Wisatawan yang mengunjungi Tembok Besar China kini tidak perlu lagi khawatir kelaparan saat berada di titik pendakian yang sulit dijangkau. Inovasi terbaru memungkinkan pengiriman makanan dilakukan menggunakan teknologi drone langsung ke area wisata tersebut.
Fenomena ini sempat menjadi perbincangan hangat setelah sebuah video viral menunjukkan seorang turis memesan makanan saat merasa lapar di tengah perjalanan. Tak lama berselang, sebuah pesawat tanpa awak mendarat membawa pesanan ke lokasi wisatawan di kawasan Badaling.
Dikutip dari Tekno, layanan pengantaran canggih ini dikelola oleh Meituan, perusahaan platform pesan-antar makanan terkemuka asal China. Layanan ini menjadi solusi bagi medan Tembok Besar yang dikenal sangat menguras tenaga dan sulit diakses oleh kendaraan konvensional.
Melalui sistem ini, pengunjung dapat memesan beragam kebutuhan harian seperti makanan, minuman, hingga perlengkapan medis. Pengiriman dilakukan melalui rute yang telah ditentukan dari depo pendaratan menuju menara pengawas di sepanjang jalur situs warisan dunia UNESCO tersebut.
Keunggulan utama penggunaan drone ini terletak pada efisiensi waktu yang sangat signifikan. Jika sebelumnya kurir manusia membutuhkan waktu sekitar 50 menit dengan berjalan kaki untuk mencapai lokasi, drone Meituan mampu menempuh jarak yang sama hanya dalam durasi 5 menit.
Pesawat nirawak yang dioperasikan memiliki kapasitas angkut beban hingga 2,3 kilogram untuk setiap kali penerbangan. Teknologi ini tidak hanya mempercepat proses logistik, tetapi juga memudahkan akses logistik di wilayah dengan topografi yang menantang bagi manusia.
Layanan drone di Tembok Besar China ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2024 dan mencatatkan diri sebagai rute pengiriman udara pertama di wilayah Beijing. Pada masa awal pengoperasiannya, Meituan sempat memberikan layanan secara cuma-cuma sebagai bagian dari uji coba kepada publik.
Saat ini, konsumen hanya dikenakan biaya pengiriman sebesar 4 yuan atau setara dengan Rp 10.000 saja. Tarif tersebut dinilai sangat kompetitif karena tidak jauh berbeda dengan ongkos kirim standar yang berlaku untuk layanan pengantaran darat biasa di perkotaan.
Langkah inovatif Meituan ini sejalan dengan ambisi pemerintah China dalam memperkuat konsep ekonomi ketinggian rendah atau low-altitude economy. Strategi ini memanfaatkan ruang udara di bawah ketinggian 1.000 meter untuk berbagai aktivitas komersial dan transportasi barang.
Selain di Beijing, pengembangan infrastruktur udara serupa mulai merambah ke berbagai kota lain di China. Berbagai perusahaan teknologi tinggi kini tengah mengoperasikan puluhan rute drone yang telah melayani ratusan ribu pengiriman barang untuk menjangkau area-area terpencil atau sulit dilalui.