Masyarakat Osing Banyuwangi Menggelar Tradisi Tumpeng Sewu

Masyarakat Osing Banyuwangi Menggelar Tradisi Tumpeng Sewu
Foto: Ilustrasi Masyarakat Osing Banyuwangi Menggelar Tradisi Tumpeng Sewu.

Ribuan warga adat dan pelancong memadati sepanjang jalan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, untuk merayakan tradisi turun-temurun Tumpeng Sewu pada Kamis malam, 21 Mei 2026.

Acara tahunan yang diselenggarakan menjelang Hari Raya Idul Adha ini menyajikan makanan khas suku Osing di sepanjang jalan pemukiman. Momentum kebersamaan tersebut dimanfaatkan oleh para pelancong domestik hingga mancanegara untuk mencicipi kuliner lokal bernama pecel pitik, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Sajian kuliner ini memikat para pelancong asing yang sedang berkunjung ke kawasan tersebut karena keunikan rasa dan keramahan masyarakat setempat.

"Beruntung saya bisa menjadi bagian dari tradisi ini. Makanannya enak, cocok di lidah. Masyarakatnya juga sopan dan ramah," kata wisatawan asal Republik Ceko, Adam.

Antusiasme serupa juga disampaikan oleh pelancong domestik yang mengapresiasi kerukunan warga adat Kemiren dalam merawat warisan leluhur mereka secara bersama-sama.

"Warganya rukun dan guyub. Masakannya juga lezat. Tadi sampai nambah dua kali," ujarnya Ati, wisatawan domestik asal Semarang.

Kegiatan selamatan desa ini berfungsi sebagai representasi rasa syukur kolektif masyarakat Osing atas keselamatan dan rezeki yang diperoleh sepanjang tahun. Setiap kepala keluarga memasak tumpeng berlauk pecel pitik, yaitu olahan ayam kampung panggang dengan lumuran parutan kelapa berbumbu khusus.

Pemerintah daerah setempat mengapresiasi pelaksanaan festival adat ini karena mencerminkan nilai-nilai solidaritas sosial yang kuat di masyarakat.

"Ini adalah bagian kekuatan lokal yang akan terus kita promosikan. Budaya gotong royong seperti ini tidak dimiliki semua daerah. Ini merupakan kelebihan Desa Kemiren yang harus terus dilestarikan," ujar Ipuk Fiestiandani, Bupati Banyuwangi.

Solidaritas sosial yang tercermin lewat penyediaan ribuan porsi makanan secara sukarela oleh warga ini juga dinilai selaras dengan esensi Idul Adha.

Sebelum acara makan bersama dimulai, masyarakat melaksanakan ritual Ider Bumi dengan mengarak Barong dari arah timur dan barat menuju depan Balai Desa Kemiren. Setelah itu, warga melangsungkan doa bersama demi keselamatan lingkungan, serta menggelar tradisi mepe kasur dan pembacaan naskah kuno Mocoan Lontar Yusup semalam suntuk.

Pemerintah desa menegaskan bahwa seluruh rangkaian ritual ini merupakan bentuk permohonan agar wilayah mereka dijauhkan dari marabahaya.

"Ini merupakan wujud syukur kami kepada Allah atas limpahan rezeki selama satu tahun, sekaligus doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindarkan dari bala," terang Muhammad Arifin, Kepala Desa Kemiren.

Artikel terkait

Rekomendasi