Bulan terbesar milik planet Jupiter, Ganymede, kembali memicu perhatian para ilmuwan. Sebuah studi terbaru mengindikasikan bahwa medan magnet unik yang dimiliki Ganymede tidak diproduksi oleh inti yang mendingin.
Seperti dilansir dari Media Indonesia, fenomena magnetik tersebut diduga kuat berasal dari proses pembentukan inti dalam yang masih terus berjalan hingga sekarang. Data ini mematahkan teori lama yang beredar di kalangan peneliti.
Sebelumnya, para pakar astronomi memercayai bahwa medan magnet Ganymede tercipta akibat konveksi salju besi pada bagian inti logam cairnya. Namun, riset mutakhir dalam jurnal Science Advances menyodorkan bukti baru bahwa struktur inti satelit alami tersebut justru masih tumbuh secara perlahan.
Ganymede memegang predikat sebagai satu-satunya bulan di tata surya yang menyimpan medan magnet internal aktif. Pada umumnya, sistem magnetik benda langit terlahir melalui mekanisme dinamo magnetik, yaitu pergerakan fluida penghantar listrik berupa besi cair di dalam inti.
Bagi mayoritas planet dan bulan lain, fase pembentukan inti telah rampung sejak miliaran tahun silam sehingga medan magnet global mereka perlahan sirna. Planet Mars menjadi salah satu contoh nyata benda langit yang kini tidak lagi memiliki dinamo magnetik aktif.
Melalui penerapan model evolusi termal satu dimensi, tim peneliti mensimulasikan beragam variabel interior Ganymede. Simulasi tersebut mencakup parameter volume air, komposisi awal material, hingga dampak dari pemanasan pasang surut.
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa interior Ganymede kemungkinan besar mengawali sejarahnya dengan fase awal dingin. Kondisi ini berimplikasi pada lambatnya proses pemisahan besi dan pembentukan inti, tetapi tetap bergerak aktif sampai era modern.
Berdasarkan model tersebut, material besi cair secara bertahap senantiasa tenggelam menuju pusat bumi dan mengaduk logam cair di sekitarnya. Aktivitas mekanis inilah yang menjaga dinamo magnetik Ganymede tetap bertahan selama miliaran tahun.
Sumber Energi internal dan Perbandingan Eksoplanet
Para ilmuwan mengidentifikasi bahwa pasokan panas yang merawat proses konveksi itu bersumber dari peluruhan isotop radioaktif. Selain itu, energi gravitasi dari akumulasi pembentukan inti dan pemanasan pasang surut turut mengambil peran krulial.
Model riset ini mengasumsikan Ganymede mengusung sistem inti Fe-FeS yang memiliki titik leleh jauh lebih rendah ketimbang kombinasi besi lainnya. Karakteristik ini mempermudah fluida untuk tetap bergerak.
Temuan ilmiah ini sekaligus memberikan perspektif baru mengenai jalan evolusi bulan-bulan lain yang mengitari Jupiter. Para peneliti memproyeksikan bahwa satelit Europa melewati proses evolusi internal yang cenderung lebih hangat.
Sebaliknya, satelit Callisto diperkirakan berkembang dalam temperatur yang jauh lebih dingin. Perbedaan iklim internal tersebut membuat Callisto sangat sulit untuk mempertahankan dinamo magnetik yang aktif.
Studi komprehensif ini membuka cakrawala baru bahwa pematangan inti planet atau bulan tidak selalu tuntas pada masa awal kelahiran tata surya. Proses geologis ini dapat memakan waktu yang sangat panjang dan terus mendikte dinamika internal benda langit.