
"Di sini bukan cuma burung, tapi pakan, vitamin, kandang, sampai aksesorinya juga lengkap," ujar Rifa, pengunjung.
Sisi lain dari pasar ini adalah perannya sebagai wadah silaturahmi antarpenghobi. Ferdi melihat pasar ini sebagai titik temu di mana informasi mengenai seluk-beluk perawatan burung mengalir dengan bebas.
"Kalau ke sini juga bisa ketemu teman-teman sesama penghobi. Kadang tukar info, ngobrol soal lomba atau cara rawat burung biar gacor," kata Ferdi, pengunjung.
Baginya, nilai sosial yang terkandung dalam setiap sudut pasar ini jauh lebih besar daripada sekadar nilai ekonomis komoditas yang diperdagangkan.
"Menurut saya pasar burung itu bukan cuma tempat jual beli, tapi juga tempat silaturahmi," ujar Ferdi, pengunjung.
Edukasi Keluarga dan Pengawasan Konservasi
Fenomena pasar legendaris ini juga merambah ke generasi muda. Rika, seorang mahasiswa, tergerak untuk mengunjungi pasar ini setelah melihat potongan video pendek di platform media sosial yang menunjukkan keunikan lokasinya.
"Saya lihat di TikTok katanya Pasar Burung Jatinegara ini lumayan terkenal, jadi saya pengin lihat langsung. Ternyata memang ramai dan banyak pilihan burung yang unik-unik," kata Rika, pengunjung.
Kunjungan tersebut membuka matanya bahwa memelihara seekor burung memerlukan komitmen dan pengetahuan yang mendalam mengenai kebutuhan satwa tersebut.
"Saya jadi tahu ternyata perawatan burung itu detail ya. Ada pakan khusus, ada vitamin, ada kandang yang beda-beda," ujar Rika, pengunjung.
Tak jauh dari Rika, ada Yuni yang sengaja membawa sang buah hati. Baginya, pasar ini adalah laboratorium hidup yang lebih baik daripada sekadar menatap layar gawai di rumah.
"Saya ajak anak ke sini biar dia lihat langsung. Dia kan suka hewan, jadi sekalian jalan-jalan edukasi juga. Daripada main gadget terus," kata Yuni, pengunjung.
Yuni mengapresiasi keragaman spesies yang bisa dilihat langsung oleh anaknya dalam satu kawasan yang terintegrasi.
"Di sini lengkap banget. Burungnya banyak, jenisnya macam-macam," ujar Yuni, pengunjung.
Sikap kooperatif para pedagang dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan polos dari anak-anak juga menjadi nilai tambah bagi pengalaman wisata edukasi keluarganya.
"Pedagangnya juga baik-baik. Anak saya tanya burung ini makan apa, yang itu cara rawatnya gimana, dijelasin sama penjualnya," ujar Yuni, pengunjung.
Meski pasar ini menjadi denyut nadi ekonomi, aspek legalitas dan perlindungan satwa tetap menjadi perhatian serius otoritas berwenang. BKSDA Jakarta terus memantau aktivitas di pasar ini untuk memastikan tidak ada pelanggaran terhadap undang-undang konservasi.
"Satwa diamankan dan dititiprawatkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur untuk penanganan lebih lanjut," ujar Marwan Shofa, Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I BKSDA Jakarta.
Marwan menekankan bahwa ada pergeseran perilaku yang positif baik dari sisi pedagang maupun masyarakat dalam memandang satwa yang dilindungi.
"Para pedagang dan penghobi mulai semakin memahami pentingnya mematuhi ketentuan, khususnya dengan tidak memperjualbelikan atau memelihara jenis burung yang dilindungi," kata Marwan Shofa, Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I BKSDA Jakarta.
Namun, perspektif berbeda muncul dari komunitas pengamat burung. Ady Kristanto menyoroti perbedaan mendasar antara menikmati keindahan burung dalam sangkar dengan mengamatinya di habitat asli.
"Kalau dari pengamatan komunitas pengamat burung, suasana di sana berbeda dengan kami, karena kami mengamati satwa di alam, mereka menikmati burung di dalam sangkar," kata Ady Kristanto, Koordinator Komunitas Pengamat Burung Urban Jakarta.
Ady juga menyuarakan kekhawatiran terkait asal-usul burung yang dipasarkan, mengingat masih adanya celah bagi oknum untuk memasok burung hasil tangkapan liar dari ruang hijau perkotaan.
"Terkadang di sana ada beberapa oknum yang kami tahu suka menangkap burung di taman-taman kota dan menjualnya di pasar burung. Banyak oknum yang tidak jujur," ujar Ady Kristanto, Koordinator Komunitas Pengamat Burung Urban Jakarta.
Ia mendorong adanya sistem yang lebih transparan agar pembeli mengetahui secara pasti apakah burung yang mereka beli benar-benar hasil penangkaran atau bukan.
"Saat ini harapan dari kami adalah kejujuran terkait sumber satwa yang dijual, apakah benar hasil pengembangbiakan atau penangkapan di alam," kata Ady Kristanto, Koordinator Komunitas Pengamat Burung Urban Jakarta.
Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian alam, Ady menyarankan adanya regulasi yang mewajibkan pengembalian sebagian hasil penangkaran ke alam liar guna menjaga keseimbangan ekosistem.
"Semisal hasil pengembangbiakan, semoga 20 persen dari hasil pengembangbiakan tersebut bisa dilepaskan kembali ke alam," ujar Ady Kristanto, Koordinator Komunitas Pengamat Burung Urban Jakarta.